SBY kecewa ASEAN tak keluarkan joint komunike
Kamis, 19 Juli 2012 - 17:35 WIB
SBY kecewa ASEAN tak keluarkan joint komunike
A
A
A
Sindonews.com - Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kekecewaannya terhadap Forum Regional Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). SBY kecewa karena untuk kali kali pertama forum tersebut tidak mengeluarkan joint komunike
"Sebagaimana saudara ketahui, bahwa kali ini pertemuan ASEAN pada tingkat menteri tidak mengeluarkan joint komunike, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pada hakikatnya semenjak ASEAN berdiri belum pernah terjadi,"ungkap SBY dalam pernyataan pers di Kantor Presiden Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (16/7/2012).
SBY mengatakan, hal itu mengundang pertanyaan bagi publik ASEAN maupun internasional.
’’Saya terus berkomunikasi dengan Menlu kita, saudara Marty Natalegawa, yang mengikuti pertemuan tingkat menteri tersebut. Pagi ini, Marty setelah resmi, secara lebih lengkap Marty menuturkan situasi yang terjadi dalam persidangan di Kamboja.’’
SBY mengatakan kepada Marty, ketiadaan join komunike itu bisa menyebabkan kesimpulan yang keliru tentang ASEAN. Terbukti dengan adanya media internsional menyebutkan ASEAN telah pecah. Padahal kata dia, serumit apa pun permasalahan yang dihadapi ASEAN pasti ada jalan keluarnya.
’’Yang baru saja terjadi pada pertemuan ini bisa menimbulkan persepsi atau gambaran yang keliru tentang ASEAN. Media internasional katakan ASEAN pecah, tak ada unity pada ASEAN. Saya tidak setuju. ASEAN tidak pecah, tidak ada disunity di ASEAN meski ada isu, masalah yang harus ASEAN selesaikan. Mestinya, serumit apa pun masalah, selalu ada titik temu, konsensus. itu tradisi dan budaya pola ASEAN yang dijalankan selama ini, atau The ASEAN Way. Serumit, sekompleks apa pun akhirnya bisa dibangun konsensus yang akhirnya dimunculkan dalam sebuah joint komunike, bahkan banyak yang jadi agreement,” imbuh SBY.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, pertemuan menteri sebelumnya yang hanya membahas Myanmar dan sengketa perbatasan Thailand dan Kamboja. Kedua isu itu pun dengan lancar bisa diselesaikan dalam pertemuan ASEAN.
SBY menjelaskan ketiadaan joint komunike disebabkan isu laut China Selatan yang hingga kini masih menjadi sengketa antara China, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Vietnam. ’’Saya mengetahui bahwa yang menyebabkan joint komunike tidak bisa dikeluarkan karena menyangkut masalah sensitif, yaitu isu laut China Selatan,” tutur SBY.
’’Saya mengetahui bahwa yang menyebabkan joint komunike tidak bisa dikeluarkan karena menyangkut masalah sensitif, yaitu isu laut China Selatan. Kita tahu bahwa di tahun-tahun sebelum 2012, yang kerap jadi agenda yang mengemuka dan jadi perhatian adalah isu Myanmar, konflik perbatasan Thailand-Kamboja. Berkat kebersamaan ASEAN, kedua isu itu telah dapat kita selesaikan, akhirnya tidak lagi jadi isu yang panas. Terbukti dalam pertemuan tingkat tinggi kali ini, kedua isu ini tidak dijadikan isu yang jadi perhatian yang tidak semestinya,” jelas SBY.
Walaupun suasana pertemuan berlangsung tegang karena kehadirian Filipina dan China. Namun, SBY menilai semua masalah yang ada pun bisa dirumuskan dengan cara-cara yang baik, dan tidak perlu menyalahkan China Filipina. Peserta rapat hendaknya tidak menghindari masalah yang ada, tetapi mengelola dengan perspektif yang lebih jernih. Ada baiknya masalah yang ada dibahas dengan tujuan menjaga stabilitas di kawasan ini.
Kini pertemuan telah usai, empat bulan mendatang ASEAN akan menggelar pertemuan tingkat puncak yang diikuti oleh 10 kepala pemerintahan ASEAN.
"Sebagaimana saudara ketahui, bahwa kali ini pertemuan ASEAN pada tingkat menteri tidak mengeluarkan joint komunike, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Pada hakikatnya semenjak ASEAN berdiri belum pernah terjadi,"ungkap SBY dalam pernyataan pers di Kantor Presiden Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (16/7/2012).
SBY mengatakan, hal itu mengundang pertanyaan bagi publik ASEAN maupun internasional.
’’Saya terus berkomunikasi dengan Menlu kita, saudara Marty Natalegawa, yang mengikuti pertemuan tingkat menteri tersebut. Pagi ini, Marty setelah resmi, secara lebih lengkap Marty menuturkan situasi yang terjadi dalam persidangan di Kamboja.’’
SBY mengatakan kepada Marty, ketiadaan join komunike itu bisa menyebabkan kesimpulan yang keliru tentang ASEAN. Terbukti dengan adanya media internsional menyebutkan ASEAN telah pecah. Padahal kata dia, serumit apa pun permasalahan yang dihadapi ASEAN pasti ada jalan keluarnya.
’’Yang baru saja terjadi pada pertemuan ini bisa menimbulkan persepsi atau gambaran yang keliru tentang ASEAN. Media internasional katakan ASEAN pecah, tak ada unity pada ASEAN. Saya tidak setuju. ASEAN tidak pecah, tidak ada disunity di ASEAN meski ada isu, masalah yang harus ASEAN selesaikan. Mestinya, serumit apa pun masalah, selalu ada titik temu, konsensus. itu tradisi dan budaya pola ASEAN yang dijalankan selama ini, atau The ASEAN Way. Serumit, sekompleks apa pun akhirnya bisa dibangun konsensus yang akhirnya dimunculkan dalam sebuah joint komunike, bahkan banyak yang jadi agreement,” imbuh SBY.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, pertemuan menteri sebelumnya yang hanya membahas Myanmar dan sengketa perbatasan Thailand dan Kamboja. Kedua isu itu pun dengan lancar bisa diselesaikan dalam pertemuan ASEAN.
SBY menjelaskan ketiadaan joint komunike disebabkan isu laut China Selatan yang hingga kini masih menjadi sengketa antara China, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Vietnam. ’’Saya mengetahui bahwa yang menyebabkan joint komunike tidak bisa dikeluarkan karena menyangkut masalah sensitif, yaitu isu laut China Selatan,” tutur SBY.
’’Saya mengetahui bahwa yang menyebabkan joint komunike tidak bisa dikeluarkan karena menyangkut masalah sensitif, yaitu isu laut China Selatan. Kita tahu bahwa di tahun-tahun sebelum 2012, yang kerap jadi agenda yang mengemuka dan jadi perhatian adalah isu Myanmar, konflik perbatasan Thailand-Kamboja. Berkat kebersamaan ASEAN, kedua isu itu telah dapat kita selesaikan, akhirnya tidak lagi jadi isu yang panas. Terbukti dalam pertemuan tingkat tinggi kali ini, kedua isu ini tidak dijadikan isu yang jadi perhatian yang tidak semestinya,” jelas SBY.
Walaupun suasana pertemuan berlangsung tegang karena kehadirian Filipina dan China. Namun, SBY menilai semua masalah yang ada pun bisa dirumuskan dengan cara-cara yang baik, dan tidak perlu menyalahkan China Filipina. Peserta rapat hendaknya tidak menghindari masalah yang ada, tetapi mengelola dengan perspektif yang lebih jernih. Ada baiknya masalah yang ada dibahas dengan tujuan menjaga stabilitas di kawasan ini.
Kini pertemuan telah usai, empat bulan mendatang ASEAN akan menggelar pertemuan tingkat puncak yang diikuti oleh 10 kepala pemerintahan ASEAN.
()