Oposisi Suriah dan koalisi bertemu untuk cari pemimpin
Kamis, 04 Juli 2013 - 14:35 WIB
Oposisi Suriah dan koalisi bertemu untuk cari pemimpin
A
A
A
Sindonews.com – Kelompok Oposisi Suriah yang terpecah-pecah, bertemu dengan Koalisi Nasional Suriah pada Kamis (4/7/2013). Pertemuan itu untuk mencari pemimpin baru dan membuktikan kepada Barat dan Arab, bahwa mereka bisa dipercaya untuk diberi bantuan senjata guna melawan Presiden Bashar al-Assad.
Ketidakmampuan oposisi untuk bersatu telah membuat negara-negara Barat enggan mengirim senjata. Namun, setelah AS dan para sekutunya memberi sinyal untuk memasok senjata, para kelompok Oposisi Suriah itu mulai berbenah. Para pemberontak Suriah itu terkepung pasukan loyalis Assad, di Kota Homs.
Sedangkan Koalisi Nasional Suriah tidak memiliki pemimpin, setelah ketuanya mengundurkan diri, karena tidak sepakat terkait rencana pembicaraan dengan Pemerintah Assad. ”Solusi terbaik adalah menciptakan sebuah dewan sipil-militer, dan pindah ke Suriah, dengan koalisi yang tersisa,” kata Kamal al-Labwani, anggota senior faksi iberal dari kubu koalisi, dikutip Reuters.
Negara-negara Barat menentang Assad, dan memprediksi pada tahun depan Suriah memiliki pemimpin baru. Tapi negara-negara itu mencemaskan kelangsungan hidup para pemberontak Suriah, setelah pejuang Hizbullah ikut membantu pasukan Assad untuk menguasai Kota Qusair dari tangan pemberontak.
Arab Saudi telah diprediksikan sebagai pendukung utama oposisi dan mulai mengirim senjata canggih ke kelompok pemberontak tersebut. ”Amerika akan sepakat terhadap dukungan Saudi. Pada awalnya peran militer AS minimal, tapi secara tidak langsung peran Washington besar,” kata seorang diplomat Barat kepada Reuters.
Ketidakmampuan oposisi untuk bersatu telah membuat negara-negara Barat enggan mengirim senjata. Namun, setelah AS dan para sekutunya memberi sinyal untuk memasok senjata, para kelompok Oposisi Suriah itu mulai berbenah. Para pemberontak Suriah itu terkepung pasukan loyalis Assad, di Kota Homs.
Sedangkan Koalisi Nasional Suriah tidak memiliki pemimpin, setelah ketuanya mengundurkan diri, karena tidak sepakat terkait rencana pembicaraan dengan Pemerintah Assad. ”Solusi terbaik adalah menciptakan sebuah dewan sipil-militer, dan pindah ke Suriah, dengan koalisi yang tersisa,” kata Kamal al-Labwani, anggota senior faksi iberal dari kubu koalisi, dikutip Reuters.
Negara-negara Barat menentang Assad, dan memprediksi pada tahun depan Suriah memiliki pemimpin baru. Tapi negara-negara itu mencemaskan kelangsungan hidup para pemberontak Suriah, setelah pejuang Hizbullah ikut membantu pasukan Assad untuk menguasai Kota Qusair dari tangan pemberontak.
Arab Saudi telah diprediksikan sebagai pendukung utama oposisi dan mulai mengirim senjata canggih ke kelompok pemberontak tersebut. ”Amerika akan sepakat terhadap dukungan Saudi. Pada awalnya peran militer AS minimal, tapi secara tidak langsung peran Washington besar,” kata seorang diplomat Barat kepada Reuters.
(esn)