Presiden Argentina desak Inggris bahas soal Kepulauan Falkland
Kamis, 03 Januari 2013 - 17:07 WIB
Presiden Argentina desak Inggris bahas soal Kepulauan Falkland
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Argentina Cristina Fernandez menyerukan pembicaraan dengan Inggris atas sengketa Kepulauan Falkland. Desakan ini disampaikan Fernandez dalam sebuah surat terbuka kepada Perdana Menteri Inggris, David Cameron dan diterbitkan oleh surat kabar Inggris, Kamis (3/1/2013).
Dalam surat terbuka itu, Fernandez menuduh Inggris melanggar resolusi kedua PBB dan mendesak negara itu untuk melakukan negosiasi dan mencari solusi untuk sengketa Kepulauan Falklands. Di Argentina, kepulauan ini dikenal dengan nama Las Malvinas.
"Pertanyaan atas Kepulauan Malvinas juga dimiliki oleh kawasan Amerika Latin dan oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia yang menolak kolonialisme," tulis Fernandez dalam surat terbuka itu. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris menolak panggilan Fernandez untuk bernegosiasi.
"Ada tiga pihak yang terlibat dalam perdebatan ini, bukan hanya dua seperti yang pura-pura dilakukan Argentina. Para penduduk pulau itu tidak bisa hanya ditulis dalam sejarah," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Inggris, seperti dikutip dari Reuters.
"Dengan demikian, tidak ada negosiasi mengenai kedaulatan Kepulauan Falkland, kecuali sampai warga pulau itu menginginkannya,” lanjut pernyataan tersebut. Para penduduk kepulauan itu akan memberikan suara dalam referendum yang akan digelar tahun ini.
Referendum akan menentukan, apakah penduduk kepulauan itu ingin tetap menjadi bagian dari Inggris atau tidak. Inggris dan Argentina terlibat perang 10 pekan pada 1982 silam untuk memperebutkan kepulauan terpencil di Atlantik Selatan, yang saat ini merupakan bagian dari wilayah Inggris di luar negeri yang memiliki pemerintahan sendiri.
Dalam surat terbuka itu, Fernandez menuduh Inggris melanggar resolusi kedua PBB dan mendesak negara itu untuk melakukan negosiasi dan mencari solusi untuk sengketa Kepulauan Falklands. Di Argentina, kepulauan ini dikenal dengan nama Las Malvinas.
"Pertanyaan atas Kepulauan Malvinas juga dimiliki oleh kawasan Amerika Latin dan oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia yang menolak kolonialisme," tulis Fernandez dalam surat terbuka itu. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris menolak panggilan Fernandez untuk bernegosiasi.
"Ada tiga pihak yang terlibat dalam perdebatan ini, bukan hanya dua seperti yang pura-pura dilakukan Argentina. Para penduduk pulau itu tidak bisa hanya ditulis dalam sejarah," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Inggris, seperti dikutip dari Reuters.
"Dengan demikian, tidak ada negosiasi mengenai kedaulatan Kepulauan Falkland, kecuali sampai warga pulau itu menginginkannya,” lanjut pernyataan tersebut. Para penduduk kepulauan itu akan memberikan suara dalam referendum yang akan digelar tahun ini.
Referendum akan menentukan, apakah penduduk kepulauan itu ingin tetap menjadi bagian dari Inggris atau tidak. Inggris dan Argentina terlibat perang 10 pekan pada 1982 silam untuk memperebutkan kepulauan terpencil di Atlantik Selatan, yang saat ini merupakan bagian dari wilayah Inggris di luar negeri yang memiliki pemerintahan sendiri.
(esn)