Pembunuh sadis di Australia dihukum seumur hidup
Jum'at, 14 Juni 2013 - 14:56 WIB
Pembunuh sadis di Australia dihukum seumur hidup
A
A
A
Sindonews.com -Seorang pria jadi buronan paling dicari Pemerintah Australia pada Jumat (14/6/2013) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas pembunuhan brutal yang dilakukannya.
Malcolm Naden, buronan yang diburu polisi Australia selama tujuh tahun terakhir ini ditangkap di sebuah pondok terpencil di utara New South Wales (NSW) pada awal 2012. Ia mengaku bersalah mencekik dua ibu muda, Kristy Scholes dan sepupunya Lateesha Nolan, dalam insiden terpisah.
”Tuan Naden, Anda telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup,” kata Hakim Agung NSW Derek Price, 39, dikutip AFP. ”Anda tidak akan dibebaskan secara bersyarat setiap saat selama hukuman seumur hidup Anda.”
Price mengatakan, pembunuhan terhadap Scholes dilakukan di sebelah rumah kakek Naden. ”Pembunuhan tanpa ampun, berdarah dingin dan bermotif seksual perlu dapat hukuman seumur hidup,” ujarnya.
Menurut Price, Naden yang merupakan mantan pekerja rumah potong hewan, sudah diperiksa psikiater. Pelaku pembunuhan itu mengaku bermimpi membunuh sejak ia berusia 12 tahun, lalu dijalankan di sekitar rumah kakeknya beberapa tahun kemudian.
Di luar pengadilan, ayah Nolan, Mick Peet menggambarkan penderitaan selama delapan tahun setelah anaknya dibunuh secara sadis oleh Naden. ”(Seperti) berada dalam mimpi buruk dan Anda tidak bisa bangun,” katanya. ”Kami masih belum menemukan tubuh Lateesha,” lanjut dia.
Malcolm Naden, buronan yang diburu polisi Australia selama tujuh tahun terakhir ini ditangkap di sebuah pondok terpencil di utara New South Wales (NSW) pada awal 2012. Ia mengaku bersalah mencekik dua ibu muda, Kristy Scholes dan sepupunya Lateesha Nolan, dalam insiden terpisah.
”Tuan Naden, Anda telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup,” kata Hakim Agung NSW Derek Price, 39, dikutip AFP. ”Anda tidak akan dibebaskan secara bersyarat setiap saat selama hukuman seumur hidup Anda.”
Price mengatakan, pembunuhan terhadap Scholes dilakukan di sebelah rumah kakek Naden. ”Pembunuhan tanpa ampun, berdarah dingin dan bermotif seksual perlu dapat hukuman seumur hidup,” ujarnya.
Menurut Price, Naden yang merupakan mantan pekerja rumah potong hewan, sudah diperiksa psikiater. Pelaku pembunuhan itu mengaku bermimpi membunuh sejak ia berusia 12 tahun, lalu dijalankan di sekitar rumah kakeknya beberapa tahun kemudian.
Di luar pengadilan, ayah Nolan, Mick Peet menggambarkan penderitaan selama delapan tahun setelah anaknya dibunuh secara sadis oleh Naden. ”(Seperti) berada dalam mimpi buruk dan Anda tidak bisa bangun,” katanya. ”Kami masih belum menemukan tubuh Lateesha,” lanjut dia.
(esn)