Keberadaan Xi Jinping misterius
Rabu, 12 September 2012 - 10:21 WIB
Keberadaan Xi Jinping misterius
A
A
A
Sindonews.com - Keberadaan Wakil Presiden China Xi Jinping menjadi rumor dan spekulasi menyebar di negara itu,setelah pria yang digadang-gadangi bakal menggantikan posisi Hu Jintao sebagai presiden kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia itu tidak muncul di hadapan publik selama lebih dari sepekan.
Jinping telah membatalkan beberapa pertemuan penting. Dia bahkan membatalkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton pekan lalu dan Perdana Menteri (PM) Denmark Helle Thorning- Schmidt. Wapres China itu juga membatalkan pertemuan penting dengan Partai Komunis pada Jumat (7/9).
Seperti dikutip AFP, sebelumnya, pada Rabu pekan lalu, Kementerian Luar Negeri China telah mengumumkan rencana pertemuan antara Jinping dan Thorning-Schmidt. Pada hari yang sama pula, Jinping membatalkan pertemuan dengan Hillary, PM Singapura Lee Hsien Loong, dan seorang pejabat Rusia.
Menurut laporan BBC,pembatalan itu meramaikan hirukpikuk spekulasi tentang kesehatan Jinping di berbagai situs berita dan Twitter. Seperti diberitakan di laman berbahasa China yang berbasis di luar negeri, Jinping dikabarkan mengalami musibah kecelakaan mobil, namun tak lama laporan itu kemudian ditarik kembali. Rumor lain menyebut, Jinping mengalami cedera punggung saat berolahraga, entah itu sepak bola, berenang, atau golf.
Spekulasi lain yang muncul adalah Jinping mengalami serangan jantung ringan. Beberapa sumber Reuters kemarin menyebutkan, Jinping sedang menjalani perawatan karena sakit.Dia diduga mengalami cedera punggung saat sedang berenang.
“Jinping mengalami cedera punggung saat berenang,” ujar seorang sumber yang dekat dengan kepemimpinan top Beijing.
Sumber itu menolak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai cedera itu,termasuk kapan dan di mana insiden itu terjadi. Sumber lain juga hanya menyebut bahwa Jinping cedera saat berenang. “Otot punggungnya tertarik saat berenang,” ujar sumber yang tidak disebut namanya itu.
Sumber ketiga Reuters,yang juga menolak disebutkan identitasnya, menyebutkan bahwa itu bukanlah masalah besar. “Dia memang sedang sakit, tapi itu bukan masalah besar,” papar dia. Simpang siurnya kabar kondisi dan keberadaan Jinping itu membuat sejumlah wartawan penasaran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei pun tidak luput dari sasaran pertanyaan mengenai kondisi wapres itu kemarin. Tapi ketika ditanya mengenai masalah kesehatan Jinping, Hong mengaku tidak punya informasi terkait hal terse-but.
Dia tampak mengabaikan indikasi bahwa Jinping dalam kondisi sakit. “Saya harap kalian menanyakan pertanyaan yang serius,”ujar Hong saat diminta mengonfirmasi apa-kah Jinping masih hidup.
Absennya Jinping dinilai terjadi pada waktu yang tidak tepat karena saat ini China sedang sensitif, terkait para pemimpin komunis China yang tengah bersiap untuk menyerahkan tangkup kekuasaan kepada generasi baru,yang diperkirakan akan dipimpin Xi Jinping. Rencananya kongres akan digelar dalam beberapa pekan mendatang.
“Jelas pemerintah China juga prihatin tentang berita yang mungkin membuat spekulasi yang merugikan mengenai proses suksesi kepemimpinan,” terang mahasiswa di Universitas Hong Kong, Joseph Cheng.“Mereka begitu cemas dan sensitif. (Hasilnya adalah) mereka belum bertindak dengan bijaksana.”
Jinping telah membatalkan beberapa pertemuan penting. Dia bahkan membatalkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton pekan lalu dan Perdana Menteri (PM) Denmark Helle Thorning- Schmidt. Wapres China itu juga membatalkan pertemuan penting dengan Partai Komunis pada Jumat (7/9).
Seperti dikutip AFP, sebelumnya, pada Rabu pekan lalu, Kementerian Luar Negeri China telah mengumumkan rencana pertemuan antara Jinping dan Thorning-Schmidt. Pada hari yang sama pula, Jinping membatalkan pertemuan dengan Hillary, PM Singapura Lee Hsien Loong, dan seorang pejabat Rusia.
Menurut laporan BBC,pembatalan itu meramaikan hirukpikuk spekulasi tentang kesehatan Jinping di berbagai situs berita dan Twitter. Seperti diberitakan di laman berbahasa China yang berbasis di luar negeri, Jinping dikabarkan mengalami musibah kecelakaan mobil, namun tak lama laporan itu kemudian ditarik kembali. Rumor lain menyebut, Jinping mengalami cedera punggung saat berolahraga, entah itu sepak bola, berenang, atau golf.
Spekulasi lain yang muncul adalah Jinping mengalami serangan jantung ringan. Beberapa sumber Reuters kemarin menyebutkan, Jinping sedang menjalani perawatan karena sakit.Dia diduga mengalami cedera punggung saat sedang berenang.
“Jinping mengalami cedera punggung saat berenang,” ujar seorang sumber yang dekat dengan kepemimpinan top Beijing.
Sumber itu menolak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai cedera itu,termasuk kapan dan di mana insiden itu terjadi. Sumber lain juga hanya menyebut bahwa Jinping cedera saat berenang. “Otot punggungnya tertarik saat berenang,” ujar sumber yang tidak disebut namanya itu.
Sumber ketiga Reuters,yang juga menolak disebutkan identitasnya, menyebutkan bahwa itu bukanlah masalah besar. “Dia memang sedang sakit, tapi itu bukan masalah besar,” papar dia. Simpang siurnya kabar kondisi dan keberadaan Jinping itu membuat sejumlah wartawan penasaran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei pun tidak luput dari sasaran pertanyaan mengenai kondisi wapres itu kemarin. Tapi ketika ditanya mengenai masalah kesehatan Jinping, Hong mengaku tidak punya informasi terkait hal terse-but.
Dia tampak mengabaikan indikasi bahwa Jinping dalam kondisi sakit. “Saya harap kalian menanyakan pertanyaan yang serius,”ujar Hong saat diminta mengonfirmasi apa-kah Jinping masih hidup.
Absennya Jinping dinilai terjadi pada waktu yang tidak tepat karena saat ini China sedang sensitif, terkait para pemimpin komunis China yang tengah bersiap untuk menyerahkan tangkup kekuasaan kepada generasi baru,yang diperkirakan akan dipimpin Xi Jinping. Rencananya kongres akan digelar dalam beberapa pekan mendatang.
“Jelas pemerintah China juga prihatin tentang berita yang mungkin membuat spekulasi yang merugikan mengenai proses suksesi kepemimpinan,” terang mahasiswa di Universitas Hong Kong, Joseph Cheng.“Mereka begitu cemas dan sensitif. (Hasilnya adalah) mereka belum bertindak dengan bijaksana.”
(aww)