Ajak Duduk Satu Meja, Rouhani Sebut AS Tawarkan Hapus Semua Sanksi
Jum'at, 27 September 2019 - 22:23 WIB
Ajak Duduk Satu Meja, Rouhani Sebut AS Tawarkan Hapus Semua Sanksi
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan, Amerika Serikat (AS) menawarkan untuk menghapus semua sanksi terhadap Iran dengan imbalan duduk satu meja. Namun Teheran belum menerima tawaran itu karena "atmosfer beracun" saat ini.
Hal itu diungkapkan Rouhani sekembalinya dari Majelis Umum PBB di New York. Menurutnya, ia di sana bertemu dengan para pejabat AS atas desakan Jerman, Inggris, dan Prancis.
"Sudah diperdebatkan sanksi apa yang akan dicabut dan mereka (Amerika Serikat) mengatakan dengan jelas bahwa kami akan mencabut semua sanksi," kata Rouhani, menurut situs resminya seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (27/9/2019).
Rouhani menegaskan bahwa Iran siap untuk negosiasi tetapi tidak dalam suasana sanksi dan tekanan.
"Tindakan ini tidak dapat diterima, yang berarti bahwa dalam suasana sanksi dan adanya sanksi dan suasana beracun tekanan maksimum, bahkan jika kita ingin bernegosiasi dengan Amerika dalam kerangka 5 + 1, tidak ada orang dapat memprediksi apa akhir dan hasil dari negosiasi ini,” tuturnya.
Rouhani sendiri tidak bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di New York dan pejabat Eropa. Sementara Teluk mengharapkan Washington untuk terus memperketat sifat buruk ekonomi Iran.
AS dan Iran berselisih soal sejumlah masalah, termasuk penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran 2015, tuduhan AS bahwa Iran menyerang dua fasilitas minyak Saudi pada 14 September, dan penahanan Iran terhadap warga AS atas apa yang dianggap Amerika Serikat sebagai alasan palsu.
Hal itu diungkapkan Rouhani sekembalinya dari Majelis Umum PBB di New York. Menurutnya, ia di sana bertemu dengan para pejabat AS atas desakan Jerman, Inggris, dan Prancis.
"Sudah diperdebatkan sanksi apa yang akan dicabut dan mereka (Amerika Serikat) mengatakan dengan jelas bahwa kami akan mencabut semua sanksi," kata Rouhani, menurut situs resminya seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (27/9/2019).
Rouhani menegaskan bahwa Iran siap untuk negosiasi tetapi tidak dalam suasana sanksi dan tekanan.
"Tindakan ini tidak dapat diterima, yang berarti bahwa dalam suasana sanksi dan adanya sanksi dan suasana beracun tekanan maksimum, bahkan jika kita ingin bernegosiasi dengan Amerika dalam kerangka 5 + 1, tidak ada orang dapat memprediksi apa akhir dan hasil dari negosiasi ini,” tuturnya.
Rouhani sendiri tidak bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di New York dan pejabat Eropa. Sementara Teluk mengharapkan Washington untuk terus memperketat sifat buruk ekonomi Iran.
AS dan Iran berselisih soal sejumlah masalah, termasuk penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran 2015, tuduhan AS bahwa Iran menyerang dua fasilitas minyak Saudi pada 14 September, dan penahanan Iran terhadap warga AS atas apa yang dianggap Amerika Serikat sebagai alasan palsu.
(ian)