Parlemen Myanmar: Stop pertempuran antara militer & pemberontak Kachin
Jum'at, 18 Januari 2013 - 21:27 WIB
Parlemen Myanmar: Stop pertempuran antara militer & pemberontak Kachin
A
A
A
Sindonews.com – Parlemen Myanmar pada Jumat (18/1/2013), menuntut penghentian pertempuran antara militer dan kaum pemberontak di utara negara bagian Kachin. Pertikaian bersenjata ini telah merusak optimisme tentang reformasi politik di negara itu.
Usulan untuk menghentikan bentrokan dan melanjutkan pembicaraan gencatan senjata, telah dikirim MP Doibu dari Persatuan dan Partai Demokrasi, serta disahkan oleh perwakilan di Majelis Rendah.
"Untuk melaksanakan proses perdamaian, usulan itu disetujui dan mendesak organisasi yang bertanggung jawab dan pemerintah untuk memulai dialog damai sesegera mungkin, setelah menghentikan pertempuran antara KIO/KIA dan pasukan pemerintah," kata Shwe Mann, Juru Bicara Majelsi Rendah yang juga pensiunan jenderal.
Konflik antara pasukan pemerintah dan Kachin Independence Army (KIA) serta sayap bersenjata Organisasi Kemerdekaan Kachin (KIO), telah meningkat baru-baru ini. Militer Myanmar juga telah mengerahkan serangan udara untuk menggempur basis pemberontak Kachin.
Belum bisa dipastikan apakah himbauan ini akan memiliki efek di lapangan. Yang pasti, usulan ini telah mengejutkan para pengamat, terlebih diupayakan oleh Shwe Mann, seorang tokoh kunci dalam pemerintahan junta militer, yang secara luas dianggap sebagai salah satu saingan politik utama Presiden Thein Sein.
Pemerintah reformis Thein Sein mengatakan tahun lalu, pihaknya telah memerintahkan militer untuk menghentikan serangan terhadap pemberontak etnik minoritas, tetapi konflik Kachin tak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Sejak 2011, puluhan ribu orang telah mengungsi dari negara bagian itu, setelah runtuhnya gencatan senjata antara militer Myanmar dan pemberontak Kachin yang telah berlangsung selama 17 tahun.
Usulan untuk menghentikan bentrokan dan melanjutkan pembicaraan gencatan senjata, telah dikirim MP Doibu dari Persatuan dan Partai Demokrasi, serta disahkan oleh perwakilan di Majelis Rendah.
"Untuk melaksanakan proses perdamaian, usulan itu disetujui dan mendesak organisasi yang bertanggung jawab dan pemerintah untuk memulai dialog damai sesegera mungkin, setelah menghentikan pertempuran antara KIO/KIA dan pasukan pemerintah," kata Shwe Mann, Juru Bicara Majelsi Rendah yang juga pensiunan jenderal.
Konflik antara pasukan pemerintah dan Kachin Independence Army (KIA) serta sayap bersenjata Organisasi Kemerdekaan Kachin (KIO), telah meningkat baru-baru ini. Militer Myanmar juga telah mengerahkan serangan udara untuk menggempur basis pemberontak Kachin.
Belum bisa dipastikan apakah himbauan ini akan memiliki efek di lapangan. Yang pasti, usulan ini telah mengejutkan para pengamat, terlebih diupayakan oleh Shwe Mann, seorang tokoh kunci dalam pemerintahan junta militer, yang secara luas dianggap sebagai salah satu saingan politik utama Presiden Thein Sein.
Pemerintah reformis Thein Sein mengatakan tahun lalu, pihaknya telah memerintahkan militer untuk menghentikan serangan terhadap pemberontak etnik minoritas, tetapi konflik Kachin tak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Sejak 2011, puluhan ribu orang telah mengungsi dari negara bagian itu, setelah runtuhnya gencatan senjata antara militer Myanmar dan pemberontak Kachin yang telah berlangsung selama 17 tahun.
(esn)