Jepang tak mau kompromi dengan China
Kamis, 27 September 2012 - 14:00 WIB
Jepang tak mau kompromi dengan China
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Jepang tidak akan berdebat lagi dengan China terkait sengketa kepemilikan serangkaian pulau yang terletak di Laut China Timur.
Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihiko Noda mengatakan, Jepang tidak akan berkompromi dengan China seputar kepemilikan serangkaian pulau yang terletak di Laut China Timur.
"Adapun Senkaku, merupakan bagian tak terlepaskan dari teritorial Jepang dalam sejarah dan hukum internasional," ungkap Noda dalam sidang Majelis Umum PBB, seperti dilansir RIA Novosti, Kamis (27/9/2012).
"Oleh karena itu, tidak ada lagi kompromi. Yang ada justru akan menjadi sebuah langkah mundur atas posisi ini," ungkap PM Noda.
PM Noda memastikan sengketa kepulauan ini tidak akan mempengaruhi hubungan bilateral China dan Jepang. Jepang terus mencoba menyelesaikan masalah ini, dan memastikan komunikasi China dan Jepang tetap terjalin dengan baik.
Sebelumnya, perundingan antara Menteri Luar Negeri China dan Jepang yang digelar Selasa 25 September lalu menemui kebuntuan. Tapi, Jepang setuju untuk terus membahas masalah ini melalui saluran diplomatik.
Sengketa pulau yang disebut Diaoyu di China dan Senkaku di Jepang menyebabkan hubungan kedua negara jatuh ke level terburuk.
Ketegangan hubungan diplomatik dipicu oleh keputusan Pemerintah Jepang yang memutuskan untuk membeli tiga dari lima pulau dari keluarga Kurihara dengan harga 2,05 miliar yuan (USD26,1 juta).
Pemerintah Jepang mengklaim telah memiliki pulau ini sejak 1895 sampai menyerah pada akhir Perang Dunia II. Saat perang dunia berakhir, pulau-pulau yang dikuasai oleh Amerika Serikat pada 1945-1972 kembali diserahkan ke tangan Jepang. Sementara China mengklaim mereka telah memiliki pulau tersebut sejak abad ke-14.
Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihiko Noda mengatakan, Jepang tidak akan berkompromi dengan China seputar kepemilikan serangkaian pulau yang terletak di Laut China Timur.
"Adapun Senkaku, merupakan bagian tak terlepaskan dari teritorial Jepang dalam sejarah dan hukum internasional," ungkap Noda dalam sidang Majelis Umum PBB, seperti dilansir RIA Novosti, Kamis (27/9/2012).
"Oleh karena itu, tidak ada lagi kompromi. Yang ada justru akan menjadi sebuah langkah mundur atas posisi ini," ungkap PM Noda.
PM Noda memastikan sengketa kepulauan ini tidak akan mempengaruhi hubungan bilateral China dan Jepang. Jepang terus mencoba menyelesaikan masalah ini, dan memastikan komunikasi China dan Jepang tetap terjalin dengan baik.
Sebelumnya, perundingan antara Menteri Luar Negeri China dan Jepang yang digelar Selasa 25 September lalu menemui kebuntuan. Tapi, Jepang setuju untuk terus membahas masalah ini melalui saluran diplomatik.
Sengketa pulau yang disebut Diaoyu di China dan Senkaku di Jepang menyebabkan hubungan kedua negara jatuh ke level terburuk.
Ketegangan hubungan diplomatik dipicu oleh keputusan Pemerintah Jepang yang memutuskan untuk membeli tiga dari lima pulau dari keluarga Kurihara dengan harga 2,05 miliar yuan (USD26,1 juta).
Pemerintah Jepang mengklaim telah memiliki pulau ini sejak 1895 sampai menyerah pada akhir Perang Dunia II. Saat perang dunia berakhir, pulau-pulau yang dikuasai oleh Amerika Serikat pada 1945-1972 kembali diserahkan ke tangan Jepang. Sementara China mengklaim mereka telah memiliki pulau tersebut sejak abad ke-14.
(aww)