PBB pastikan gas sarin digunakan dalam perang di Suriah
Selasa, 17 September 2013 - 03:13 WIB
PBB pastikan gas sarin digunakan dalam perang di Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Penyidik kimia PBB, pada Senin (16/9/2013), memastikan penggunaan gas beracun sarin dalam serangan 21 Agustus lalu di pinggiran Damaskus. Namun, PBB tak menyatakan siapa yang bertanggung jawab atas serangan senjata kimia itu.
"Atas dasar bukti yang diperoleh selama penyelidikan insiden Ghouta, kesimpulannya adalah, bahwa senjata kimia telah digunakan dalam konflik yang berkepanjangan antara pihak-pihak di Suriah. Senjata kimia itu juga digunakan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, dalam skala relatif besar," kata Sekjen PBB, Ban Ki-moon, seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan Ki-moon ini didasari pada laporan penyidik kimia PBB yang diketuai oleh ahli kimia Swedia, Ake Sellstrom. Sebelumnya, tim ini telah melakukan penyelidikan selama satu pekan di daerah yang diduga menjadi lokasi serangan senjata kimia. Tim ini juga menemui korban dan mengambil sampel dari korban selamat.
"Ini adalah penggunaan senjata kimia paling signifikan terhadap warga sipil, sejak Saddam Hussein menggunakannya dalam Halabja (Irak) pada 1988," lanjut Ki-moon. "Masyarakat internasional telah berjanji untuk mencegah kejadi horor tersebut berulang, namun nyatanya telah terjadi lagi," tambahnya.
Menurutnya, tim PBB sedang menyelidiki, apakah bahan kimia hanya digunakan dalam serangan mematikan di wilayah yang dikuasai pemberontak di Damaskus, atau juga digunakan di wilayah lain di Suriah.
"Secara khusus, sampel lingkungan, kimia, dan medis yang telah kami kumpulkan telah memberikan bukti yang jelas dan meyakinkan, bahwa roket permukaan ke permukaan yang mengandung gas saraf sarin telah digunakan," imbuh Ki-moon.
Laporan itu juga mengatakan, bahwa kondisi cuaca pada 21 Agustus membuat sebanyak mungkin orang terluka atau terbunuh. Menurut Ki-moon, saat serangan terjadi, suhu turun jauh, yang berarti bahwa udara bergerak ke bawah ke tanah.
"Atas dasar bukti yang diperoleh selama penyelidikan insiden Ghouta, kesimpulannya adalah, bahwa senjata kimia telah digunakan dalam konflik yang berkepanjangan antara pihak-pihak di Suriah. Senjata kimia itu juga digunakan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, dalam skala relatif besar," kata Sekjen PBB, Ban Ki-moon, seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan Ki-moon ini didasari pada laporan penyidik kimia PBB yang diketuai oleh ahli kimia Swedia, Ake Sellstrom. Sebelumnya, tim ini telah melakukan penyelidikan selama satu pekan di daerah yang diduga menjadi lokasi serangan senjata kimia. Tim ini juga menemui korban dan mengambil sampel dari korban selamat.
"Ini adalah penggunaan senjata kimia paling signifikan terhadap warga sipil, sejak Saddam Hussein menggunakannya dalam Halabja (Irak) pada 1988," lanjut Ki-moon. "Masyarakat internasional telah berjanji untuk mencegah kejadi horor tersebut berulang, namun nyatanya telah terjadi lagi," tambahnya.
Menurutnya, tim PBB sedang menyelidiki, apakah bahan kimia hanya digunakan dalam serangan mematikan di wilayah yang dikuasai pemberontak di Damaskus, atau juga digunakan di wilayah lain di Suriah.
"Secara khusus, sampel lingkungan, kimia, dan medis yang telah kami kumpulkan telah memberikan bukti yang jelas dan meyakinkan, bahwa roket permukaan ke permukaan yang mengandung gas saraf sarin telah digunakan," imbuh Ki-moon.
Laporan itu juga mengatakan, bahwa kondisi cuaca pada 21 Agustus membuat sebanyak mungkin orang terluka atau terbunuh. Menurut Ki-moon, saat serangan terjadi, suhu turun jauh, yang berarti bahwa udara bergerak ke bawah ke tanah.
(esn)