Morsi tolak ultimatum militer agar penuhi tuntutan rakyat
Selasa, 02 Juli 2013 - 10:42 WIB
Morsi tolak ultimatum militer agar penuhi tuntutan rakyat
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Mesir pada Selasa (2/7/2013), menolak ultimatum militer agar dia memenuhi tuntutan rakyat Mesir yang memintanya lengser dari kursi presiden. Militer mengultimatum semua pihak, termasuk Presiden Morsi bahwa, dalam waktu 48 jam ia harus bertemu dengan rakyat dan memenuhi tuntutan mereka.
Jika tidak, militer mengancam akan melakukan intervensi untuk mengatasi krisis politik di negara itu. ”Jika tuntutan rakyat tidak dipenuhi dalam periode ini, (angkatan bersenjata) akan mengumumkan tindakan dan langkah-langkah untuk masa depan,” bunyi pernyataan militer Mesir, dikutip NBC News.
Namun dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan semalam, Presiden Morsi, menegaskan, bahwa ia melanjutkan jalannya sendiri menuju rekonsiliasi nasional.
”Negara Mesir yang demokratis adalah salah satu prestasi yang paling penting dari revolusi 25 Januari,” kata Presiden Morsi, mengacu pada pemberontakan 2011 yang menggulingkan diktator Hosni Mubarak.
”Mesir benar-benar tidak akan mengizinkan langkah mundur apapun kondisinya,” lanjut dia.
Ultimatumm militer itu muncul, hanya sehari setelah jutaan demonstran turun ke berbagai jalan di Mesir, pada Minggu (30/6/2013), yang menyerukan agar Morsi mundur dari Presiden Mesir.
Ultimatum pihak militer itu, disambut meriah dari para penentang Morsi yang masih berkemah di Tahrir Square, Kairo. Para penentang Morsi atau dikenal dengan sebutan Tamarod, memuji pernyataan militer yang mereka anggap sudah berpihak pada rakyat. ”Ini berarti akan ada pemilihan presiden,” kata Juru Bicara Tamarod, Mahmud Badr, kepada wartawan.
Usai pengumuman ultimatum militer itu, puluhan ribu demonstran bersorak ke berbagai jalan di kota-kota besar, salah satunya Kairo dan Alexandria. Di Tahrir, demonstran menyuarakan dukungan mereka kepada Panglima Militer dan Menteri Pertahanan, Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, sembari meneriakkan; ”Turunlah, Morsi bukan presiden saya.”
Jika tidak, militer mengancam akan melakukan intervensi untuk mengatasi krisis politik di negara itu. ”Jika tuntutan rakyat tidak dipenuhi dalam periode ini, (angkatan bersenjata) akan mengumumkan tindakan dan langkah-langkah untuk masa depan,” bunyi pernyataan militer Mesir, dikutip NBC News.
Namun dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan semalam, Presiden Morsi, menegaskan, bahwa ia melanjutkan jalannya sendiri menuju rekonsiliasi nasional.
”Negara Mesir yang demokratis adalah salah satu prestasi yang paling penting dari revolusi 25 Januari,” kata Presiden Morsi, mengacu pada pemberontakan 2011 yang menggulingkan diktator Hosni Mubarak.
”Mesir benar-benar tidak akan mengizinkan langkah mundur apapun kondisinya,” lanjut dia.
Ultimatumm militer itu muncul, hanya sehari setelah jutaan demonstran turun ke berbagai jalan di Mesir, pada Minggu (30/6/2013), yang menyerukan agar Morsi mundur dari Presiden Mesir.
Ultimatum pihak militer itu, disambut meriah dari para penentang Morsi yang masih berkemah di Tahrir Square, Kairo. Para penentang Morsi atau dikenal dengan sebutan Tamarod, memuji pernyataan militer yang mereka anggap sudah berpihak pada rakyat. ”Ini berarti akan ada pemilihan presiden,” kata Juru Bicara Tamarod, Mahmud Badr, kepada wartawan.
Usai pengumuman ultimatum militer itu, puluhan ribu demonstran bersorak ke berbagai jalan di kota-kota besar, salah satunya Kairo dan Alexandria. Di Tahrir, demonstran menyuarakan dukungan mereka kepada Panglima Militer dan Menteri Pertahanan, Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, sembari meneriakkan; ”Turunlah, Morsi bukan presiden saya.”
(esn)