Kejam, Orangutan Kalimatan Ditembak 130 Kali dan Disabet Parang

Senin, 23 September 2019 - 10:59 WIB
Kejam, Orangutan Kalimatan...
Kejam, Orangutan Kalimatan Ditembak 130 Kali dan Disabet Parang
A A A
JAKARTA - Seorang dokter hewan Inggris berjuang mati-matian untuk menyelamatkan orangutan yang telah ditembak 130 kali dan disabet dengan parang di Kalimantan.

Paul Ramos, dari Stratford Upon Avon, berada di Kalimantan untuk melihat penderitaan hewan-hewan yang terancam punah. Dia bekerja dengan badan amal tersebut untuk menyelamatkan mereka.

Kanto berita BBC melaporkan, Ramos awalnya bertemu dengan orangutan muda yang telah diserang secara brutal di dekat perkebunan kelapa sawit. Orangutan jantan berusia lima tahun itu sangat kurus sehingga dokter hewan awalnya mengira satwa itu betina.

Mamalia tersebut ditemukan menempel pada cabang pohon, dan ketika dia dibawa untuk dirawat, diketahui bahwa satwa itu telah ditembak 130 kali dan diserang dengan parang.

Terlepas dari upaya Paul dan polisi hutan setempat, orangutan muda menyerah pada luka-lukanya.

Ramos mengatakan insiden itu sangat memilukan. "Apa yang terjadi pada malam khusus itu mengubah hidup saya," katanya kepada BBC, yang dilansir Mirror, Senin (23/9/2019).

"Kami mendapat telepon dari penjaga taman. Ada orangutan yang terluka ditemukan di luar perkebunan kelapa sawit," ujarnya. "Jelas sudah sekarat dan kita mungkin sudah terlambat," katanya.

"Pada malam itu saya melihat hal-hal mengerikan yang mampu (manusia) lakukan, tetapi pada saat yang sama saya melihat orang-orang luar biasa melakukan hal-hal luar biasa untuk menyelamatkan hewan-hewan yang luar biasa ini," katanya.

"Ini adalah hewan dengan emosi, sejarah dan keluarga," paparnya.

Angka-angka baru yang mengkhawatirkan menunjukkan bahwa populasi orangutan turun 25 setiap hari. Menurut data World Wildlife Fund, satu abad yang lalu ada lebih dari 230.000 orangutan yang tinggal di seluruh Asia Tenggara.

Saat ini, jumlah itu menyusut menjadi 41.000 di Kalimantan dan 7.500 di Sumatra. Di kedua pulau itulah, satwa yang terancam punah itu masih dapat ditemukan.

Mereka tetap berada di bawah ancaman konstan karena petak besar hutan hujan tropis telah dirampas untuk lahan pertanian, perkebunan kelapa sawit dan pembangunan kota.

Minyak kelapa sawit digunakan dalam berbagai produk, seperti produk makanan mulai dari es krim, pizza, roti hingga cokelat, serta produk kosmetik, detergen, dan biofuel.

Tetapi sebelum perkebunan dibuka, kebakaran hutan biasanya muncul. Ketika pembakaran hutan terjadi, satwa orangutan yang terjebak terancam mati.
(mas)
Berita Terkait
Kunjungan Menlu Inggris...
Kunjungan Menlu Inggris ke Indonesia
Prabowo Bertemu PM Inggris...
Prabowo Bertemu PM Inggris Keir Starmer, Bahas Peningkatan Kerja Sama Indonesia-Inggris
Kelahiran Bayi Badak...
Kelahiran Bayi Badak di Kebun Binatang Chester Inggris
50 Juta Vaksin Asal...
50 Juta Vaksin Asal Inggris Dipesan Pemerintah Indonesia
Satu Juta Vaksin Astrazeneca...
Satu Juta Vaksin Astrazeneca Tiba di Indonesia
Tim Bulutangkis Indonesia...
Tim Bulutangkis Indonesia Dipastikan Pulang Lebih Cepat
Berita Terkini
Taiwan Luncurkan Robot...
Taiwan Luncurkan Robot Anjing Bersenjata untuk Berbagai Misi
8 menit yang lalu
AS dan Iran Saling Balas...
AS dan Iran Saling Balas Serangan Rudal, Sirine Meraung di Kuwait dan Bahrain
42 menit yang lalu
Hamas Sangkal Tudingan...
Hamas Sangkal Tudingan Tolak Serahkan Pemerintahan di Gaza
2 jam yang lalu
AS Ungkap Pemimpin Tertinggi...
AS Ungkap Pemimpin Tertinggi Iran Masih Hidup, Makin Terlibat Melalui Perantara
2 jam yang lalu
Mantan Direktur CIA...
Mantan Direktur CIA Sebut Perang Drone Picu Bahaya dan Peluang, Ini 5 Alasannya
8 jam yang lalu
IRGC Izinkan 24 Kapal...
IRGC Izinkan 24 Kapal Melewati Selat Hormuz
12 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved