Embargo minyak justru untungkan Iran
Sabtu, 07 Juli 2012 - 04:24 WIB
Embargo minyak justru untungkan Iran
A
A
A
Sindonews.com – Saat ini, Amerika Serikat (AS) telah menjebloskan Uni Eropa (European Union/EU) pada usaha "bunuh diri keuangan" setelah mengajak sekutunya itu memboikot sektor minyak Iran. Padahal, Eropa sedang dilanda krisis ekonomi berkepanjangan.
"Aksi AS menuntut Eropa untuk bertindak melawan kepentingan nasional mereka ini perlu dipertanyakan. Pasalnya, EU harus membayar harga yang lebih tinggi dengan memboikot minyak Iran,” ujar seorang peneliti independen, Soraya Sepahpour-Ulrich di situs global Research.
Sepahpour mengatakan, harga pemberlakuan embargo tersebut tidak akan ditanggung Iran sendiri. Iran dapat menunda perjalanan tanker minyak karena berhak memeriksa setiap kapal yang melewati Selat Hormuz. Inspeksi itu akan menghambat pengiriman minyak dan menyebabkan peningkatan harga minyak.
"Harga minyak yang lebih tinggi justru akan menguntungkan Iran dan negara penghasil minyak lainnya. Sebaliknya, melambungnya harga minyak jelas mengguncang perekonomian Eropa yang sudah berada dalam krisis," ujar dia. Sebagaimana dilansir dalam Presstv, Sabtu (7/7/2012).
Sementara Anggota parlemen Iran, Ebrahim Aqa-Mohammadi mengumumkan, parlemen berencana untuk menutup Selat Hormuz. Tindakan itu merupakan reaksi terhadap embargo EU yang dipimpin AS pada industri minyak Iran.
Selain mampu menghentikan impor minyak ke AS dan EU, Iran juga bisa memblokir tanker minyak dari beberapa produsen minyak di sekitarnya yang menuju negara tersebut. Selat Hormuz adalah jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia di sebelah barat Laut Oman. Secara statistik, jalur ini merupakan salah satu rute yang paling penting di dunia pelayaran, dengan aliran minyak sekitar 15 juta barel per hari.
Sebelumnya, AS juga telah memberlakukan beberapa sanksi untuk menekan Iran atas program energi nuklirnya yang dinilai berbahaya. Sementara Iran menolak semua tuduhan tersebut dengan alasan tindakan itu merupakan komitmen atas penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi nuklir dan anggota Badan Energi Atom Internasional. Iran mengklaim menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
"Aksi AS menuntut Eropa untuk bertindak melawan kepentingan nasional mereka ini perlu dipertanyakan. Pasalnya, EU harus membayar harga yang lebih tinggi dengan memboikot minyak Iran,” ujar seorang peneliti independen, Soraya Sepahpour-Ulrich di situs global Research.
Sepahpour mengatakan, harga pemberlakuan embargo tersebut tidak akan ditanggung Iran sendiri. Iran dapat menunda perjalanan tanker minyak karena berhak memeriksa setiap kapal yang melewati Selat Hormuz. Inspeksi itu akan menghambat pengiriman minyak dan menyebabkan peningkatan harga minyak.
"Harga minyak yang lebih tinggi justru akan menguntungkan Iran dan negara penghasil minyak lainnya. Sebaliknya, melambungnya harga minyak jelas mengguncang perekonomian Eropa yang sudah berada dalam krisis," ujar dia. Sebagaimana dilansir dalam Presstv, Sabtu (7/7/2012).
Sementara Anggota parlemen Iran, Ebrahim Aqa-Mohammadi mengumumkan, parlemen berencana untuk menutup Selat Hormuz. Tindakan itu merupakan reaksi terhadap embargo EU yang dipimpin AS pada industri minyak Iran.
Selain mampu menghentikan impor minyak ke AS dan EU, Iran juga bisa memblokir tanker minyak dari beberapa produsen minyak di sekitarnya yang menuju negara tersebut. Selat Hormuz adalah jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia di sebelah barat Laut Oman. Secara statistik, jalur ini merupakan salah satu rute yang paling penting di dunia pelayaran, dengan aliran minyak sekitar 15 juta barel per hari.
Sebelumnya, AS juga telah memberlakukan beberapa sanksi untuk menekan Iran atas program energi nuklirnya yang dinilai berbahaya. Sementara Iran menolak semua tuduhan tersebut dengan alasan tindakan itu merupakan komitmen atas penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi nuklir dan anggota Badan Energi Atom Internasional. Iran mengklaim menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
()