Gempa bumi 5,6 SR di China tewaskan 50 orang
Sabtu, 08 September 2012 - 13:00 WIB
Gempa bumi 5,6 SR di China tewaskan 50 orang
A
A
A
Sindonews.com - Dua gempa berkekuatan 5,6 skala Ritcher yang mengguncang kawasan perbatasan Provinsi Yunan dan Guizhou di China kemarin telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai 150 lainnya.
Gempa yang pertama terjadi pada pukul 11.20 waktu setempat (10.20 WIB) berada di kedalaman 10 km dan disusul gempa kedua satu jam kemudian. Akibat gempa itu, sekitar 100.000 orang terpaksa kehilangan tempat tinggal dan 200.000 rumah runtuh atau rusak.
Tayangan televisi dari CCTV memperlihatkan ratusan orang berkumpul di jalanan di Yiliang, yang tampaknya menjadi korban terparah gempa itu dengan jalanan dipenuhi batu bata dan batu yang berjatuhan.
Warga setempat menggambarkan bagaimana orang berlarian dari gedung dengan berteriak-teriak ketika gempa mengguncang.
“Saya sedang berjalan di jalan ketika tiba-tiba saya merasa tanah di bawah saya bergetar. Orang mulai keluar dari bangunan dan berteriak. Saya masih ketakutan jika ingat,” tulis seorang pengguna Sina Weibo, microblogging mirip Twitter di China, seperti dikutip AFP. Sebagian besar berasal dari Yiliang di Yunnan.
Hingga tengah hari otoritas telah mengungsikan lebih dari 100.000 orang dari area itu dan lebih dari 60 gempa susulan telah terjadi. Tidak ada korban tewas yang dilaporkan di Provinsi Guizhou. Seorang pekerja di No 2 Renmin Hospital di Kota Zhaotong memaparkan staf medis sibuk menangani korban luka.
“Kami menangani korban luka, tapi belum punya angka pastinya dan kami tidak bisa memberikan komentar tanpa persetujuan pemerintah,” ujar dia kepada Reuters.
Bangunan di kawasan yang kurang berkembang di China seringkali dibuat tanpa memenuhi seluruh standar konstruksi yang menyebabkannya rapuh terhadap gempa.
“Bagian tersulit dari upaya penyelamatan saat ini adalah lalu lintas. Jalanan terhambat dan para penyelamat harus mendaki gunung untuk mencapai desa-desa yang terkena dampak gempa,” papar Li Fuchun, pejabat dari Louzehe, kota pada episentrum gempa, kepada Xinhua.
Korban tewas mungkin akan meningkat begitu para penyelamat mencapai desa-desa yang terisolasi akibat tanah longsor. Sedangkan Federasi Palang Merah Internasional dan Masyarakat Bulan Sabit Merah memaparkan, banyak bangunan di area itu dibangun dengan lumpur dan kayu yang menyebabkannya lebih rapuh untuk runtuh.
“Di sisi lain mengevakuasi orang-orang yang terjebak di bangunan itu mungkin lebih mudah daripada yang di bawah rumah beton atau batu bata, yang artinya mungkin akan lebih banyak korban luka.”
Pada 2008 sekitar 87.600 orang tewas ketika gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Provinsi Sichuan di barat daya China. Sedangkan pada April 2010 gempa berkekuatan 6,9 SR menewaskan sekitar 3.000 orang di Provinsi Qinghai.
Gempa yang pertama terjadi pada pukul 11.20 waktu setempat (10.20 WIB) berada di kedalaman 10 km dan disusul gempa kedua satu jam kemudian. Akibat gempa itu, sekitar 100.000 orang terpaksa kehilangan tempat tinggal dan 200.000 rumah runtuh atau rusak.
Tayangan televisi dari CCTV memperlihatkan ratusan orang berkumpul di jalanan di Yiliang, yang tampaknya menjadi korban terparah gempa itu dengan jalanan dipenuhi batu bata dan batu yang berjatuhan.
Warga setempat menggambarkan bagaimana orang berlarian dari gedung dengan berteriak-teriak ketika gempa mengguncang.
“Saya sedang berjalan di jalan ketika tiba-tiba saya merasa tanah di bawah saya bergetar. Orang mulai keluar dari bangunan dan berteriak. Saya masih ketakutan jika ingat,” tulis seorang pengguna Sina Weibo, microblogging mirip Twitter di China, seperti dikutip AFP. Sebagian besar berasal dari Yiliang di Yunnan.
Hingga tengah hari otoritas telah mengungsikan lebih dari 100.000 orang dari area itu dan lebih dari 60 gempa susulan telah terjadi. Tidak ada korban tewas yang dilaporkan di Provinsi Guizhou. Seorang pekerja di No 2 Renmin Hospital di Kota Zhaotong memaparkan staf medis sibuk menangani korban luka.
“Kami menangani korban luka, tapi belum punya angka pastinya dan kami tidak bisa memberikan komentar tanpa persetujuan pemerintah,” ujar dia kepada Reuters.
Bangunan di kawasan yang kurang berkembang di China seringkali dibuat tanpa memenuhi seluruh standar konstruksi yang menyebabkannya rapuh terhadap gempa.
“Bagian tersulit dari upaya penyelamatan saat ini adalah lalu lintas. Jalanan terhambat dan para penyelamat harus mendaki gunung untuk mencapai desa-desa yang terkena dampak gempa,” papar Li Fuchun, pejabat dari Louzehe, kota pada episentrum gempa, kepada Xinhua.
Korban tewas mungkin akan meningkat begitu para penyelamat mencapai desa-desa yang terisolasi akibat tanah longsor. Sedangkan Federasi Palang Merah Internasional dan Masyarakat Bulan Sabit Merah memaparkan, banyak bangunan di area itu dibangun dengan lumpur dan kayu yang menyebabkannya lebih rapuh untuk runtuh.
“Di sisi lain mengevakuasi orang-orang yang terjebak di bangunan itu mungkin lebih mudah daripada yang di bawah rumah beton atau batu bata, yang artinya mungkin akan lebih banyak korban luka.”
Pada 2008 sekitar 87.600 orang tewas ketika gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Provinsi Sichuan di barat daya China. Sedangkan pada April 2010 gempa berkekuatan 6,9 SR menewaskan sekitar 3.000 orang di Provinsi Qinghai.
(hyk)