Pakistan: Ada beberapa tantangan dalam proses perdamaian Afghanistan
Kamis, 11 Juli 2013 - 22:15 WIB
Pakistan: Ada beberapa tantangan dalam proses perdamaian Afghanistan
A
A
A
Sindonews.com – Pakistan menyatakan, bahwa proses rekonsiliasi Afghanistan menghadapi banyak tantangan. Tetapi, semua pihak harus menunjukkan kesabaran untuk mencapai tujuan perdamaian. Demikian dinyatakan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Aizaz Ahmad Chuadhry, Kamis (11/7/2013).
Komentar itu muncul beberapa hari setelah Taliban Afghanistan menutup sementara kantor mereka di Doha, Qatar. Penutupan kantor ini menggagalkan harapan dari proses awal perdamaian yang telah lama ditunggu-tunggu.
"Pakistan berpandangan, bahwa rekonsiliasi adalah satu-satunya jalan ke depan untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke Afghanistan," kata Chuadhry, seperti dikutip dari Xinhua. Menurutnya, ada banyak tantangan dalam proses rekonsiliasi dan Pakistan selalu menyerukan kesabaran dan ketekunan untuk menyelesaikan masalah Afghanistan.
Kantor Taliban ditutup, setelah Presiden Afghanistan Hamid Karzai keberatan soal bendera putih Taliban dan nama yang mereka gunakan, "Emirat Islam Afghanistan". Nama itu digunakan Taliban saat berkuasa di Afghanistan pada 1996-2001.
Menurut Chuadhry, Pakistan tidak ingin menaikkan suhu dan ingin hubungan damai dengan negara tetangga. "Kami ingin melihat Afghanistan yang bersatu, damai, dan sejahtera, serta berharap bahwa ketulusan kami akan terbalas," lanjutnya.
Komentar itu muncul beberapa hari setelah Taliban Afghanistan menutup sementara kantor mereka di Doha, Qatar. Penutupan kantor ini menggagalkan harapan dari proses awal perdamaian yang telah lama ditunggu-tunggu.
"Pakistan berpandangan, bahwa rekonsiliasi adalah satu-satunya jalan ke depan untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke Afghanistan," kata Chuadhry, seperti dikutip dari Xinhua. Menurutnya, ada banyak tantangan dalam proses rekonsiliasi dan Pakistan selalu menyerukan kesabaran dan ketekunan untuk menyelesaikan masalah Afghanistan.
Kantor Taliban ditutup, setelah Presiden Afghanistan Hamid Karzai keberatan soal bendera putih Taliban dan nama yang mereka gunakan, "Emirat Islam Afghanistan". Nama itu digunakan Taliban saat berkuasa di Afghanistan pada 1996-2001.
Menurut Chuadhry, Pakistan tidak ingin menaikkan suhu dan ingin hubungan damai dengan negara tetangga. "Kami ingin melihat Afghanistan yang bersatu, damai, dan sejahtera, serta berharap bahwa ketulusan kami akan terbalas," lanjutnya.
(esn)