AS-Iran Terus Bersitegang, Rusia Khawatir Perang Pecah di Timur Tengah
Sabtu, 27 Juli 2019 - 16:24 WIB
AS-Iran Terus Bersitegang, Rusia Khawatir Perang Pecah di Timur Tengah
A
A
A
RIO DE JANEIRO - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, memperingatkan kemungkinan terjadinya konflik bersenjata skala penuh di Timur Tengah. Peringatan itu dikeluarkannya seiring meningkatnya eskalasi di Teluk Persia.
Berbicara pada pertemuan para menteri luar negeri BRICS di Rio de Janeiro, Brazil, Lavrov mengatakan langkah-langkah Amerika Serikat (AS) terhadap Iran telah menyebabkan peningkatan yang keras di wilayah Teluk Persia.
"Situasi telah mencapai titik berbahaya yang penuh dengan risiko bentrokan militer besar-besaran. Ini tidak dapat dibiarkan terjadi," katanya seperti dikutip dari Yeni Safak, Sabtu (27/7/2019).
Ketegangan telah memuncak antara AS dan Iran sejak Washington secara sepihak mengundurkan diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang penting tahun lalu. Perjanjian itu adalah hasil dari negosiasi yang berlarut-larut antara Teheran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah Jerman dan Uni Eropa.
AS sejak itu telah meluncurkan kampanye diplomatik dan ekonomi, untuk memaksa Iran menegosiasikan kembali kesepakatan tersebut. "Jika AS berhasil mematahkan kesepakatan nuklir Iran, itu akan memukul keras rezim non-proliferasi senjata nuklir," cetus Lavrov.
Lavrov sendiri meminta Iran untuk menahan diri sementara AS, Prancis serta Jerman didesaknya untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah kesepakatan nuklir 2015.
Berbicara pada pertemuan para menteri luar negeri BRICS di Rio de Janeiro, Brazil, Lavrov mengatakan langkah-langkah Amerika Serikat (AS) terhadap Iran telah menyebabkan peningkatan yang keras di wilayah Teluk Persia.
"Situasi telah mencapai titik berbahaya yang penuh dengan risiko bentrokan militer besar-besaran. Ini tidak dapat dibiarkan terjadi," katanya seperti dikutip dari Yeni Safak, Sabtu (27/7/2019).
Ketegangan telah memuncak antara AS dan Iran sejak Washington secara sepihak mengundurkan diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang penting tahun lalu. Perjanjian itu adalah hasil dari negosiasi yang berlarut-larut antara Teheran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah Jerman dan Uni Eropa.
AS sejak itu telah meluncurkan kampanye diplomatik dan ekonomi, untuk memaksa Iran menegosiasikan kembali kesepakatan tersebut. "Jika AS berhasil mematahkan kesepakatan nuklir Iran, itu akan memukul keras rezim non-proliferasi senjata nuklir," cetus Lavrov.
Lavrov sendiri meminta Iran untuk menahan diri sementara AS, Prancis serta Jerman didesaknya untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah kesepakatan nuklir 2015.
(ian)