Iran salahkan NATO atas peningkatan produksi opium di Afghanistan
Selasa, 11 Desember 2012 - 16:47 WIB
Iran salahkan NATO atas peningkatan produksi opium di Afghanistan
A
A
A
Sindonews.com – Iran menyalahkan pasukan NATO yang berada di Afghanistan atas meningkatnya produksi dan perdagangan opium di Afghanistan. Menurut Iran, hampir semua produksi opium dunia dilakukan di depan mata pasukan asing yang berada di Afghanistan.
Wakil Kepala Markas Anti-Narkotika Iran, Babak Dinparast menyesalkan lemahnya kinerja pasukan NATO dan Amerika Serikat di Afghanistan dalam memerangi narkotika. Dia mengacu pada penyitaan 12 ton narkotika di sebelah timur Iran dalam beberapa hari terakhir.
“Penyitaan terus dilakukan. Seperti yang kita saksikan, Afghanistan jadi tempat produksi 95 persen dari opium di dunia, meskipun hadir kekuatan dari 48 negara di sana,” kata Dinparast, Senin (10/12/2012), seperti dikutip dari kantor berita Fars.
Dinparast mengingatkan, bahwa perang terhadap narkotika adalah salah satu alasan yang disebutkan oleh pimpinan negara-negara Barat untuk melakukan invasi mereka ke Afghanistan pada 2011 silam.
“Sementara saat ini, tentara mereka telah menolak untuk mengambil langkah-langkah guna membantu memerangi produksi dan perdagangan obat terlarang,” lanjutnya. Para pejabat polisi Iran menyatakan, bahwa produksi obat di Afghanistan telah mengalami peningkatan 40 kali lipat sejak NATO menginvasi negara itu pada 2001.
Wilayah timur Iran berbatasan dengan Afghanistan. Posisi geografis Iran telah membuat negara itu jadi koridor transit yang favorit bagi pengedar narkoba yang berniat untuk menyelundupkan barang mereka dari Afghanistan ke pengedar narkoba di Eropa.
Wakil Kepala Markas Anti-Narkotika Iran, Babak Dinparast menyesalkan lemahnya kinerja pasukan NATO dan Amerika Serikat di Afghanistan dalam memerangi narkotika. Dia mengacu pada penyitaan 12 ton narkotika di sebelah timur Iran dalam beberapa hari terakhir.
“Penyitaan terus dilakukan. Seperti yang kita saksikan, Afghanistan jadi tempat produksi 95 persen dari opium di dunia, meskipun hadir kekuatan dari 48 negara di sana,” kata Dinparast, Senin (10/12/2012), seperti dikutip dari kantor berita Fars.
Dinparast mengingatkan, bahwa perang terhadap narkotika adalah salah satu alasan yang disebutkan oleh pimpinan negara-negara Barat untuk melakukan invasi mereka ke Afghanistan pada 2011 silam.
“Sementara saat ini, tentara mereka telah menolak untuk mengambil langkah-langkah guna membantu memerangi produksi dan perdagangan obat terlarang,” lanjutnya. Para pejabat polisi Iran menyatakan, bahwa produksi obat di Afghanistan telah mengalami peningkatan 40 kali lipat sejak NATO menginvasi negara itu pada 2001.
Wilayah timur Iran berbatasan dengan Afghanistan. Posisi geografis Iran telah membuat negara itu jadi koridor transit yang favorit bagi pengedar narkoba yang berniat untuk menyelundupkan barang mereka dari Afghanistan ke pengedar narkoba di Eropa.
(esn)