Capres Korsel janji buka kantor diplomatik di Korut
Senin, 05 November 2012 - 15:21 WIB
Capres Korsel janji buka kantor diplomatik di Korut
A
A
A
Sindonews.com – Calon Presiden (Capres) Korea Selatan (Korsel) yang juga Capres wanita pertama negara itu, Park Geun-hye berjanji akan membuka kantor diplomatik di Korea Utara (Korut) jika ia kelak terpilih sebagai Presiden. Menurut capres dari Partai Saenuri itu, pembukaan kantor diplomatik itu bertujuan untuk menghidupkan kembali hubungan antara kedua negara.
“Untuk pengembangan ekonomi dan sosial budaya yang sistematis dan berkesinambungan, saya akan membangun kantor kerjasama di Seoul dan Pyongyang. Saya bersedia bertemu dengan pemimpin Korut, namun Pyongyang harus memperbaharui komitmen untuk mengakhiri program nuklir mereka,” ujar Geun-hye seperti dikutip dari thestar, Senin (5/11/2012).
Sikap Geun-hye yang mengambil kebijakan lebih akomodatif terhadap Korut, diprediksi untuk menjauhkan citra dirinya dari kesan penganut garis keras, seperti yang diusung Presiden Korsel saat ini, Lee Myung-bak.
Sejak terpilih sebagai Presiden Korsel pada 2008 silam, Myung-bak langsung menghentikan bantuan kemanusiaan ke Korut. Sementara Geun-hye mengaku akan memisahkan urusan politik dengan krisis kemanusiaan di Korut.
Korut membutuhkan setidaknya 5 juta ton gandum per tahun untuk konsumsi rakyatnya. Sementara sebagian pengamat menilai, Korut hanya bisa memproduksi 3,4 sampai 4,7 juta ton gandum per tahun. Akibatnya, sepertiga penduduk Korut berada dalam kondisi kurang gizi.
"Dalam rangka membangun kepercayaan diri, harus ada berbagai saluran dialog. Saya akan bertemu dengan Pemimpin Korut, jika hal itu diperlukan untuk pengembangan hubungan Utara-Selatan," kata Geun-hye, yang juga putri mantan penguasa Korsel Park Chung-hee.
Namun, keinginan Geun-hye ini tak mendapat respon positif dari Korut. Negara komunis itu justru terang-terangan mendukung partai oposisi untuk memenangkan Pemilu Korsel yang rencananya akan dilangsungkan pada 19 Desember mendatang.
Korut mendukung kandidat dari partai oposisi, Moon Jae-in, yang mengaku jika terpilih sebagai Presiden Korsel akan memberikan bantuan tanpa syarat untuk daerah-daerah miskin dan terisolasi di Korut. Hingga kini, secara teknis Korsel dan Korut masih dalam status perang. Keduanya belum mencapai perjanjian perdamaian, hanya sebatas gencatan senjata.
“Untuk pengembangan ekonomi dan sosial budaya yang sistematis dan berkesinambungan, saya akan membangun kantor kerjasama di Seoul dan Pyongyang. Saya bersedia bertemu dengan pemimpin Korut, namun Pyongyang harus memperbaharui komitmen untuk mengakhiri program nuklir mereka,” ujar Geun-hye seperti dikutip dari thestar, Senin (5/11/2012).
Sikap Geun-hye yang mengambil kebijakan lebih akomodatif terhadap Korut, diprediksi untuk menjauhkan citra dirinya dari kesan penganut garis keras, seperti yang diusung Presiden Korsel saat ini, Lee Myung-bak.
Sejak terpilih sebagai Presiden Korsel pada 2008 silam, Myung-bak langsung menghentikan bantuan kemanusiaan ke Korut. Sementara Geun-hye mengaku akan memisahkan urusan politik dengan krisis kemanusiaan di Korut.
Korut membutuhkan setidaknya 5 juta ton gandum per tahun untuk konsumsi rakyatnya. Sementara sebagian pengamat menilai, Korut hanya bisa memproduksi 3,4 sampai 4,7 juta ton gandum per tahun. Akibatnya, sepertiga penduduk Korut berada dalam kondisi kurang gizi.
"Dalam rangka membangun kepercayaan diri, harus ada berbagai saluran dialog. Saya akan bertemu dengan Pemimpin Korut, jika hal itu diperlukan untuk pengembangan hubungan Utara-Selatan," kata Geun-hye, yang juga putri mantan penguasa Korsel Park Chung-hee.
Namun, keinginan Geun-hye ini tak mendapat respon positif dari Korut. Negara komunis itu justru terang-terangan mendukung partai oposisi untuk memenangkan Pemilu Korsel yang rencananya akan dilangsungkan pada 19 Desember mendatang.
Korut mendukung kandidat dari partai oposisi, Moon Jae-in, yang mengaku jika terpilih sebagai Presiden Korsel akan memberikan bantuan tanpa syarat untuk daerah-daerah miskin dan terisolasi di Korut. Hingga kini, secara teknis Korsel dan Korut masih dalam status perang. Keduanya belum mencapai perjanjian perdamaian, hanya sebatas gencatan senjata.
(esn)