Selidiki senjata kimia, tim PBB tak bisa masuk Suriah
Kamis, 27 Juni 2013 - 18:44 WIB
Selidiki senjata kimia, tim PBB tak bisa masuk Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Tim dari PBB tidak bisa memasuki wilayah Suriah untuk menyelidiki klaim keberadaan senjata kimia, baik yang dituduhkan digunakan rezim Presiden Bashar al-Assad maupun oleh pemberontak. Tim itu pun bertahan di Turki untuk mengumpulkan informasi tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia.
Demikian pernyataan pejabat PBB, Kamis (27/6/2013). Anggota tim dibentuk oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Mereka telah siaga di Siprus sejak April, namun tidak dapat masuk ke Suriah.
Kepala tim penyelidik adalah ilmuwan Swedia, Ake Sellstrom. ”Dia sudah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu pada Kamis,” kata seorang pejabat senior Turki kepada Reuters.
Pemerintah Suriah dan pemberontak selama ini saling menuduh telah menggunakan senjara kimia mematikan, termasuk gas sarin, dalam konflik selama dua tahun terakhir di Suriah.
Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, merilis data jumlah orang yang terbunuh dalam konflik di Suriah mencapai lebih dari 100 ribu orang. Menurut mereka, perang di Suriah merupakan peristiwa paling kejam dalam pemberontakan di Arab selama ini.
Dari Turki, tim mengklaim akan mampu untuk mengumpulkan sampel tanah atau bukti ilmiah yang diperlukan untuk membuktikan penggunaan senjata kimia, tapi tidak bisa mengkompilasi sampel darah dari saksi atau korban serangan yang dituduhkan.
”Karena dia tidak dapat melakukan perjalanan ke Suriah, Sellstrom mengunjungi negara seperti Turki, Perancis dan Inggris yang memiliki beberapa informasi tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia di Suriah,” kata pejabat Turki yang berbicara dengan syarat anonim.
Sellstrom mengunjungi wilayah perbatasan Turki-Suriah dan berbicara dengan pejabat yang berbagi data tentang penggunaan senjata kimia.
Suriah adalah salah satu dari tujuh negara yang belum bergabung dalam Konvensi Senjata Kimia 1997, tetapi diyakini memiliki stok senjata kimia, termasuk mustard, sarin dan agen saraf VX.
Demikian pernyataan pejabat PBB, Kamis (27/6/2013). Anggota tim dibentuk oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Mereka telah siaga di Siprus sejak April, namun tidak dapat masuk ke Suriah.
Kepala tim penyelidik adalah ilmuwan Swedia, Ake Sellstrom. ”Dia sudah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu pada Kamis,” kata seorang pejabat senior Turki kepada Reuters.
Pemerintah Suriah dan pemberontak selama ini saling menuduh telah menggunakan senjara kimia mematikan, termasuk gas sarin, dalam konflik selama dua tahun terakhir di Suriah.
Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, merilis data jumlah orang yang terbunuh dalam konflik di Suriah mencapai lebih dari 100 ribu orang. Menurut mereka, perang di Suriah merupakan peristiwa paling kejam dalam pemberontakan di Arab selama ini.
Dari Turki, tim mengklaim akan mampu untuk mengumpulkan sampel tanah atau bukti ilmiah yang diperlukan untuk membuktikan penggunaan senjata kimia, tapi tidak bisa mengkompilasi sampel darah dari saksi atau korban serangan yang dituduhkan.
”Karena dia tidak dapat melakukan perjalanan ke Suriah, Sellstrom mengunjungi negara seperti Turki, Perancis dan Inggris yang memiliki beberapa informasi tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia di Suriah,” kata pejabat Turki yang berbicara dengan syarat anonim.
Sellstrom mengunjungi wilayah perbatasan Turki-Suriah dan berbicara dengan pejabat yang berbagi data tentang penggunaan senjata kimia.
Suriah adalah salah satu dari tujuh negara yang belum bergabung dalam Konvensi Senjata Kimia 1997, tetapi diyakini memiliki stok senjata kimia, termasuk mustard, sarin dan agen saraf VX.
(esn)