Kesepakatan Perdamaian Afghanistan Bergantung pada Gencatan Senjata Taliban
Senin, 29 April 2019 - 02:30 WIB
Kesepakatan Perdamaian Afghanistan Bergantung pada Gencatan Senjata Taliban
A
A
A
KABUL - Setiap perjanjian damai dengan Taliban Afghanistan akan bergantung pada deklarasi gencatan senjata permanen dan komitmen untuk mengakhiri perang panjang di negara itu. Demikian dinyatakan oleh utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk perdamaian di Afghanistan, Zalmay Khalilzad, Minggu (28/4).
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi swasta terbesar Afghanistan, Tolo News, Khalilzad mengatakan, tuntutan Taliban terfokus pada penarikan pasukan AS dari negara itu.
"Fokus kami adalah pada terorisme. Tidak ada kesepakatan yang akan dilakukan jika kami tidak melihat gencatan senjata permanen dan komitmen untuk mengakhiri perang," kata Khalilzad. "Kami mencari perdamaian dan penyelesaian politik. Kami ingin perdamaian yang memberi kami kemungkinan untuk mundur," lanjutnya.
Diplomat AS kelahiran Afghanistan itu tiba di Kabul pada akhir pekan Sabtu untuk bertemu Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Ini adalah bagian dari tur multi-negara Khalilzad jelang pertemuan berikutnya dengan perwakilan Taliban di Qatar.
Amerika Serikat memiliki sekitar 14.000 tentara di Afghanistan, sebagai bagian dari misi yang dipimpin NATO. Personel militer AS di Afghanistan ditugaskan melatih dan membantu pasukan keamanan pemerintah Afghanistan dalam pertempuran mereka melawan Taliban dan kelompok-kelompok ekstremis seperti Negara Islam dan Al-Qaeda.
Presiden AS Donald Trump sendiri ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang terpanjang yang dilakoni militer AS sejak 2001 silam. Hingga kini pertempuran sengit masih terjadi di seluruh negeri, dan sementara Taliban sedang bernegosiasi, mereka sekarang mengendalikan dan memengaruhi lebih banyak wilayah daripada di mana pun sejak 2001.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi swasta terbesar Afghanistan, Tolo News, Khalilzad mengatakan, tuntutan Taliban terfokus pada penarikan pasukan AS dari negara itu.
"Fokus kami adalah pada terorisme. Tidak ada kesepakatan yang akan dilakukan jika kami tidak melihat gencatan senjata permanen dan komitmen untuk mengakhiri perang," kata Khalilzad. "Kami mencari perdamaian dan penyelesaian politik. Kami ingin perdamaian yang memberi kami kemungkinan untuk mundur," lanjutnya.
Diplomat AS kelahiran Afghanistan itu tiba di Kabul pada akhir pekan Sabtu untuk bertemu Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Ini adalah bagian dari tur multi-negara Khalilzad jelang pertemuan berikutnya dengan perwakilan Taliban di Qatar.
Amerika Serikat memiliki sekitar 14.000 tentara di Afghanistan, sebagai bagian dari misi yang dipimpin NATO. Personel militer AS di Afghanistan ditugaskan melatih dan membantu pasukan keamanan pemerintah Afghanistan dalam pertempuran mereka melawan Taliban dan kelompok-kelompok ekstremis seperti Negara Islam dan Al-Qaeda.
Presiden AS Donald Trump sendiri ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang terpanjang yang dilakoni militer AS sejak 2001 silam. Hingga kini pertempuran sengit masih terjadi di seluruh negeri, dan sementara Taliban sedang bernegosiasi, mereka sekarang mengendalikan dan memengaruhi lebih banyak wilayah daripada di mana pun sejak 2001.
(esn)