Ketua DPR AS Perintahkan Susun Pasal Pemakzulan Trump

Jum'at, 06 Desember 2019 - 07:35 WIB
Ketua DPR AS Perintahkan...
Ketua DPR AS Perintahkan Susun Pasal Pemakzulan Trump
A A A
WASHINGTON - Ketua Parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS), Nancy Pelosi, mengeluarkan perintah untuk menyusun pasal-pasal pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump. Sebaliknya, presiden justru menantang Parlemen yang dikuasai Partai Demokrat untuk memakzulkannya dengan cepat.

Perintah pemimpin Parlemen dari Partai Demokrat itu ditujukan kepada Ketua Komite Kehakiman DPR. Pelosi juga mengisyaratkan bahwa pemungutan suara resmi untuk melengserkan presiden ke-45 Amerika tersebut sudah pasti.

Jika pelengseran ini benar-benar terjadi, maka Trump menjadi presiden ketiga dalam sejarah AS yang dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

"Sedihnya, tetapi dengan keyakinan dan kerendahan hati, dengan kesetiaan kepada pendiri kami dan hati yang penuh cinta untuk Amerika, hari ini saya meminta ketua kami untuk melanjutkan dengan pasal-pasal pemakzulan," kata Pelosi dalam sebuah pernyataan di televisi, sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (6/12/2019).

"Trump telah terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan, merusak keamanan nasional kita dan membahayakan integritas pemilu kita," katanya lagi."Presiden tidak memberi kita pilihan selain bertindak."

Trump merespons langkah Pelosi dengan menantang DPR agar memakzulkannya secepat mungkin. "Sekarang, cepat," kata Trump, yang yakin dia akan memenangkan pertarungan politik ini karena keputusan akhir ada di Senat yang saat ini dikuasai Partai Republik, partai pendukungnya.

Dalam konferensi pers, Pelosi sekilas menunjukkan kemarahan ketika seorang wartawan bertanya apakah dia membenci presiden Trump.

"Saya tidak membenci siapa pun," balasnya, menunjuk ke arah wartawan dalam konfrontasi yang luar biasa.

"Saya berdoa untuk presiden sepanjang waktu. Jadi, jangan main-main dengan saya dalam hal kata-kata seperti itu," imbuh dia.

Pelosi tidak mengumumkan rincian dakwaan yang akan diajukan untuk pemakzulan terhadap Trump, tetapi pihaknya kemungkinan menggunakan dalih penyalahgunaan kekuasaan, obstruksi Kongres dan obstruksi keadilan.

"Presiden menyalahgunakan kekuasaannya untuk keuntungan politiknya sendiri," kata Pelosi, merujuk langkah Trump yang menahan bantuan militer dan pertemuan di Gedung Putih sebagai imbalan atas komitmen Ukraina untuk menyelidiki Joe Biden, rival potensial dari Demokrat dalam pemilihan presiden 2020.

"Jika kita membiarkan seorang presiden berada di atas hukum, kita pasti melakukannya atas risiko republik kita," ujarnya.

Gedung Putih, yang telah menolak untuk bekerja sama dengan penyelidikan pemakzulan, mengatakan Partai Demokrat harus malu karena memicu pemakzulan presiden.
(mas)
Berita Terkait
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Kemenangan Biden Makin Nyata
Pasar Taruhan Unggulkan...
Pasar Taruhan Unggulkan Trump Menangkan Pilpres Amerika Serikat 2024
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Pertarungan Retorika...
Pertarungan Retorika Penuh Intrik di Pilpres Amerika Serikat
Akui Kekalahan dari...
Akui Kekalahan dari Donald Trump di Pilpres AS, Kamala Harris Sampaikan Pidato Konsesi
Berita Terkini
Siapa Liao Dan? Pria...
Siapa Liao Dan? Pria yang Dijuluki Penipu Paling Setia di China
1 jam yang lalu
Trump: 2 Minggu Lagi,...
Trump: 2 Minggu Lagi, AS Nyatakan Kemenangan Total atas Iran!
1 jam yang lalu
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz, Ditembak Iran?
2 jam yang lalu
Jet Tempur Masa Depan...
Jet Tempur Masa Depan untuk Menggantikan Rafale dan Eurofighter Gagal Terwujud, Ini 4 Alasannya
2 jam yang lalu
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
2 jam yang lalu
Bela Iran, Houthi Larang...
Bela Iran, Houthi Larang Seluruh Kapal Israel Lewat Laut Merah
3 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved