Pilih tinggal di peternakan ketimbang di istana
Jum'at, 16 November 2012 - 09:59 WIB
Pilih tinggal di peternakan ketimbang di istana
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Uruguay Jose Mujica berdiri di halaman rumahnya di luar ibu kota Montevideo. Mujica menanggalkan hidup mewah seorang presiden dan memilih tinggal di sebuah peternakan kumuh.
Kesejahteraan memang identik dengan kehidupan seorang pemimpin negara. Namun, hal itu tidak seperti di Uruguay, di mana presiden negara itu sangat jauh dari gaya hidup layaknya seorang kepala negara. Menjabat sebagai Presiden Uruguay sejak Maret 2010 silam, Jose Mujica lebih suka tinggal di peternakan kumuh dan memberikan hampir 90% gajinya sebagai kepala negara untuk rakyatnya.
Mujica menolak rumah mewah yang disediakan Pemerintah Uruguay untuk sang presiden. Dia justru lebih suka tinggal di rumah istrinya yang sederhana di luar ibu kota Montevideo. Dan, seperti rumah-rumah warga biasa,di halaman rumah sang presiden juga tak jarang terlihat gantungan jemuran pakaian.Tak ada yang istimewa di rumah yang dihuni orang nomor satu di Uruguay itu.
Air didapatkan dari sumur di halaman yang ditumbuhi rerumputan liar.Tak terlihat ada penjagaan ketat di sekitar rumah Mujica.Hanya ada dua polisi dan seekor anjing yang berjaga. Apakah Mujica tak malu hidup seperti itu? “Saya sudah biasa hidup seperti ini. Saya pun bisa hidup dengan baik dengan apa yang saya miliki,” ujarnya sambil duduk di kursi tua di kebunnya saat diwawancarai BBC.
Mungkin gaya hidup Mujica ini terlalu ekstrem jika diikuti kepala negara lain.Tapi,fakta lain yang dilakukan Mujica ini hendakya patut dicontoh para pemimpin negara.Sejak dilantik sebagai presiden, pria sederhana ini telah memutuskan untuk menyumbangkan 90% gaji bulanannya yang sebesar USD12.000 (Rp115,5 juta) untuk rakyatnya.
Tak heran jika kemudian banyak yang menjulukinya sebagai presiden termiskin di dunia. “Saya disebut presiden termiskin, tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba gaya hidup yang mahal,dan selalu ingin lebih dan lebih,” ungkap Mujica. “Ini adalah masalah kebebasan, jika anda tidak memiliki banyak harta maka anda tidak perlu bekerja sepanjang hidup anda seperti seorang budak untuk mendapatkan harta. Jadi, anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri.
Saya mungkin tampak seorang pria tua yang gila dan eksentrik, namun ini adalah pilihan bebas,”katanya. Sumbangan yang selalu dilakukannya setiap bulan pun bermanfaat bagi orang-orang miskin dan pengusaha kecil, di mana uang sumbangan itu setara dengan pendapatan Uruguay dengan rata-rata USD775 per bulan.
Kekayaan pribadi yang dimiliki Mujica yang tercatat pada tahun 2010 hanyalah sebuah mobil Volkswagen Beetle tahun 1987 yang bernilai USD1.800. Namun ada laporan yang mengatakan, tahun ini dia akan menambahkan setengah dari aset istrinya berupa tanah, traktor dan rumah yang mencapai nilai USD215.000 untuk dihitung sebagai aset pribadi.
Sumber menyebutkan, kekayaan pribadi milik Mujica itu hanya sekitar dua per tiga dari kekayaan Wakil Presiden Uruguay Danilo Astori,dan hanya sepertiga dari kekayaan presiden sebelumnya, Tabare Vasquez.Sebuah jajak pendapat di Uruguay menunjukkan banyak simpati dengan gaya hidup Mujica yang tidak menghentikannya untuk tetap menjalankan pemerintahan. Mujica secara resmi terpilih sebagai presiden pada 2009.
Sebelumnya, pada kurun 1960–1970-an,pria yang kini berusia 77 tahun itu adalah gerilyawan Tupamaros Uruguay, kelompok bersenjata sayap kiri dari revolusi Kuba.Dia pernah ditembak enam kali dan menghabiskan waktu 14 tahun di penjara sampai akhirnya dirinya bebas pada tahun 1985 ketika Uruguay kembali pada demokrasi.
Namun,oposisi Uruguay menyatakan bahwa baru-baru ini kemakmuran ekonomi negara itu tidak menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik di bidang kesehatan dan pendidikan, dan untuk pertama kalinya sejak Mujica terpilih tahun 2009,popularitasnya telah jatuh di bawah 50%. Tahun ini Mujica pun mendapat kecaman karena dua langkah kontroversialnya.
Kongres Uruguay baru saja mengesahkan Rancangan Undang- Undang (RUU) yang melegalkan aborsi untuk kehamilan sampai 12 minggu. Dia juga mendukung perdebatan tentang legalisasi konsumsi ganja.Dalam RUU itu pun memberikan negara untuk memonopoli perdagangan. “Konsumsi ganja bukanlah hal yang paling mengkhawatirkan, namun berhubungan dengan obat-obatan adalah masalah nyata,”katanya.
Kesejahteraan memang identik dengan kehidupan seorang pemimpin negara. Namun, hal itu tidak seperti di Uruguay, di mana presiden negara itu sangat jauh dari gaya hidup layaknya seorang kepala negara. Menjabat sebagai Presiden Uruguay sejak Maret 2010 silam, Jose Mujica lebih suka tinggal di peternakan kumuh dan memberikan hampir 90% gajinya sebagai kepala negara untuk rakyatnya.
Mujica menolak rumah mewah yang disediakan Pemerintah Uruguay untuk sang presiden. Dia justru lebih suka tinggal di rumah istrinya yang sederhana di luar ibu kota Montevideo. Dan, seperti rumah-rumah warga biasa,di halaman rumah sang presiden juga tak jarang terlihat gantungan jemuran pakaian.Tak ada yang istimewa di rumah yang dihuni orang nomor satu di Uruguay itu.
Air didapatkan dari sumur di halaman yang ditumbuhi rerumputan liar.Tak terlihat ada penjagaan ketat di sekitar rumah Mujica.Hanya ada dua polisi dan seekor anjing yang berjaga. Apakah Mujica tak malu hidup seperti itu? “Saya sudah biasa hidup seperti ini. Saya pun bisa hidup dengan baik dengan apa yang saya miliki,” ujarnya sambil duduk di kursi tua di kebunnya saat diwawancarai BBC.
Mungkin gaya hidup Mujica ini terlalu ekstrem jika diikuti kepala negara lain.Tapi,fakta lain yang dilakukan Mujica ini hendakya patut dicontoh para pemimpin negara.Sejak dilantik sebagai presiden, pria sederhana ini telah memutuskan untuk menyumbangkan 90% gaji bulanannya yang sebesar USD12.000 (Rp115,5 juta) untuk rakyatnya.
Tak heran jika kemudian banyak yang menjulukinya sebagai presiden termiskin di dunia. “Saya disebut presiden termiskin, tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba gaya hidup yang mahal,dan selalu ingin lebih dan lebih,” ungkap Mujica. “Ini adalah masalah kebebasan, jika anda tidak memiliki banyak harta maka anda tidak perlu bekerja sepanjang hidup anda seperti seorang budak untuk mendapatkan harta. Jadi, anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri.
Saya mungkin tampak seorang pria tua yang gila dan eksentrik, namun ini adalah pilihan bebas,”katanya. Sumbangan yang selalu dilakukannya setiap bulan pun bermanfaat bagi orang-orang miskin dan pengusaha kecil, di mana uang sumbangan itu setara dengan pendapatan Uruguay dengan rata-rata USD775 per bulan.
Kekayaan pribadi yang dimiliki Mujica yang tercatat pada tahun 2010 hanyalah sebuah mobil Volkswagen Beetle tahun 1987 yang bernilai USD1.800. Namun ada laporan yang mengatakan, tahun ini dia akan menambahkan setengah dari aset istrinya berupa tanah, traktor dan rumah yang mencapai nilai USD215.000 untuk dihitung sebagai aset pribadi.
Sumber menyebutkan, kekayaan pribadi milik Mujica itu hanya sekitar dua per tiga dari kekayaan Wakil Presiden Uruguay Danilo Astori,dan hanya sepertiga dari kekayaan presiden sebelumnya, Tabare Vasquez.Sebuah jajak pendapat di Uruguay menunjukkan banyak simpati dengan gaya hidup Mujica yang tidak menghentikannya untuk tetap menjalankan pemerintahan. Mujica secara resmi terpilih sebagai presiden pada 2009.
Sebelumnya, pada kurun 1960–1970-an,pria yang kini berusia 77 tahun itu adalah gerilyawan Tupamaros Uruguay, kelompok bersenjata sayap kiri dari revolusi Kuba.Dia pernah ditembak enam kali dan menghabiskan waktu 14 tahun di penjara sampai akhirnya dirinya bebas pada tahun 1985 ketika Uruguay kembali pada demokrasi.
Namun,oposisi Uruguay menyatakan bahwa baru-baru ini kemakmuran ekonomi negara itu tidak menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik di bidang kesehatan dan pendidikan, dan untuk pertama kalinya sejak Mujica terpilih tahun 2009,popularitasnya telah jatuh di bawah 50%. Tahun ini Mujica pun mendapat kecaman karena dua langkah kontroversialnya.
Kongres Uruguay baru saja mengesahkan Rancangan Undang- Undang (RUU) yang melegalkan aborsi untuk kehamilan sampai 12 minggu. Dia juga mendukung perdebatan tentang legalisasi konsumsi ganja.Dalam RUU itu pun memberikan negara untuk memonopoli perdagangan. “Konsumsi ganja bukanlah hal yang paling mengkhawatirkan, namun berhubungan dengan obat-obatan adalah masalah nyata,”katanya.
(esn)