Rusia tolak usul Obama untuk kurangi senjata nuklir
Kamis, 20 Juni 2013 - 16:24 WIB
Rusia tolak usul Obama untuk kurangi senjata nuklir
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia pada Rabu (19/6/2013), menyatakan, bahwa pihaknya tidak bisa menyambut usulan Presiden AS, Barack Obama untuk mengurangi senjata nuklir hingga sepertiga.
Sebelumnya, Obama mengajak Rusia mengurangi persenjataan nuklir mereka hingga sepertiga dari jumlah saat ini.
”Ini berarti (Obama) baik tidak memahami esensi (masalah), atau ia secara terbuka berbohong, atau dia sangat tidak profesional,” ucap Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin kepada wartawan.
Dalam pidatonya di Berlin, Obama menyerukan agar AS dan Rusia mengurangi senjata nuklir sepertiga dari totalnya. Usulan itu diklaim Obama untuk menjamin keamanan.
Berdasarkan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis, yang ditandatangani Obama dengan Rusia pada tahun 2010, Washington dan Moskow berkomitmen untuk memotong pasokan senjata nuklir sebesar 30 persen selama 10 tahun ke depan. Yakni, dari 2.200 buah saat ini, menjadi 1.550 buah.
Rogozin mengatakan, kedua negara tidak akan berbicara tentang perlucutan senjata nuklir sampai Moskow dan Washington menemukan bahasa yang sama. Atau, selama AS masih memiliki anti-rudal untuk pertahanan mereka.
”Dalam perkembangan sejarah, pembangunan perisai (tak) pernah terjadi tanpa pedang,” katanya, mengibaratkan, bahwa Rusia tidak percaya niat AS untuk membatasi senjata anti-rudal hanya dengan empat tahap.
Rogozin minta Moskow untuk tidak mengulangi tindakan sembrononya dengan melucuti senjata seperti yang dilakukan oleh Pemimpin Soviet pada era 1980 dan 1990. Ia menyebut, perjanjian yang ditandatangani antara Moskow dan Washington kala itu adalah perjanjian busuk.
Sebelumnya pada Rabu, Presiden Vladimir Putin mengatakan Rusia harus memperhitungkan kemungkinan serangan nuklir dalam strategi pertahanannya.
Sebelumnya, Obama mengajak Rusia mengurangi persenjataan nuklir mereka hingga sepertiga dari jumlah saat ini.
”Ini berarti (Obama) baik tidak memahami esensi (masalah), atau ia secara terbuka berbohong, atau dia sangat tidak profesional,” ucap Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin kepada wartawan.
Dalam pidatonya di Berlin, Obama menyerukan agar AS dan Rusia mengurangi senjata nuklir sepertiga dari totalnya. Usulan itu diklaim Obama untuk menjamin keamanan.
Berdasarkan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis, yang ditandatangani Obama dengan Rusia pada tahun 2010, Washington dan Moskow berkomitmen untuk memotong pasokan senjata nuklir sebesar 30 persen selama 10 tahun ke depan. Yakni, dari 2.200 buah saat ini, menjadi 1.550 buah.
Rogozin mengatakan, kedua negara tidak akan berbicara tentang perlucutan senjata nuklir sampai Moskow dan Washington menemukan bahasa yang sama. Atau, selama AS masih memiliki anti-rudal untuk pertahanan mereka.
”Dalam perkembangan sejarah, pembangunan perisai (tak) pernah terjadi tanpa pedang,” katanya, mengibaratkan, bahwa Rusia tidak percaya niat AS untuk membatasi senjata anti-rudal hanya dengan empat tahap.
Rogozin minta Moskow untuk tidak mengulangi tindakan sembrononya dengan melucuti senjata seperti yang dilakukan oleh Pemimpin Soviet pada era 1980 dan 1990. Ia menyebut, perjanjian yang ditandatangani antara Moskow dan Washington kala itu adalah perjanjian busuk.
Sebelumnya pada Rabu, Presiden Vladimir Putin mengatakan Rusia harus memperhitungkan kemungkinan serangan nuklir dalam strategi pertahanannya.
(esn)