Capres putri diktator terbentur banyak masalah
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 10:59 WIB
Capres putri diktator terbentur banyak masalah
A
A
A
Sindonews.com - Kurang dua bulan menjelang pemilu presiden (pilpres) Korea Selatan (Korsel), Park Geun-hye, 60, harus menghadapi berbagai masalah serius.
Sebelum impiannya menjadi presiden wanita pertama di Korsel benar-benar terwujud, Geun-hye menghadapi tuduhan korupsi terkait ajudan dekatnya, pengunduran diri, perselisihan tentang strategi, dan perjuangan Park menangani warisan ayahnya,mantan diktator Korsel Park Chung-hee.
Semua masalah internal ini merusak citra Geun-hye yang menjadi calon presiden (capres), yang membawa slogan persatuan nasional. Sebagian besar masalah itu merupakan hasil pertikaian internal antara sayap progresif dan konservatif di Partai Perbatasan Baru yang berkuasa.
“Masalah-masalah itu akan segera diselesaikan,” terang Geun-hye kepada wartawan pada Selasa (9/10). Namun, banyak pihak meragukan kemampuan Geun-hye mendulang dukungan pemilih.
Apalagi, waktu pemilu tinggal 70 hari lagi. Sebelumnya, Ketua Tim Kampanye Geun-hye, Choi Kyung-hwan mengundurkan diri pada Minggu (7/10) lalu. Saat itu,Choi mengatakan bahwa dia mengambil semua tanggung jawab atas skeptisisme kemenangan Geun-hye dalam pilpres mendatang.
Namun, pertikaian tetap terus berlanjut saat penasihat kampanye kunci lainnya mengancam mengundurkan diri, setelah Geun-hye berusaha memperluas langkahnya dengan merekrut staf dari berbagai pihak yang berbeda spektrum politik.
Semua masalah ini membuat popularitas Geun-hye terus merosot pada pilpres awal pada 20 Agustus lalu. Terlebih, setelah jajak pendapat menempatkannya di posisi kedua untuk pilpres 19Desembermendatang.
“Melihat banyaknya bunuh diri dalam pertarungan internal partai,banyak pendukung Partai Konservatif merasa bahwa itu jalan menuju kekalahan,”tulis harian Korea Herald. Kendati demikian, Geunhye masih disebut-sebut sebagai calon terkuat dari dua pesaingnya, yakni capres oposisi Moon Jae-in dan capres independen pengusaha software Ahn Cheol-soo.
Moon dan Ahn dinilai akan membelah suara liberal. Ada spekulasi bahwa mereka akan berkoalisi sebelum hari pemilu untuk melawan Geun-hye. Sementara itu, profesor ilmu politik di Universitas Yonsei, LeeYeon-ho,menilai perselisihan internal di kubu Geunhye ternyata lebih serius dari yang terlihat.
“Ini memperlihatkan ketidakmampuannya menyatukan elite partai; dan jika ini terus berlanjut, para pemilih akan mulai memiliki keraguan atas kemampuannya memimpin pemerintahan sebagai presiden,” urai Lee kepada AFP.
Geun-hye adalah putri Park Chung-hee,orang kuat di militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta 1961 dan dibunuh kepala intelijennya pada 1979. Ayahnya dihormati karena berhasil mengikis kemiskinan hingga menjadi negara ekonomi raksasa.
Sebelum impiannya menjadi presiden wanita pertama di Korsel benar-benar terwujud, Geun-hye menghadapi tuduhan korupsi terkait ajudan dekatnya, pengunduran diri, perselisihan tentang strategi, dan perjuangan Park menangani warisan ayahnya,mantan diktator Korsel Park Chung-hee.
Semua masalah internal ini merusak citra Geun-hye yang menjadi calon presiden (capres), yang membawa slogan persatuan nasional. Sebagian besar masalah itu merupakan hasil pertikaian internal antara sayap progresif dan konservatif di Partai Perbatasan Baru yang berkuasa.
“Masalah-masalah itu akan segera diselesaikan,” terang Geun-hye kepada wartawan pada Selasa (9/10). Namun, banyak pihak meragukan kemampuan Geun-hye mendulang dukungan pemilih.
Apalagi, waktu pemilu tinggal 70 hari lagi. Sebelumnya, Ketua Tim Kampanye Geun-hye, Choi Kyung-hwan mengundurkan diri pada Minggu (7/10) lalu. Saat itu,Choi mengatakan bahwa dia mengambil semua tanggung jawab atas skeptisisme kemenangan Geun-hye dalam pilpres mendatang.
Namun, pertikaian tetap terus berlanjut saat penasihat kampanye kunci lainnya mengancam mengundurkan diri, setelah Geun-hye berusaha memperluas langkahnya dengan merekrut staf dari berbagai pihak yang berbeda spektrum politik.
Semua masalah ini membuat popularitas Geun-hye terus merosot pada pilpres awal pada 20 Agustus lalu. Terlebih, setelah jajak pendapat menempatkannya di posisi kedua untuk pilpres 19Desembermendatang.
“Melihat banyaknya bunuh diri dalam pertarungan internal partai,banyak pendukung Partai Konservatif merasa bahwa itu jalan menuju kekalahan,”tulis harian Korea Herald. Kendati demikian, Geunhye masih disebut-sebut sebagai calon terkuat dari dua pesaingnya, yakni capres oposisi Moon Jae-in dan capres independen pengusaha software Ahn Cheol-soo.
Moon dan Ahn dinilai akan membelah suara liberal. Ada spekulasi bahwa mereka akan berkoalisi sebelum hari pemilu untuk melawan Geun-hye. Sementara itu, profesor ilmu politik di Universitas Yonsei, LeeYeon-ho,menilai perselisihan internal di kubu Geunhye ternyata lebih serius dari yang terlihat.
“Ini memperlihatkan ketidakmampuannya menyatukan elite partai; dan jika ini terus berlanjut, para pemilih akan mulai memiliki keraguan atas kemampuannya memimpin pemerintahan sebagai presiden,” urai Lee kepada AFP.
Geun-hye adalah putri Park Chung-hee,orang kuat di militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta 1961 dan dibunuh kepala intelijennya pada 1979. Ayahnya dihormati karena berhasil mengikis kemiskinan hingga menjadi negara ekonomi raksasa.
(aww)