Rusia geram laporan PBB dipakai untuk salahkan Suriah
Selasa, 17 September 2013 - 10:04 WIB
Rusia geram laporan PBB dipakai untuk salahkan Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, kompak menyalahkan rezim Suriah atas laporan investigasi senjata kimia yang dilakukan tim PBB. Rusia geram dengan kesimpulan tiga negara itu, dan tetap membela sekutunya, Suriah.
Rusia menganggap ada yang janggal, jika laporan itu disimpulkan untuk menyalahkan rezim Pemerintah Bashar al-Assad. Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, menyebut kesimpulan tiga negara Barat yang menyudutkan Assad sudah melompat jauh.
”Saya pikir beberapa rekan (negara-negara Barat) membuat kesimpulan yang melompat, dengan menyebut laporan tersebut secara definitif membuktikan jika pasukan Pemerintah Suriah yang menggunakan senjata kimia,” kata Churkin, seperti dikutip BBC, Selasa (17/9/2013).
”Tuduhan yang sebenarnya itu, adalah oposisi yang menggunakan senjata kimia,”lanjut dia. Churkin mempertanyakan mengapa tidak ada pejuang pemberontak yang menjadi korban, jika serangan itu dilakukan Pemerintah Assad.
Namun, Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, tegas menyebut laporan PBB sebagai bukti rezim Assad bersalah. ”Dari paparan detail dalam laporan PBB, termasuk skala serangan, konsistensi hasil tes sampel laboratorium, keterangan saksi, dan informasi mengenai amunisi yang dipakai, sangat jelas bahwa rezim Suriah adalah satu-satunya pihak yang bisa bertanggung jawab,” kata Hague.
Dubes AS untuk PBB, Samantha Power, juga berpendapat senada. ”Rincian teknis dari laporan PBB, menujukkan hal yang jelas bahwa, hanya rezim (Suriah) yang bisa melakukan serangan senjata kimia dalam skala besar ini,” ujar Samantha.
Menurutnya, roket berukuran 122mm, seperti laporan PBB identik dengan senjata pasukan Suriah. Bahkan, kualitas gas sarin yang digunakan, katanya, lebih berbahaya ketimbang yang digunakan Saddam Hussein di Irak.
Begitu halnya komentar Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, yang ikut menyudutkan rezim Suriah. ”Ketika Anda melihat temuan itu, jumlah gas beracun yang digunakan, kompleksitas campuran, sifat, dan lintasan operator, tidak ada keraguan dari mana asal serangan senjata itu,” ucapnya yang mengacu pada kesalahan Assad.
Sekjen PBB, Ban Ki-moon, sendiri menyatakan PBB tetap netral. Laporan investigasi tim PBB, katanya, hanya menunjukkan jika senjata kimia memang digunakan di Suriah. Tapi, dia tidak bersedia menyebut siapa pelaku atau yang bersalah dalam serangan di dekat Damaskus itu, karena bukan wewenangnya.
”Atas dasar analisis, saya kutip laporan tim investigasi PBB, bahwa bukti-bukti jelas dan meyakinkan, jika roket yang mengandung gas sarin digunakan dalam serangan di Ein Tarma, Moadamiyah dan Zalmalka di daerah Ghouta, dekat Damaskus,” kata Ki-moon.
Rusia menganggap ada yang janggal, jika laporan itu disimpulkan untuk menyalahkan rezim Pemerintah Bashar al-Assad. Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, menyebut kesimpulan tiga negara Barat yang menyudutkan Assad sudah melompat jauh.
”Saya pikir beberapa rekan (negara-negara Barat) membuat kesimpulan yang melompat, dengan menyebut laporan tersebut secara definitif membuktikan jika pasukan Pemerintah Suriah yang menggunakan senjata kimia,” kata Churkin, seperti dikutip BBC, Selasa (17/9/2013).
”Tuduhan yang sebenarnya itu, adalah oposisi yang menggunakan senjata kimia,”lanjut dia. Churkin mempertanyakan mengapa tidak ada pejuang pemberontak yang menjadi korban, jika serangan itu dilakukan Pemerintah Assad.
Namun, Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, tegas menyebut laporan PBB sebagai bukti rezim Assad bersalah. ”Dari paparan detail dalam laporan PBB, termasuk skala serangan, konsistensi hasil tes sampel laboratorium, keterangan saksi, dan informasi mengenai amunisi yang dipakai, sangat jelas bahwa rezim Suriah adalah satu-satunya pihak yang bisa bertanggung jawab,” kata Hague.
Dubes AS untuk PBB, Samantha Power, juga berpendapat senada. ”Rincian teknis dari laporan PBB, menujukkan hal yang jelas bahwa, hanya rezim (Suriah) yang bisa melakukan serangan senjata kimia dalam skala besar ini,” ujar Samantha.
Menurutnya, roket berukuran 122mm, seperti laporan PBB identik dengan senjata pasukan Suriah. Bahkan, kualitas gas sarin yang digunakan, katanya, lebih berbahaya ketimbang yang digunakan Saddam Hussein di Irak.
Begitu halnya komentar Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, yang ikut menyudutkan rezim Suriah. ”Ketika Anda melihat temuan itu, jumlah gas beracun yang digunakan, kompleksitas campuran, sifat, dan lintasan operator, tidak ada keraguan dari mana asal serangan senjata itu,” ucapnya yang mengacu pada kesalahan Assad.
Sekjen PBB, Ban Ki-moon, sendiri menyatakan PBB tetap netral. Laporan investigasi tim PBB, katanya, hanya menunjukkan jika senjata kimia memang digunakan di Suriah. Tapi, dia tidak bersedia menyebut siapa pelaku atau yang bersalah dalam serangan di dekat Damaskus itu, karena bukan wewenangnya.
”Atas dasar analisis, saya kutip laporan tim investigasi PBB, bahwa bukti-bukti jelas dan meyakinkan, jika roket yang mengandung gas sarin digunakan dalam serangan di Ein Tarma, Moadamiyah dan Zalmalka di daerah Ghouta, dekat Damaskus,” kata Ki-moon.
(esn)