Keberadaan Xi Jinping masih misterius
Jum'at, 14 September 2012 - 08:48 WIB
Keberadaan Xi Jinping masih misterius
A
A
A
Sindonews.com - Hingga kini, keberadaan dan kondisi Wakil Presiden (Wapres) China Xi Jinping masih menjadi teka-teki, dan rumor mengenai kondisinya pun terus berkembang di tengah publik.
Setelah 12 hari berlalu, kabar mengenai Jinping tidak kunjung muncul, meski kemarin dia disebutkan telah melakukan komunikasi publik untuk kali pertama dalam dua pekan terakhir.
Media pemerintah kemarin mengatakan Jinping telah menyatakan bela sungkawa atas wafatnya kawan lama di partai, Huang Rong, yang meninggal pada 6 September lalu, sehari setelah Jinping membatalkan pertemuan yang direncanakan dengan Hillary Clinton.
Laporan di surat kabar Guangxi Daily, corong komite Partai Komunis di wilayah selatan Guangxi, inilah yang menandai komunikasi publik pertama sejak Jinping menyampaikan pidato pada tanggal 1 September lalu.
Sementara menurut layanan berita China News, dalam sebuah laporan yang dimuat di situsnya Rabu (12/9) malam, menyatakan Jinping dan para pemimpin senior China telah menyatakan simpati mereka kepada keluarga Rong.
“Para pejabat senior termasuk Presiden Hu Jintao dan Jinping, mengungkapkan kesedihan mereka dan simpati sepenuh hati melalui berbagai cara untuk relatif dari Huang Rong,”ungkap laporan itu.
Namun, berita ini tidak mengutip Jinping secara langsung. Sementara itu, lagi-lagi, pemerintah China melalui kementerian luar negeri sejauh ini tidak memberi penjelasan mengenai absennya Jinping.
Mereka juga menolak untuk menjawab pertanyaan yang sama dari media asing tentang status dan keberadaan Jinping. Hingga saat ini Beijing memilih diam, dan masih belum mau mengeluarkan pernyataan langsung menanggapi rumor tentang kesehatan Jinping, 59, yang menderita sakit punggung dan masalah jantung.
Seperti dikutip AFP,menurut ahli politik China, hilangnya Jinping diperkirakan karena dia menderita keluhan kesehatan yang relatif kecil,yang juga membuat dia tidak mengambil bagian dalam KTT APEC pekan lalu.
Lalu ke manakah sebetulnya Jinping? Seperti dikutip harian The Guardian,menurut sumber yang dekat dengan pemimpin China, Jinping menghilang karena dirinya menderita cedera punggung saat berenang.
Namun, beberapa pakar China meragukan kalau Jinping menderita penyakit ringan— versi yang didukung beberapa sumber yang dekat dengan kepemimpinan. “Xi Jinping adalah kekhawatiran besar bagi rakyat.
Dia sudah tidak muncul di hadapan publik sekitar lebih dari sepekan sekarang,” ujar Francis Cheung,kepala strategi kelompok investasi China dan Hong Kong, dengan kelompok investasi CLSA.
Kepala strategis lainnya menambahkan bahwa kediaman Beijing bisa mengindikasikan adanya masalah di balik layar.
“Saya berasumsi bahwa seluruh insiden ini mencerminkan adanya friksi di balik layar dalam memformulasikan kebijakan di bawah kepemimpinan baru,” ujar strategis itu kepada Reuters.
Jinping, yang diperkirakan bakal ditunjuk sebagai ketua Partai Komunis China bulan depan dan mengambil alih kuasa sebagai presiden menggantikan Hu Jintao pada Maret mendatang, terakhir kali muncul di hadapan publik pada 1 September.
Namun, spekulasi mengenai kondisi dan keberadaannya mencuat pekan lalu setelah dia membatalkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Secara resmi, China belum mengumumkan tanggal kongres partai di mana Jinping akan ditunjuk, meskipun masih diperkirakan bakal digelar di Beijing bulan depan.
“Nyatanya, yang cukup mengkhawatirkan adalah mereka belum mengumumkan tanggal kongres dan sekarang benar-benar sangat dekat,” ujar seorang diplomat Eropa yang berbasis di China.
Menurut diplomat itu, memang dipahami bahwa beberapa hotel di sekitar Beijing telah di-booking terkait kongres itu pada pekan ketiga Oktober. Beberapa pakar menilai, keterdiaman atas kondisi Jinping memperlihatkan Beijing masih menyesuaikan posisinya sebagai ekonomi terbesar kedua dunia dan sebuah superpower yang sedang bangkit.
“Ini adalah benar-benar teka-teki di mana kita bisa berspekulasi tentang kepemimpinan negara terkuat kedua di dunia,”ujar David Finkelstein, direktur kajian China di CNA, sebuah lembaga think tank AS.
“Orang-orang memperhatikan apa yang terjadi pada politik domestik China,seperti mereka mengamati pemilu AS.”
Xiao Minjie, seorang ekonom independen yang berbasis di Tokyo, menuturkan, menunggu apakah Jinping bakal muncul pada peringatan hari nasional China pada 1 Oktober mendatang, sebelum membaca apa yang terjadi saat ini.
“Menilai dari fakta bahwa pejabat top lain China bertindak normal, mungkin ini hanyalah masalah kesehatannya dan bukan tanda terjadinya sesuatu yang luar biasa,”papar dia kepada Reuters.
Setelah 12 hari berlalu, kabar mengenai Jinping tidak kunjung muncul, meski kemarin dia disebutkan telah melakukan komunikasi publik untuk kali pertama dalam dua pekan terakhir.
Media pemerintah kemarin mengatakan Jinping telah menyatakan bela sungkawa atas wafatnya kawan lama di partai, Huang Rong, yang meninggal pada 6 September lalu, sehari setelah Jinping membatalkan pertemuan yang direncanakan dengan Hillary Clinton.
Laporan di surat kabar Guangxi Daily, corong komite Partai Komunis di wilayah selatan Guangxi, inilah yang menandai komunikasi publik pertama sejak Jinping menyampaikan pidato pada tanggal 1 September lalu.
Sementara menurut layanan berita China News, dalam sebuah laporan yang dimuat di situsnya Rabu (12/9) malam, menyatakan Jinping dan para pemimpin senior China telah menyatakan simpati mereka kepada keluarga Rong.
“Para pejabat senior termasuk Presiden Hu Jintao dan Jinping, mengungkapkan kesedihan mereka dan simpati sepenuh hati melalui berbagai cara untuk relatif dari Huang Rong,”ungkap laporan itu.
Namun, berita ini tidak mengutip Jinping secara langsung. Sementara itu, lagi-lagi, pemerintah China melalui kementerian luar negeri sejauh ini tidak memberi penjelasan mengenai absennya Jinping.
Mereka juga menolak untuk menjawab pertanyaan yang sama dari media asing tentang status dan keberadaan Jinping. Hingga saat ini Beijing memilih diam, dan masih belum mau mengeluarkan pernyataan langsung menanggapi rumor tentang kesehatan Jinping, 59, yang menderita sakit punggung dan masalah jantung.
Seperti dikutip AFP,menurut ahli politik China, hilangnya Jinping diperkirakan karena dia menderita keluhan kesehatan yang relatif kecil,yang juga membuat dia tidak mengambil bagian dalam KTT APEC pekan lalu.
Lalu ke manakah sebetulnya Jinping? Seperti dikutip harian The Guardian,menurut sumber yang dekat dengan pemimpin China, Jinping menghilang karena dirinya menderita cedera punggung saat berenang.
Namun, beberapa pakar China meragukan kalau Jinping menderita penyakit ringan— versi yang didukung beberapa sumber yang dekat dengan kepemimpinan. “Xi Jinping adalah kekhawatiran besar bagi rakyat.
Dia sudah tidak muncul di hadapan publik sekitar lebih dari sepekan sekarang,” ujar Francis Cheung,kepala strategi kelompok investasi China dan Hong Kong, dengan kelompok investasi CLSA.
Kepala strategis lainnya menambahkan bahwa kediaman Beijing bisa mengindikasikan adanya masalah di balik layar.
“Saya berasumsi bahwa seluruh insiden ini mencerminkan adanya friksi di balik layar dalam memformulasikan kebijakan di bawah kepemimpinan baru,” ujar strategis itu kepada Reuters.
Jinping, yang diperkirakan bakal ditunjuk sebagai ketua Partai Komunis China bulan depan dan mengambil alih kuasa sebagai presiden menggantikan Hu Jintao pada Maret mendatang, terakhir kali muncul di hadapan publik pada 1 September.
Namun, spekulasi mengenai kondisi dan keberadaannya mencuat pekan lalu setelah dia membatalkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Secara resmi, China belum mengumumkan tanggal kongres partai di mana Jinping akan ditunjuk, meskipun masih diperkirakan bakal digelar di Beijing bulan depan.
“Nyatanya, yang cukup mengkhawatirkan adalah mereka belum mengumumkan tanggal kongres dan sekarang benar-benar sangat dekat,” ujar seorang diplomat Eropa yang berbasis di China.
Menurut diplomat itu, memang dipahami bahwa beberapa hotel di sekitar Beijing telah di-booking terkait kongres itu pada pekan ketiga Oktober. Beberapa pakar menilai, keterdiaman atas kondisi Jinping memperlihatkan Beijing masih menyesuaikan posisinya sebagai ekonomi terbesar kedua dunia dan sebuah superpower yang sedang bangkit.
“Ini adalah benar-benar teka-teki di mana kita bisa berspekulasi tentang kepemimpinan negara terkuat kedua di dunia,”ujar David Finkelstein, direktur kajian China di CNA, sebuah lembaga think tank AS.
“Orang-orang memperhatikan apa yang terjadi pada politik domestik China,seperti mereka mengamati pemilu AS.”
Xiao Minjie, seorang ekonom independen yang berbasis di Tokyo, menuturkan, menunggu apakah Jinping bakal muncul pada peringatan hari nasional China pada 1 Oktober mendatang, sebelum membaca apa yang terjadi saat ini.
“Menilai dari fakta bahwa pejabat top lain China bertindak normal, mungkin ini hanyalah masalah kesehatannya dan bukan tanda terjadinya sesuatu yang luar biasa,”papar dia kepada Reuters.
(aww)