Diperintahkan Bebaskan Kapal dan Pelaut Ukraina, Ini Jawaban Rusia

Minggu, 26 Mei 2019 - 03:29 WIB
Diperintahkan Bebaskan...
Diperintahkan Bebaskan Kapal dan Pelaut Ukraina, Ini Jawaban Rusia
A A A
MOSKOW - Kementerian Luar Negeri Rusia mengomentari keputusan Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut (ITLOS) yang mewajibkan Moskow untuk membebaskan para pelaut Ukraina. Pihak Rusia menyatakan bahwa kemungkinan untuk menerapkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982 untuk menyelesaikan insiden di Selat Kerch tidak mungkin.

"Sebagaimana pihak Rusia telah berulang kali nyatakan, pernyataan yang dibuat oleh Rusia dan Ukraina, ketika menandatangani dan meratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982, mengecualikan kemungkinan menggunakan prosedur penyelesaian sengketa Konvensi mengenai insiden 25 November 2018 di Selat Kerch," Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (26/5/2019).

Sebelumnya, pihak Rusia memberi tahu ITLOS bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam persidangan, karena pengadilan ini tidak memiliki yurisdiksi untuk mempertimbangkan Ukraina sehubungan dengan insiden Selat Kerch, ketika tiga kapal dari Angkatan Laut Ukraina melintasi perbatasan Rusia.

Pada 25 November, kapal perang Berdyansk dan Nikopol Ukraina, dan kapal tugboat Yany Kapu secara ilegal melintasi perbatasan laut Rusia ketika mereka berlayar menuju Selat Kerch, pintu masuk ke Laut Azov. Rusia menyita kapal-kapal Ukraina dan menahan anggota awak setelah mereka gagal menanggapi permintaan untuk berhenti. Setelah insiden itu, sebuah kasus kriminal tentang penyeberangan perbatasan dibuka di Rusia.

Moskow telah berulang kali mengecam upaya Kiev untuk menggambarkan para pelaut yang ditahan sebagai tawanan perang, menekankan bahwa mereka menghadapi tuntutan pidana. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa insiden itu adalah provokasi yang dipersiapkan sebelumnya sebagai alasan untuk menyatakan darurat militer di Ukraina, yang diumumkan setelah insiden itu dan berlangsung selama sebulan. Putin mengatakan provokasi itu mungkin terkait dengan peringkat rendah persetujuan mantan pemimpin Ukraina Petro Poroshenko sebelum pemilihan presiden.
(ian)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Rusia Terus Gempur Pertahanan...
Rusia Terus Gempur Pertahanan Pasukan Ukraina di Kota Urozhainoye, Donetsk Selatan
Sergey Surovikin Peringatkan...
Sergey Surovikin Peringatkan Bos Tentara Bayaran Berhenti Memberontak
Kendaraan Perang Rusia...
Kendaraan Perang Rusia Melintasi Perbatasan Ukraina dari Krimea
Detik-detik Bom Rusia...
Detik-detik Bom Rusia Hancurkan Gedung Pemerintahan
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Berita Terkini
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
2 jam yang lalu
Mojtaba Janji Balas...
Mojtaba Janji Balas Dendam atas Darah Tak Bersalah Ayahnya
3 jam yang lalu
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
4 jam yang lalu
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
5 jam yang lalu
Iran Akui Melakukan...
Iran Akui Melakukan Kesalahan Menembaki Kapal Tanker di Selat Hormuz
6 jam yang lalu
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
6 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved