Temui SBY, Abbott bergeming soal kebijakan 'manusia perahu'

Selasa, 01 Oktober 2013 - 13:39 WIB
Temui SBY, Abbott bergeming...
Temui SBY, Abbott bergeming soal kebijakan 'manusia perahu'
A A A
Sindonews.com - Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, mengatakan, Australia tetap dengan kebijakannya dalam upaya menghalau laju para pencari suaka atau “manusia perahu”. Hal itu disampaikan Abbott, di hari keduanya berkunjung ke Jakarta, untuk bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Selasa (1/10/2013).

Abbott mengabaikan ketegangan diplomatik antara Indonesia dengan Australia. Ketegangan itu dipicu, rencana Abbott untuk menempatkan polisi-polisi Australia di wilayah Indonesia untuk menghalau laju “manusia perahu”. Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, dengan tegas menolak kebijakan Abbott itu, dengan alasan bisa mengusik kedaulatan Indonesia.

”Tentu saja kami berdiri dengan kebijakan kami. Tapi di atas segalanya, kita ingin bekerja efektif untuk menghentikan perahu (pencari suaka),” kata Abbott, yang menambahkan, bahwa Australia akan bekerja sama dengan Indonesia.

Sekitar 400 awak kapal pencari suaka telah tiba di Australia selama 12 bulan terakhir dan sekitar 45.000 pencari suaka telah tiba sejak akhir 2007. Pemerintah Australia, akhir-akhir ini memperketat akses untuk para pencari suaka. Bahkan, penanganan para pencari suaka menjadi misi utama Abbott, seperti yang dia sampaikan saat kampanye pemilu Australia lalu.

Sementara itu, mengutip laporan Reuters, pertemuan Abbott dengan SBY lebih didominasi pembahasan soal rencana Indonesia untuk berinvestasi di bidang peternakan sapi di Australia. Investasi itu, juga untuk membantu mengakhiri sengketa perdagangan yang telah mengacaukan harga daging sapi di Indonesia.

”Jika beberapa perusahaan patungan Indonesia berinvestasi pada peternakan sapi, silakan. Ini penting untuk memulihkan kembali iklim perdagangan,” ujar Abbott.

Kata Abbott, investasi asing di peternakan Australia merupakan isu sensitif. Dia telah berjanji untuk melakukan pengawasan yang lebih besar terhadap investasi asing di negaranya, dalam bidang pertanian.

”Ini tidak dirancang untuk mengunci negara kita,” katanya. ”Ini dirancang untuk memastikan bahwa orang-orang Australia memahami bahwa investasi yang kita miliki, juga dimiliki asing.”
(mas)
Berita Terkait
Tetap Bangga, Suporter...
Tetap Bangga, Suporter Lantunkan Nyanyian Terima Kasih untuk Timnas Indonesia U-23
Viral ! Suporter Timnas...
Viral ! Suporter Timnas Indonesia U-23 Salat Berjamaah Sebelum Lawan Australia
Indonesia jadi Tuan...
Indonesia jadi Tuan Rumah Forum Indonesia-Afrika
Omicron Masuk Indonesia,...
Omicron Masuk Indonesia, Ini Kata Epidemiolog Universitas Indonesia
Jokowi Janji ke Timnas...
Jokowi Janji ke Timnas RI untuk Buatkan Training Center
Lezatnya Aneka Kuliner...
Lezatnya Aneka Kuliner Jawa di Event Warisan Budaya Indonesia
Berita Terkini
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Lagi, Padahal Telah Setuju Gencatan Senjata yang Dimediasi AS
50 menit yang lalu
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Pangkalan AS di Kuwait Hancur usai Serangan Iran
2 jam yang lalu
Dicecar Apakah Israel...
Dicecar Apakah Israel Memiliki Senjata Nuklir? Ini Jawaban Menlu AS Marco Rubio
2 jam yang lalu
Selain Memaki, Trump...
Selain Memaki, Trump Juga Disebut Ancam Netanyahu via Istrinya atas Rencana Israel di Lebanon
3 jam yang lalu
AS Bohong, Kapal Induk...
AS Bohong, Kapal Induk Gerald R Ford Ternyata Rusak Parah saat Perang Lawan Iran, Ini Buktinya!
3 jam yang lalu
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
4 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved