Tak pedulikan Rohingya, Iran kecam PBB
Minggu, 22 Juli 2012 - 17:30 WIB
Tak pedulikan Rohingya, Iran kecam PBB
A
A
A
Sindonews.com – Iran mengecam sikap diam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas masalah yang dihadapi oleh kelompok muslim Myanmar (Rohingya). Iran juga mendesak PBB segera mengirimkan pasukan perdamaian ke Asia Tenggara.
"Mengapa anda tidak mengirim pasukan perdamaian untuk membantu muslim di Myanmar seperti anda mengirim pasukan perdamaian untuk membantu kaum muslim di Suriah," ungkap Juru bicara Majelis Iran Ali Larijani seperti diberitakan dalam Presstv, Minggu (22/7/2012).
Berdasarkan laporan data terakhir, sebanyak 650 ribu muslim Myanmar dilaporkan tewas pada 28 Juni akibat bentrok di wilayah Rakhine, Myanmar bagian barat. Sampai saat ini, sebanyal 1.200 orang dinyatakan hilang, sementara itu lebih dari 90 ribu penduduk tidak punya tempat tinggal.
Hak-hak dasar mereka sebagai manusia telah dirampas, mereka tidak mendapatkan hak untuk belajar dan bekerja, mereka bahkan dipaksa menjadi tenaga kerja paksa, mengalami pemerasan dan berbagai tindakan koersif lainya.
Selain itu, mereka juga dianggap bukan bagian dari penduduk asli Myanmar melainkan imigran gelap, meskipun mereka telah bermukim selama beberapa generasi di Myanmar.
Sementara itu, Presiden Myanmar Thein Sein pada Jumat 20 Juli lalu menyatakan, kaum Muslim Rohingya harus diusir dari negeri dan dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola oleh PBB.
Setidaknya 78 orang tewas di Myanmar selama enam minggu terakhir, setelah keadaan darurat diumumkan di bagian barat Rakhine.
"Mengapa anda tidak mengirim pasukan perdamaian untuk membantu muslim di Myanmar seperti anda mengirim pasukan perdamaian untuk membantu kaum muslim di Suriah," ungkap Juru bicara Majelis Iran Ali Larijani seperti diberitakan dalam Presstv, Minggu (22/7/2012).
Berdasarkan laporan data terakhir, sebanyak 650 ribu muslim Myanmar dilaporkan tewas pada 28 Juni akibat bentrok di wilayah Rakhine, Myanmar bagian barat. Sampai saat ini, sebanyal 1.200 orang dinyatakan hilang, sementara itu lebih dari 90 ribu penduduk tidak punya tempat tinggal.
Hak-hak dasar mereka sebagai manusia telah dirampas, mereka tidak mendapatkan hak untuk belajar dan bekerja, mereka bahkan dipaksa menjadi tenaga kerja paksa, mengalami pemerasan dan berbagai tindakan koersif lainya.
Selain itu, mereka juga dianggap bukan bagian dari penduduk asli Myanmar melainkan imigran gelap, meskipun mereka telah bermukim selama beberapa generasi di Myanmar.
Sementara itu, Presiden Myanmar Thein Sein pada Jumat 20 Juli lalu menyatakan, kaum Muslim Rohingya harus diusir dari negeri dan dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola oleh PBB.
Setidaknya 78 orang tewas di Myanmar selama enam minggu terakhir, setelah keadaan darurat diumumkan di bagian barat Rakhine.
()