Korban tewas demo di Mesir menjadi 74 orang
Minggu, 28 Juli 2013 - 13:55 WIB
Korban tewas demo di Mesir menjadi 74 orang
A
A
A
Sindonews.com - Jumlah korban tewas dalam demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Kairo dan sejumlah wilayah lain di Mesir, sejak Jumat, dan berlanjut pada Sabtu, bertambah menjadi 75 jiwa. Demikian diungkapkan Departemen Kesehatan Mesir, Minggu (28/7/2013).
"Jumlah korban tewas dalam bentrokan naik menjadi 74, dari jumlah itu sembilan dari Alexandria dan 65 orang lainnya di dekat alun-alun Rabia al-Adawiya di Ibu Kota Kairo," ungkap seorang pejabat Departemen Kesehatan seperti dilansir MENA, kantor berita Mesir. "Sementara jumlah korban luka-luka mencapai 748 jiwa," imbuhnya.
Bentrok besar itu pecah, setelah hakim di Mesir memerintahkan agar Mohamed Morsi (Presiden Mesir yang dilengserkan militer) dijebloskan ke penjara. Kelompok pro-Mohamed Morsi, Ikhwanul Muslimin Mesir, mengatakan, demonstran pendukung Morsi telah menjadi korban penembakan pasukan keamanan Mesir.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Mesir mengatakan, betrok besar yang berlangsung di Kairo sampai Alexandria awalnya berlangsung damai. Namun kemudiann menjadi ricuh karena dirusak loyalis Morsi, Ikhwanul Muslimin Mesir.
"Mereka berusaha menciptakan krisis di Kairo, Ikhwanul Muslimin Mesir melancarkan unjuk rasa dari Rabia al-Adawiya Square dan berusaha menghalau satu jembatan penting," ungkap Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Mesir, Jenderal Abdel-Latif Hani.
Latif mengatakan, Ikhwanul Muslimin Mesir membakar ban hingga memicu bentrok dengan penduduk Nasser Mansheyet dan petugas keamanan berusaha membuka jalan masuk jembatan yang ditutup. Latif menegaskan bahwa polisi tidak menggunakan peluru tajam untuk masa.
"Tidak ada senjata lain yang digunakan dalam konfrontasi ini, kecuali untuk bom gas air mata," ujarnya. Namun, Ikhwanul Muslimin Mesir dan kelompok lain yang berafiliasi tetap menyalahkan pasukan keamanan dan meminta mereka bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Berdasarkan hasil laporan media Rumah Sakit al- Adawiya Square, sejak pendukung Morsi melancarkan protes pada 28 Juni lalu, tercatat sudah 200 pendukung Morsi tewas. Sementara itu, lebih dari 4.500 pendukung Morsi mengalami luka-luka.
"Jumlah korban tewas dalam bentrokan naik menjadi 74, dari jumlah itu sembilan dari Alexandria dan 65 orang lainnya di dekat alun-alun Rabia al-Adawiya di Ibu Kota Kairo," ungkap seorang pejabat Departemen Kesehatan seperti dilansir MENA, kantor berita Mesir. "Sementara jumlah korban luka-luka mencapai 748 jiwa," imbuhnya.
Bentrok besar itu pecah, setelah hakim di Mesir memerintahkan agar Mohamed Morsi (Presiden Mesir yang dilengserkan militer) dijebloskan ke penjara. Kelompok pro-Mohamed Morsi, Ikhwanul Muslimin Mesir, mengatakan, demonstran pendukung Morsi telah menjadi korban penembakan pasukan keamanan Mesir.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Mesir mengatakan, betrok besar yang berlangsung di Kairo sampai Alexandria awalnya berlangsung damai. Namun kemudiann menjadi ricuh karena dirusak loyalis Morsi, Ikhwanul Muslimin Mesir.
"Mereka berusaha menciptakan krisis di Kairo, Ikhwanul Muslimin Mesir melancarkan unjuk rasa dari Rabia al-Adawiya Square dan berusaha menghalau satu jembatan penting," ungkap Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Mesir, Jenderal Abdel-Latif Hani.
Latif mengatakan, Ikhwanul Muslimin Mesir membakar ban hingga memicu bentrok dengan penduduk Nasser Mansheyet dan petugas keamanan berusaha membuka jalan masuk jembatan yang ditutup. Latif menegaskan bahwa polisi tidak menggunakan peluru tajam untuk masa.
"Tidak ada senjata lain yang digunakan dalam konfrontasi ini, kecuali untuk bom gas air mata," ujarnya. Namun, Ikhwanul Muslimin Mesir dan kelompok lain yang berafiliasi tetap menyalahkan pasukan keamanan dan meminta mereka bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Berdasarkan hasil laporan media Rumah Sakit al- Adawiya Square, sejak pendukung Morsi melancarkan protes pada 28 Juni lalu, tercatat sudah 200 pendukung Morsi tewas. Sementara itu, lebih dari 4.500 pendukung Morsi mengalami luka-luka.
(esn)