Iran: AS Rasakan Bencana yang Lain Jika IRGC Dilabeli Teroris
Senin, 08 April 2019 - 08:08 WIB
Iran: AS Rasakan Bencana yang Lain Jika IRGC Dilabeli Teroris
A
A
A
TEHERAN - Pemerintah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak melangkah maju dengan melabeli Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai kelompok teroris. Teheran menyatakan, jika hal itu terjadi, pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah akan merasakan konsekuensinya dan itu bisa menjadi bencana yang lain bagi Washington.
The Wall Street Journal pada Jumat pekan lalu mengutip para pejabat Washington bahwa pemerintah Trump akan mengumumkan IRGC sebagai organisasi teroris pada hari Senin (8/4/2019). Rencana itu kemungkinan bagian dari upaya yang lebih luas dari Presiden AS Donald Trump yang telah bersumpah akan mengambil garis yang lebih keras terhadap Iran.
Saat ini, Washington telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas yang terkait dengan IRGC, termasuk Pasukan Quds yang bertanggung jawab atas operasi Iran di luar negeri.
Peringatan Teheran terhadap Washington tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif melalui Twitter pada hari Minggu. Dia menyatakan tindakan AS seperti yang dilaporkan media, akan menjadi bencana lain bagi Washington.
"#NetanyahuFirsters yang telah lama gelisah atas penetapan FTO IRGC sepenuhnya memahami konsekuensinya bagi pasukan AS di kawasan itu," tulis Zarif di Twitter, merujuk pada sekutu utama AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, musuh utama Teheran. FTO adalah singkatan Foreign Terrorist Organization atau Organisasi Teroris Asing.
"Faktanya, mereka berusaha menyeret AS ke dalam rawa atas namanya. @RealDonaldTrump seharusnya tahu lebih baik daripada ditipu oleh bencana AS lainnya," lanjut Zarif, seperti dikutip Al Jazeera.
Secara terpisah, komandan IRGC Mohammad Ali Jafari mengatakan pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah akan kehilangan status kemudahan dan kedamaian yang saat ini dinikmati seandainya Washington meneruskan apa yang dia sebut sebagai "kebodohan".
Dia memperingatkan akan ada respons "timbal balik" dari Teheran. "Jika laporan terbukti benar bahwa pemerintah AS yang bodoh bermaksud menunjuk IRGC sebagai organisasi teroris, maka IRGC juga akan menetapkan tentara AS sebagai kelompok (teroris) seperti ISIS di semua bagian dunia, khususnya Timur Tengah," kata Jafari.
Pernyataan Jafari bertepatan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh mayoritas legislator Iran yang mengonfirmasi bahwa parlemen negara itu akan menanggapi dengan setiap perubahan yang dilakukan Washington.
IRGC, organisasi keamanan paling kuat di Iran, didirikan untuk melindungi sistem pemerintahan Syiah negara itu setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan raja sekuler sekutu Barat, Shah Mohammad Reza Pahlavi. Revolusi itu menyebabkan pembentukan Republik Islam.
IRGC bertanggung jawab atas rudal balistik Iran dan program nuklir. Organisasi ini menyampaikan langsung kerja mereka kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Diperkirakan ada 125.000 personel, yang terdiri dari unit angakatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara.
Setelah perang Iran-Irak tahun 1980-an, IRGC juga menjadi sangat terlibat dalam rekonstruksi dan telah memperluas kepentingan ekonominya dengan memasukkan jaringan bisnis yang luas, mulai dari proyek minyak dan gas hingga konstruksi dan telekomunikasi.
The Wall Street Journal pada Jumat pekan lalu mengutip para pejabat Washington bahwa pemerintah Trump akan mengumumkan IRGC sebagai organisasi teroris pada hari Senin (8/4/2019). Rencana itu kemungkinan bagian dari upaya yang lebih luas dari Presiden AS Donald Trump yang telah bersumpah akan mengambil garis yang lebih keras terhadap Iran.
Saat ini, Washington telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas yang terkait dengan IRGC, termasuk Pasukan Quds yang bertanggung jawab atas operasi Iran di luar negeri.
Peringatan Teheran terhadap Washington tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif melalui Twitter pada hari Minggu. Dia menyatakan tindakan AS seperti yang dilaporkan media, akan menjadi bencana lain bagi Washington.
"#NetanyahuFirsters yang telah lama gelisah atas penetapan FTO IRGC sepenuhnya memahami konsekuensinya bagi pasukan AS di kawasan itu," tulis Zarif di Twitter, merujuk pada sekutu utama AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, musuh utama Teheran. FTO adalah singkatan Foreign Terrorist Organization atau Organisasi Teroris Asing.
"Faktanya, mereka berusaha menyeret AS ke dalam rawa atas namanya. @RealDonaldTrump seharusnya tahu lebih baik daripada ditipu oleh bencana AS lainnya," lanjut Zarif, seperti dikutip Al Jazeera.
Secara terpisah, komandan IRGC Mohammad Ali Jafari mengatakan pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah akan kehilangan status kemudahan dan kedamaian yang saat ini dinikmati seandainya Washington meneruskan apa yang dia sebut sebagai "kebodohan".
Dia memperingatkan akan ada respons "timbal balik" dari Teheran. "Jika laporan terbukti benar bahwa pemerintah AS yang bodoh bermaksud menunjuk IRGC sebagai organisasi teroris, maka IRGC juga akan menetapkan tentara AS sebagai kelompok (teroris) seperti ISIS di semua bagian dunia, khususnya Timur Tengah," kata Jafari.
Pernyataan Jafari bertepatan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh mayoritas legislator Iran yang mengonfirmasi bahwa parlemen negara itu akan menanggapi dengan setiap perubahan yang dilakukan Washington.
IRGC, organisasi keamanan paling kuat di Iran, didirikan untuk melindungi sistem pemerintahan Syiah negara itu setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan raja sekuler sekutu Barat, Shah Mohammad Reza Pahlavi. Revolusi itu menyebabkan pembentukan Republik Islam.
IRGC bertanggung jawab atas rudal balistik Iran dan program nuklir. Organisasi ini menyampaikan langsung kerja mereka kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Diperkirakan ada 125.000 personel, yang terdiri dari unit angakatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara.
Setelah perang Iran-Irak tahun 1980-an, IRGC juga menjadi sangat terlibat dalam rekonstruksi dan telah memperluas kepentingan ekonominya dengan memasukkan jaringan bisnis yang luas, mulai dari proyek minyak dan gas hingga konstruksi dan telekomunikasi.
(mas)