Yingluck selamat dari mosi tidak percaya
Kamis, 29 November 2012 - 17:51 WIB
Yingluck selamat dari mosi tidak percaya
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri (PM) Thailand Yingluck Shinawatra kemarin dengan mudah selamat dari mosi tidak percaya yang diajukan oposisi yang menuduh dia gagal menindak korupsi di parlemen.
Yingluck, perdana menteri perempuan pertama Thailand, unggul dengan 308 suara dari 467 suara,dan meraih dukungan dari enam partai di luar koalisinya yang menguasai sekitar tiga perlima dari kursi di majelis rendah. Adik mantan perdana menteri Thailand Thaksin Shinawatra itu telah menjabat sejak bulan Agustus 2011.”Parlemen telah memilih PM Yingluck untuk melanjutkan pekerjaannya,”ungkap Juru Bicara Somsak Kiatsuranont saat mengumumkan hasil suara,seperti dikutip AFP.
Pemungutan suara itu sebelumnya telah memicu perdebatan sengit selama tiga hari dan empat hari setelah demonstrasi oleh ribuan pengunjuk rasa yang menyerukan penggulingan pemerintahan, dengan alasan korupsi. Sementara,Wakil PM Chalerm Yubumrung,Menteri Pertahanan Sukumpol Suwanatat, dan wakil menteri dalam negeri Chat Kuladilok pun selamat dari mosi-mosi tidak percaya itu.
Oposisi utama Partai Demokrat menuduh Yingluck mengetahui kasus korupsi,khususnya dalam skema pembelian beras pemerintah yang kontroversial serta anggaran pengelolaan banjir,dan dimanfaatkan sebagai boneka Thaksin. Thaksin digulingkan dalam kudeta militer tahun 2006. Dia lantas memutuskan tinggal di luar negeri untuk menghindari hukuman penjara yang dikenakan terhadap dirinya akibat tuduhan korupsi.
Dia menegaskan bahwa kasus yang menimpanya itu bermotif politik. Namun, selama dua bulan aksi protes massa ke jalanan terhadap pemerintahan tahun 2010 oleh pendukung Thaksin yang menyebut dirinya dengan ”kaus merah” telah memicu tindakan keras militer yang mematikan,serta mengakibatkan 90 korban tewas dan 1.900 orang mengalami luka.
Partai Demokrat menuding Yingluck mengancam posisi Thailand sebagai eksportir utama beras di dunia dan dugaan korupsi yang semakin meluas akibat program padi, di mana pemerintah membayar petani dengan harga lebih tinggi dari harga pasar.
Yingluck mengatakan kepada anggota parlemen bahwa program skema terkait pembelian beras akan memberikan manfaat langsung bagi petani Thailand dan membantu meningkatkan harga beras Thailand. ”Pemerintah akan memperkenalkan sistem teknologi informasi dan memasang kamera sirkuit penutup untuk mencegah korupsi,”kata Yingluck, dikutip Washington Post.
Sementara, isu lainnya menyebutkan bahwa Yingluck bersama dengan para menterinya diduga melakukan penyimpangan dalam anggaran pengelolaan banjir, proyek kanal pengerukan, dan pengadaan sistem tempur pada dua kapal selam angkatan laut.
Yingluck, perdana menteri perempuan pertama Thailand, unggul dengan 308 suara dari 467 suara,dan meraih dukungan dari enam partai di luar koalisinya yang menguasai sekitar tiga perlima dari kursi di majelis rendah. Adik mantan perdana menteri Thailand Thaksin Shinawatra itu telah menjabat sejak bulan Agustus 2011.”Parlemen telah memilih PM Yingluck untuk melanjutkan pekerjaannya,”ungkap Juru Bicara Somsak Kiatsuranont saat mengumumkan hasil suara,seperti dikutip AFP.
Pemungutan suara itu sebelumnya telah memicu perdebatan sengit selama tiga hari dan empat hari setelah demonstrasi oleh ribuan pengunjuk rasa yang menyerukan penggulingan pemerintahan, dengan alasan korupsi. Sementara,Wakil PM Chalerm Yubumrung,Menteri Pertahanan Sukumpol Suwanatat, dan wakil menteri dalam negeri Chat Kuladilok pun selamat dari mosi-mosi tidak percaya itu.
Oposisi utama Partai Demokrat menuduh Yingluck mengetahui kasus korupsi,khususnya dalam skema pembelian beras pemerintah yang kontroversial serta anggaran pengelolaan banjir,dan dimanfaatkan sebagai boneka Thaksin. Thaksin digulingkan dalam kudeta militer tahun 2006. Dia lantas memutuskan tinggal di luar negeri untuk menghindari hukuman penjara yang dikenakan terhadap dirinya akibat tuduhan korupsi.
Dia menegaskan bahwa kasus yang menimpanya itu bermotif politik. Namun, selama dua bulan aksi protes massa ke jalanan terhadap pemerintahan tahun 2010 oleh pendukung Thaksin yang menyebut dirinya dengan ”kaus merah” telah memicu tindakan keras militer yang mematikan,serta mengakibatkan 90 korban tewas dan 1.900 orang mengalami luka.
Partai Demokrat menuding Yingluck mengancam posisi Thailand sebagai eksportir utama beras di dunia dan dugaan korupsi yang semakin meluas akibat program padi, di mana pemerintah membayar petani dengan harga lebih tinggi dari harga pasar.
Yingluck mengatakan kepada anggota parlemen bahwa program skema terkait pembelian beras akan memberikan manfaat langsung bagi petani Thailand dan membantu meningkatkan harga beras Thailand. ”Pemerintah akan memperkenalkan sistem teknologi informasi dan memasang kamera sirkuit penutup untuk mencegah korupsi,”kata Yingluck, dikutip Washington Post.
Sementara, isu lainnya menyebutkan bahwa Yingluck bersama dengan para menterinya diduga melakukan penyimpangan dalam anggaran pengelolaan banjir, proyek kanal pengerukan, dan pengadaan sistem tempur pada dua kapal selam angkatan laut.
(esn)