PM Australia minta jaminan Presiden Afghanistan
Senin, 15 Oktober 2012 - 19:01 WIB
PM Australia minta jaminan Presiden Afghanistan
A
A
A
Sindonews.com – Perdana Menteri Australia, Julia Gillard melakukan kunjungan mendadak ke Afghanistan, Minggu (14/10/2012). Selain mengunjungi pasukan Australia yang sedang ditugaskan di sana, Gillard juga melakukan pertemuan dengan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, di Ibu Kota, Afghanistan, Kabul.
Seperti dikutip dari SkyNews, Senin (15/10/2012), salah satu alasan utama dibalik kunjungan Gillard ini adalah meningkatnya frekuensi serangan terhadap pasukan asing, termasuk pasukan Australia, yang dilakukan oleh oleh unsur-unsur Tentara Nasional Afghanistan (ANA).
Karenanya, Gillard pun meminta Karzai untuk bisa melakukan tindakan pencegahan terhadap aksi ini. "Saya berbicara dengan Presiden Karzai tentang keprihatinan kami soal adanya serangan dari dalam. Saya mencari jaminan darinya, bahwa segala sesuatu yang bisa dilakukan, saat ini sedang dilakukan," kata Gillard.
Selain bertemu Presiden Karzai, Gillard juga melakukan pembicaraan dengan Gubernur Provinsi Uruzgan. “Saya juga mengangkat masalah yang sama saat bertemu dengan Gubernur provinsi Uruzgan. Di provinsi ini, pasukan Australia ditempatkan,” lanjut Gillard.
Beberapa unsur dalam tubuh Tentara Nasional Afghanistan memang berbalik menyerang pasukan asing yang ditempatkan di Afghanistan. Insiden terparah terjadi pada 30 Agustus silam, di mana 5 tentara Australia tewas akibat dua serangan terpisah. Jumlah ini membuat korban tewas tentara Australia selama di Afghanistan menjadi 38 orang.
Meningkatnya jumlah korban militer di Afghanistan telah menyebabkan kemarahan meluas di Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO. Mereka sepakat untuk mengurangi dukungan publik untuk perang Afghanistan.
Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan, bahwa lebih dari 60 persen warga Australia menginginkan tentara mereka segera kembali ke kampung halaman. Pada April 2012, Gillard menyatakan kalau Australia akan menarik seluruh pasukannya di Afghanistan pada pertengahan 2013.
AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan pada 7 Oktober 2001. Invasi ini adalah bagian dari apa yang disebut Washington sebagai perang melawan teror. Serangan ini berhasil menjatuhkan rezim Taliban dari tampuk kekuasaan.
Tapi, pasca hancurnya kekuasaan Taliban, kekerasan bersenjata terus meningkat di seluruh Afghanistan. Padahal, di negeri itu masih bercokol 130 ribu pasukan dari berbagai negara.
Seperti dikutip dari SkyNews, Senin (15/10/2012), salah satu alasan utama dibalik kunjungan Gillard ini adalah meningkatnya frekuensi serangan terhadap pasukan asing, termasuk pasukan Australia, yang dilakukan oleh oleh unsur-unsur Tentara Nasional Afghanistan (ANA).
Karenanya, Gillard pun meminta Karzai untuk bisa melakukan tindakan pencegahan terhadap aksi ini. "Saya berbicara dengan Presiden Karzai tentang keprihatinan kami soal adanya serangan dari dalam. Saya mencari jaminan darinya, bahwa segala sesuatu yang bisa dilakukan, saat ini sedang dilakukan," kata Gillard.
Selain bertemu Presiden Karzai, Gillard juga melakukan pembicaraan dengan Gubernur Provinsi Uruzgan. “Saya juga mengangkat masalah yang sama saat bertemu dengan Gubernur provinsi Uruzgan. Di provinsi ini, pasukan Australia ditempatkan,” lanjut Gillard.
Beberapa unsur dalam tubuh Tentara Nasional Afghanistan memang berbalik menyerang pasukan asing yang ditempatkan di Afghanistan. Insiden terparah terjadi pada 30 Agustus silam, di mana 5 tentara Australia tewas akibat dua serangan terpisah. Jumlah ini membuat korban tewas tentara Australia selama di Afghanistan menjadi 38 orang.
Meningkatnya jumlah korban militer di Afghanistan telah menyebabkan kemarahan meluas di Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO. Mereka sepakat untuk mengurangi dukungan publik untuk perang Afghanistan.
Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan, bahwa lebih dari 60 persen warga Australia menginginkan tentara mereka segera kembali ke kampung halaman. Pada April 2012, Gillard menyatakan kalau Australia akan menarik seluruh pasukannya di Afghanistan pada pertengahan 2013.
AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan pada 7 Oktober 2001. Invasi ini adalah bagian dari apa yang disebut Washington sebagai perang melawan teror. Serangan ini berhasil menjatuhkan rezim Taliban dari tampuk kekuasaan.
Tapi, pasca hancurnya kekuasaan Taliban, kekerasan bersenjata terus meningkat di seluruh Afghanistan. Padahal, di negeri itu masih bercokol 130 ribu pasukan dari berbagai negara.
(esn)