Sekolah di Suriah ini buka, meski perang berkecamuk
Rabu, 02 Oktober 2013 - 15:09 WIB
Sekolah di Suriah ini buka, meski perang berkecamuk
A
A
A
Sindonews.com - Di sebuah kota yang dilanda perang sipil Suriah, Aleppo, Abu Hussein, seorang pengjar bergegas melangkah cepat ke sekolah. Sedangkan, Ali, bocah yang semula berjalan beiringan, memilih berhenti sejenak untuk membeli sekantong keripik kentang.
”Kau akan terlambat!,” cerca Hussein. Ali adalah salah satu dari ribuan bocah di Aleppo, yang hendak ke sekolah untuk menimba ilmu dari para pendidik seperti Abu Hussein. Dia mengajar di sebuah sekolah di zona industri Sheikh Najjar di pinggiran kota utara Aleppo, Suriah.
”Pembukaan kembali sekolah-sekolah ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan,” kata Abu Hussein. ”Ini normal, bahkan jika perang berlanjut,” katanya lagi.
”Anak-anak daerah ini telah mengalami nasib putus sekolah, dan kami memutuskan untuk membuka sekolah di zona industri ini, sehingga mereka tidak akan kehilangan lebih banyak sekolah,” lanjut Abu Hussein.
Mengutip laporan AFP, Rabu (2/10/2013), ketika perang saudara Suriah pecah di Aleppo pada Juli 2012, sebagian besar sekolah dan universitas dipaksa untuk tutup. Selama musim dingin, lembaga klandestin dan darurat yang didirikan oleh pasukan pemberontak, mencoba membuka sekolah agar anak-anak di Aleppo bisa terus belajar.
“Tapi sebagian besar anak-anak telah kehilangan waktu satu tahun sekolah,” ujar Abu Hussein , seorang pria beruban berusia 30-an, yang berjuang agar ratusan anak di Aleppo bisa terus sekolah. ”Kami tidak memiliki cukup buku , satu buku untuk tiga siswa, dan orang-orang kita memiliki buku edisi lama dari tahun lalu.”
Tak jauh dari sekolah tempat Hussein mengajar, ada sekolah lain yang didirikan oleh pemberontak dan LSM Suriah untuk 200 siswa. ”Kita perlu buku tulis, pensil dan peralatan sekolah lainnya. Tapi kami percaya bahwa kita harus membuka kelas, sehingga anak-anak tidak menghabiskan 24 jam sehari dengan konsumsi perang dan pemboman,” kata kepala sekolah Abu Mohammed.
Kondisi yang lebih sulit dialami sekolah di lingkungan al-Dawla Saif, hanya beberapa ratus meter dari salah satu zona berbahaya di Allepo. Hebatnya, sekolah itu juga tetap buka meski perang berkecamuk.
”Peluru terus turun setiap hari, tapi kita berdoa kepada Allah, tidak ada yang akan jatuh ke sekolah,” kata Ahmed Saleh, 22, mantan mahasiswa jurusan matematika yang memilih menjadi guru di sekolah itu. Sekolah itu dibuka berkat dukungan dari Liwa al-Tauhid, pemberontak Suriah yang dekat dengan Kelompok Ikhwanul Muslimin.
”Banyak sekolah bawah tanah telah ditutup, jadi kami memutuskan untuk membuka sekolah-sekolah lama,” tutur Saleh. Untuk bisa sampai ke sekolah, bukan hal gampang. Dia harus menyelundupkan buku-buku atau materi pelajaran ke wilayah yang dikuasai tentara rezim Presiden Bashar al-Assad. ”Kami menghabiskan satu bulan untuk menyelundupkan buku-buku, sehingga kami bisa membuka kelas,” ujar Saleh.
Mereka belajar bahasa Inggris, matematika, agama dan bahasa Arab. ” Siswa kami tidak belajar geografi atau sejarah. Kami membuang buku-buku karena penuh dengan propaganda rezim dan kami tidak ingin mereka belajar kebohongan,” kata guru lainnya, bernama Ali.
”Kau akan terlambat!,” cerca Hussein. Ali adalah salah satu dari ribuan bocah di Aleppo, yang hendak ke sekolah untuk menimba ilmu dari para pendidik seperti Abu Hussein. Dia mengajar di sebuah sekolah di zona industri Sheikh Najjar di pinggiran kota utara Aleppo, Suriah.
”Pembukaan kembali sekolah-sekolah ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan,” kata Abu Hussein. ”Ini normal, bahkan jika perang berlanjut,” katanya lagi.
”Anak-anak daerah ini telah mengalami nasib putus sekolah, dan kami memutuskan untuk membuka sekolah di zona industri ini, sehingga mereka tidak akan kehilangan lebih banyak sekolah,” lanjut Abu Hussein.
Mengutip laporan AFP, Rabu (2/10/2013), ketika perang saudara Suriah pecah di Aleppo pada Juli 2012, sebagian besar sekolah dan universitas dipaksa untuk tutup. Selama musim dingin, lembaga klandestin dan darurat yang didirikan oleh pasukan pemberontak, mencoba membuka sekolah agar anak-anak di Aleppo bisa terus belajar.
“Tapi sebagian besar anak-anak telah kehilangan waktu satu tahun sekolah,” ujar Abu Hussein , seorang pria beruban berusia 30-an, yang berjuang agar ratusan anak di Aleppo bisa terus sekolah. ”Kami tidak memiliki cukup buku , satu buku untuk tiga siswa, dan orang-orang kita memiliki buku edisi lama dari tahun lalu.”
Tak jauh dari sekolah tempat Hussein mengajar, ada sekolah lain yang didirikan oleh pemberontak dan LSM Suriah untuk 200 siswa. ”Kita perlu buku tulis, pensil dan peralatan sekolah lainnya. Tapi kami percaya bahwa kita harus membuka kelas, sehingga anak-anak tidak menghabiskan 24 jam sehari dengan konsumsi perang dan pemboman,” kata kepala sekolah Abu Mohammed.
Kondisi yang lebih sulit dialami sekolah di lingkungan al-Dawla Saif, hanya beberapa ratus meter dari salah satu zona berbahaya di Allepo. Hebatnya, sekolah itu juga tetap buka meski perang berkecamuk.
”Peluru terus turun setiap hari, tapi kita berdoa kepada Allah, tidak ada yang akan jatuh ke sekolah,” kata Ahmed Saleh, 22, mantan mahasiswa jurusan matematika yang memilih menjadi guru di sekolah itu. Sekolah itu dibuka berkat dukungan dari Liwa al-Tauhid, pemberontak Suriah yang dekat dengan Kelompok Ikhwanul Muslimin.
”Banyak sekolah bawah tanah telah ditutup, jadi kami memutuskan untuk membuka sekolah-sekolah lama,” tutur Saleh. Untuk bisa sampai ke sekolah, bukan hal gampang. Dia harus menyelundupkan buku-buku atau materi pelajaran ke wilayah yang dikuasai tentara rezim Presiden Bashar al-Assad. ”Kami menghabiskan satu bulan untuk menyelundupkan buku-buku, sehingga kami bisa membuka kelas,” ujar Saleh.
Mereka belajar bahasa Inggris, matematika, agama dan bahasa Arab. ” Siswa kami tidak belajar geografi atau sejarah. Kami membuang buku-buku karena penuh dengan propaganda rezim dan kami tidak ingin mereka belajar kebohongan,” kata guru lainnya, bernama Ali.
(mas)