Pasca permohonan maaf Israel ke Turki, Erdogan disanjung
Selasa, 26 Maret 2013 - 20:32 WIB
Pasca permohonan maaf Israel ke Turki, Erdogan disanjung
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah reklame besar dipampang oleh pemerintah Kota Ankara dan bertuliskan ucapan terima kasih pada Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, Selasa (26/3/2013). Ungkapan terima kasih pada Erdogan itu muncul, menyusul permintaan maaf israel pada Turki atas insiden penyerangan mematikan di atas kapal Mavi Marmara milik Turki pada 2010 lalu.
"Israel meminta maaf pada Turki. Perdana Menteri, kami bersyukur karena Anda telah memberikan sebuah pengalaman membanggakan kepada negara ini," bunyi kalimat yang terpampang dalam papan reklame, seperti dilansir Ynet.
Papan reklame itu muncul sehari setelah Isreal dan Turki melanjutkan pembicaraan untuk membahas kompensasi bagi para keluarga korban yang tewas dalam insiden tersebut. "Kini, delegasi Israel dan Turki tengah membahas masalah kompensasi pada keluarga korban. Dan, kami memulai membahasnya hari ini," ungkap Bulent Arinc, Wakil Perdana Menteri.
Sampai pekan lalu, Israel bersikeras menolak minta maaf pada Turki. Dalam kunjungan ke Israel, Presiden Amerika Serikat Barack Obama meminta Israel memperbaiki hubungan dengan Israel. Sebab sebelum kunjungan Obama ke Israel, Erdogan mengatakan, bahwa hubungan masa depan diplomatik negara itu dengan Israel, termasuk penunjukan duta besar baru untuk Israel, akan tergantung pada keputusan negara Yahudi itu sendiri.
"Ini adalah sebuah kesuksesan besar bagi kebijakan luar negeri Turki," ungkap Arinc. "Setelah Menteri Luar Negeri Tukri melakukan pembicaraan dengan pihak ketiga untuk memecahkan masalah ini," lanjut Arinc.
Seperti diketahui, setelah tiga tahun mengalami keretakan hubungan diplomatik, pekan lalu negara Yahudi tersebut akhirnya meminta maaf kepada pemerintah Turki dan keluarga korban atas insiden penyerangan tersebut.
Mei tahun lalu, Pengadilan Istanbul mengelar persidangan in absentia atas empat komandan militer Isreal yang menyerang kapal Mavi Marmara milik Turki pada 2010 lalu. Jaksa Turki sudah mendakwa empat pensiunan komandan militer Israel tersebut karena menghasut untuk melakukan pembunuhan dengan cara menyiksa korban hingga menewaskan sembilan orang di atas kapal itu.
Kapal Mavi Marmara mengangkut 600 sejumlah aktivis pendukung Palestina yang hendak mengirimkan bantuan bagi penduduk Jalur Gaza lewat jalur laut.
"Israel meminta maaf pada Turki. Perdana Menteri, kami bersyukur karena Anda telah memberikan sebuah pengalaman membanggakan kepada negara ini," bunyi kalimat yang terpampang dalam papan reklame, seperti dilansir Ynet.
Papan reklame itu muncul sehari setelah Isreal dan Turki melanjutkan pembicaraan untuk membahas kompensasi bagi para keluarga korban yang tewas dalam insiden tersebut. "Kini, delegasi Israel dan Turki tengah membahas masalah kompensasi pada keluarga korban. Dan, kami memulai membahasnya hari ini," ungkap Bulent Arinc, Wakil Perdana Menteri.
Sampai pekan lalu, Israel bersikeras menolak minta maaf pada Turki. Dalam kunjungan ke Israel, Presiden Amerika Serikat Barack Obama meminta Israel memperbaiki hubungan dengan Israel. Sebab sebelum kunjungan Obama ke Israel, Erdogan mengatakan, bahwa hubungan masa depan diplomatik negara itu dengan Israel, termasuk penunjukan duta besar baru untuk Israel, akan tergantung pada keputusan negara Yahudi itu sendiri.
"Ini adalah sebuah kesuksesan besar bagi kebijakan luar negeri Turki," ungkap Arinc. "Setelah Menteri Luar Negeri Tukri melakukan pembicaraan dengan pihak ketiga untuk memecahkan masalah ini," lanjut Arinc.
Seperti diketahui, setelah tiga tahun mengalami keretakan hubungan diplomatik, pekan lalu negara Yahudi tersebut akhirnya meminta maaf kepada pemerintah Turki dan keluarga korban atas insiden penyerangan tersebut.
Mei tahun lalu, Pengadilan Istanbul mengelar persidangan in absentia atas empat komandan militer Isreal yang menyerang kapal Mavi Marmara milik Turki pada 2010 lalu. Jaksa Turki sudah mendakwa empat pensiunan komandan militer Israel tersebut karena menghasut untuk melakukan pembunuhan dengan cara menyiksa korban hingga menewaskan sembilan orang di atas kapal itu.
Kapal Mavi Marmara mengangkut 600 sejumlah aktivis pendukung Palestina yang hendak mengirimkan bantuan bagi penduduk Jalur Gaza lewat jalur laut.
(esn)