Rekonsiliasi Palestina harus diikuti dengan pemilu demokratis
Senin, 10 Desember 2012 - 20:57 WIB
Rekonsiliasi Palestina harus diikuti dengan pemilu demokratis
A
A
A
Sindonews.com – Rekonsiliasi antara dua faksi terbesar di Palestina, Hamas dan Fatah harus diikuti dengan terselenggaranya pemilu yang bebas dan adil di negara itu. Demikian disampaikan Pemimpin Hamas, Khales Meshaal. Pernyataan ini dilontarkan Meshaal dalam pertemuan publik dengan faksi-faksi politik Palestina, organisasi masyarakat sipil dan keluarga korban di Gaza, Minggu (9/12/2012).
Menurutnya, semua faksi di Palestina harus menjalin kemitraan dan kerja sama. “Saudara-saudara kami di Fatah, Anda mulai sebelum kami. Dan, Hamas bukanlah pengganti Fatah, melainkan mitra Fatah. Perselisihan lama tidak akan pernah kembali," kata Meshaal.
Ia menambahkan, bahwa rekonsiliasi adalah sebuah kebutuhan. "Tapi, rekonsiliasi seharusnya tidak mengorbankan prinsip-prinsip tegas Palestina. Pembicaraan rekonsiliasi yang disponsori Mesir akan segera berlangsung,” lanjutnya.
Meshaal mengatakan, ada banyak hal yang harus dicapai oleh Palestina. Hamas telah mengulurkan tangan kepada Fatah usai serangan 8 hari di Gaza yang dilancarkan pasukan Israel. Hamas dan Fatah sempat terlibat pertikaian pada 2007, yang berujung pada penguasaan Jalur Gaza oleh Hamas dan Tepi Barat oleh Fatah.
Menurutnya, semua faksi di Palestina harus menjalin kemitraan dan kerja sama. “Saudara-saudara kami di Fatah, Anda mulai sebelum kami. Dan, Hamas bukanlah pengganti Fatah, melainkan mitra Fatah. Perselisihan lama tidak akan pernah kembali," kata Meshaal.
Ia menambahkan, bahwa rekonsiliasi adalah sebuah kebutuhan. "Tapi, rekonsiliasi seharusnya tidak mengorbankan prinsip-prinsip tegas Palestina. Pembicaraan rekonsiliasi yang disponsori Mesir akan segera berlangsung,” lanjutnya.
Meshaal mengatakan, ada banyak hal yang harus dicapai oleh Palestina. Hamas telah mengulurkan tangan kepada Fatah usai serangan 8 hari di Gaza yang dilancarkan pasukan Israel. Hamas dan Fatah sempat terlibat pertikaian pada 2007, yang berujung pada penguasaan Jalur Gaza oleh Hamas dan Tepi Barat oleh Fatah.
(esn)