Pemerintah Suriah bantah pakai bom kimia di dekat Damaskus
Rabu, 21 Agustus 2013 - 15:27 WIB
Pemerintah Suriah bantah pakai bom kimia di dekat Damaskus
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Suriah membantah laporan para aktivis bahwa, serangan pada Rabu (21/8/2013) yang menewaskan lebih dari 200 orang, dilakukan dengan menggunakan bom kimia. Bantahan itu disampaikan melalui siaran televisi pemerintah, sesaat setelah insiden terjadi.
Stasiun televisi pemerintah mengutip sumber terkait, menyatakan, laporan para aktivis tentang penggunaan senjata kimia itu disengaja. Tujuannya, untuk mengganggu kunjungan tim PBB yang akan menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah. ”Tidak ada kebenaran (tentang pemakaian senjata kimia),” bunyi laporan stasiun televisi pemerintah Suriah, seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya para aktivis Suriah menuduh pasukan Presiden Bashar al-Assad meluncurkan serangan bom kimia berupa gas saraf, ke wilayah dekat Damaskus. Seorang juru rawat menyebut, korban tewas mencapai 213 orang.
Para aktivis mengatakan, serangan dilakukan dengan roket berbahan kimia, di pinggiran kota Ain Tarma, Zamalka dan Jobar, di wilayah Ghouta. Bayan Baker, seorang perawat di fasilitas darurat Douma, mengatakan jumlah korban tewas akibat serangan itu, mencapai 213 orang.
”Banyak korban adalah perempuan dan anak-anak. Mereka tiba dengan pupil melebar, tungkai dan busa dingin di mulut mereka. Para dokter mengatakan ini adalah gejala khas dari gas saraf,” kata Baker, seperti dikutip Reuters.
Stasiun televisi pemerintah mengutip sumber terkait, menyatakan, laporan para aktivis tentang penggunaan senjata kimia itu disengaja. Tujuannya, untuk mengganggu kunjungan tim PBB yang akan menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah. ”Tidak ada kebenaran (tentang pemakaian senjata kimia),” bunyi laporan stasiun televisi pemerintah Suriah, seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya para aktivis Suriah menuduh pasukan Presiden Bashar al-Assad meluncurkan serangan bom kimia berupa gas saraf, ke wilayah dekat Damaskus. Seorang juru rawat menyebut, korban tewas mencapai 213 orang.
Para aktivis mengatakan, serangan dilakukan dengan roket berbahan kimia, di pinggiran kota Ain Tarma, Zamalka dan Jobar, di wilayah Ghouta. Bayan Baker, seorang perawat di fasilitas darurat Douma, mengatakan jumlah korban tewas akibat serangan itu, mencapai 213 orang.
”Banyak korban adalah perempuan dan anak-anak. Mereka tiba dengan pupil melebar, tungkai dan busa dingin di mulut mereka. Para dokter mengatakan ini adalah gejala khas dari gas saraf,” kata Baker, seperti dikutip Reuters.
(esn)