Masuk top 100, bukan satu-satunya daya tarik universitas
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 14:03 WIB
Masuk top 100, bukan satu-satunya daya tarik universitas
A
A
A
Sindonews.com - Dua universitas Singapura, Universitas Nasional Singapura (NUS) dan Universitas Teknologi Nanyang (NTU) masuk dalam peringkat 100 universitas terbaik di dunia, menurut edisi terbaru Times Higher Education World University. Apakah masuknya dua universitas ini ke jajaran 100 universitas terbaik akan menimbulkan daya tarik dan mendorong mahasiwa berkualitas masuk ke NUS dan NTU? Ternyata tak demikian.
Presiden NTU, Bertil Andersson, mengatakan, peringkat universitas bukan satu-satunya faktor penentu untuk memikat mahasiswa berkualitas mendaftar ke NTU.
"Rangking mungkin hanya sebuah pendekatan awal. Saya sendiri menghabiskan banyak waktu untuk berbicara dengan orang tua. Saya merekrut sejumlah mahasiswa dengan cara itu," ungkap Andersson seperti diberitakan Chanel News Asia (5/10/2012).
"Saat saya berbicara dengan calon murid, mereka bertanya apakah ranking NTU di atas NUS? Saya katakan, bukan itu intinya. Tapi, tentu saja NUS dan NTU harus masuk level internasional untuk mempromosikan Singapura," terang Andersson
Sementara Presiden NUS, Tan Chorh Chuan, memaparkan beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan bagi calon mahasiswa sebelum memilih universitas. Dia mengatakan, calon murid harus menentukan minat mereka, apa yang menjadi kekuatan sebuah universitas, apa program yang ditawarkan dan apa saja fitur-fitur yang membedakan universitas tersebut. Selain itu, apakah universitas tersebut sesuai dengan profil mereka
Meski demikian, tak bisa dipungkiri kalau beberapa murid dan orang tua menilai rangking universitas menjadi daya tarik yang sangat penting. Mereka beranggapan, rangking memberi mereka rasa percaya diri, bahwa mereka berada dalam sebuah institusi yang diakui. Tidak hanya pada tingkat lokal, tapi juga hingga tingkat internasional.
"Ketika Anda mengatakan pada orang, saya lulusan NUS, mereka akan tahu kala Anda berasal dari top 50 atau 30. Itu jelas membuat perbedaan dan saya pikir untuk sebuah perusahaan, hal ini sangat penting," ungkap alumni NUS, Hochiu Lin.
Sementara bagi murid Hwa Chong Institution, Joyce Xiao Shuang, rangking sebuah universitas mencerminkan tingkat kepercayaan universitas. Semakin tinggi peringkatnya, maka makin banyak program yang telah mendapat pengakuan dari universitas tersebut.
Namun, beberapa orang menilai rangking universitas bukan yang terpenting, melainkan lebih pada membuka prospek pekerjaan dan masa depan individu tersebut setelah lulus. Beberapa siswa mengatakan, mereka melihat hasil survei pekerjaan alumni universitas tersebut.
Siswa tahun ke-6 dari Raffles Institution, Leow Yao Yang, punya pendapat lain. “Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan universitas, seperti keinginan, keuangan, dan lebih penting adalah minat,” ujarnya.
Presiden NTU, Bertil Andersson, mengatakan, peringkat universitas bukan satu-satunya faktor penentu untuk memikat mahasiswa berkualitas mendaftar ke NTU.
"Rangking mungkin hanya sebuah pendekatan awal. Saya sendiri menghabiskan banyak waktu untuk berbicara dengan orang tua. Saya merekrut sejumlah mahasiswa dengan cara itu," ungkap Andersson seperti diberitakan Chanel News Asia (5/10/2012).
"Saat saya berbicara dengan calon murid, mereka bertanya apakah ranking NTU di atas NUS? Saya katakan, bukan itu intinya. Tapi, tentu saja NUS dan NTU harus masuk level internasional untuk mempromosikan Singapura," terang Andersson
Sementara Presiden NUS, Tan Chorh Chuan, memaparkan beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan bagi calon mahasiswa sebelum memilih universitas. Dia mengatakan, calon murid harus menentukan minat mereka, apa yang menjadi kekuatan sebuah universitas, apa program yang ditawarkan dan apa saja fitur-fitur yang membedakan universitas tersebut. Selain itu, apakah universitas tersebut sesuai dengan profil mereka
Meski demikian, tak bisa dipungkiri kalau beberapa murid dan orang tua menilai rangking universitas menjadi daya tarik yang sangat penting. Mereka beranggapan, rangking memberi mereka rasa percaya diri, bahwa mereka berada dalam sebuah institusi yang diakui. Tidak hanya pada tingkat lokal, tapi juga hingga tingkat internasional.
"Ketika Anda mengatakan pada orang, saya lulusan NUS, mereka akan tahu kala Anda berasal dari top 50 atau 30. Itu jelas membuat perbedaan dan saya pikir untuk sebuah perusahaan, hal ini sangat penting," ungkap alumni NUS, Hochiu Lin.
Sementara bagi murid Hwa Chong Institution, Joyce Xiao Shuang, rangking sebuah universitas mencerminkan tingkat kepercayaan universitas. Semakin tinggi peringkatnya, maka makin banyak program yang telah mendapat pengakuan dari universitas tersebut.
Namun, beberapa orang menilai rangking universitas bukan yang terpenting, melainkan lebih pada membuka prospek pekerjaan dan masa depan individu tersebut setelah lulus. Beberapa siswa mengatakan, mereka melihat hasil survei pekerjaan alumni universitas tersebut.
Siswa tahun ke-6 dari Raffles Institution, Leow Yao Yang, punya pendapat lain. “Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan universitas, seperti keinginan, keuangan, dan lebih penting adalah minat,” ujarnya.
(aww)