Meski beda sikap soal Iran, Israel masih intim dengan AS
Senin, 11 November 2013 - 23:56 WIB
Meski beda sikap soal Iran, Israel masih intim dengan AS
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Israel, Shimon Peres, pada Senin (11/11/2013), berusaha meredakan ketegangan antara Israel dan Amerika Serikat (AS), karena perbedaan sikap kedua negara mengenai kesepakatan dengan Iran.
"Amerika adalah sahabat terbaik kita. Persahabatan adalah mendalam dan bermakna," kata Peres, seperti dikutip dari Xinhua. Ia mengakui kepercayaannya terhadap Presiden AS Barack Obama dan Menteri Luar Negeri Kerry untuk bertindak dalam isu Iran.
Menurutnya, adalah hal yang wajar bagi Israel dan AS untuk memiliki perbedaan pendapat. Ia juga menegaskan kembali posisi Israel, bahwa sanksi terhadap Iran tidak hanya untuk kepentingan Israel, tapi untuk " demi kemanusiaan”.
Sejak Jumat pekan lalu, ketika Kerry meninggalkan Israel untuk melakukan pembicaraan antara negara P5 +1 dan Iran di Jenewa, Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyatakan beberapa perbedaan pendapat tentang kesepakatan yang diusulkan.
Netanyahu mengatakan, bahwa ia menyadari ketentuan perjanjian yang diusulkan antara Iran dan P5 +1 terhadap apa yang Kerry katakan sebelumnya, bahwa Netanyahu tidak tahu rincian dan karena itu ia tidak dapat menilai perjanjian.
"Apa yang sekarang di atas meja adalah kesepakatan di mana Iran mempertahankan kemampuannya," kata Netanyahu. "Iran akan mampu menjaga ton uranium, diperkaya pada tingkat rendah. Mereka bisa membuat bom atom dalam beberapa bulan atau minggu,” lanjutnya.
"Amerika adalah sahabat terbaik kita. Persahabatan adalah mendalam dan bermakna," kata Peres, seperti dikutip dari Xinhua. Ia mengakui kepercayaannya terhadap Presiden AS Barack Obama dan Menteri Luar Negeri Kerry untuk bertindak dalam isu Iran.
Menurutnya, adalah hal yang wajar bagi Israel dan AS untuk memiliki perbedaan pendapat. Ia juga menegaskan kembali posisi Israel, bahwa sanksi terhadap Iran tidak hanya untuk kepentingan Israel, tapi untuk " demi kemanusiaan”.
Sejak Jumat pekan lalu, ketika Kerry meninggalkan Israel untuk melakukan pembicaraan antara negara P5 +1 dan Iran di Jenewa, Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyatakan beberapa perbedaan pendapat tentang kesepakatan yang diusulkan.
Netanyahu mengatakan, bahwa ia menyadari ketentuan perjanjian yang diusulkan antara Iran dan P5 +1 terhadap apa yang Kerry katakan sebelumnya, bahwa Netanyahu tidak tahu rincian dan karena itu ia tidak dapat menilai perjanjian.
"Apa yang sekarang di atas meja adalah kesepakatan di mana Iran mempertahankan kemampuannya," kata Netanyahu. "Iran akan mampu menjaga ton uranium, diperkaya pada tingkat rendah. Mereka bisa membuat bom atom dalam beberapa bulan atau minggu,” lanjutnya.
(esn)