Peringati Great March of Return, Dua Remaja Palestina Tewas
Minggu, 31 Maret 2019 - 05:37 WIB
Peringati Great March of Return, Dua Remaja Palestina Tewas
A
A
A
GAZA - Setidaknya dua remaja tewas dalam bentrokan dengan militer Israel ketika puluhan ribu warga Palestina berkumpul di perbatasan Israel-Jalur Gaza untuk menandai satu tahun gerakan Great March of Return.
Hampir 40.000 warga Palestina berbaris ke perbatasan Jalur Gaza-Israel dalam hujan deras untuk menandai satu tahun aksi demonstrasi yang dimulai pada tahun 2018 itu. Para pengunjuk rasa ingin mengakhiri blokade Gaza selama bertahun-tahun dan bagi para pengungsi di Gaza diizinkan kembali ke rumah leluhur di Israel.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menempatkan jumlah pengunjuk rasa sekitar 40.000 dan mengatakan alat peledak, batu dan ban terbakar dilemparkan ke tembok ke arah Militer Israel.
IDF mengatakan mereka merespons dengan "cara pembubaran kerusuhan" termasuk amunisi langsung.
Kedua remaja itu, keduanya berusia 17 tahun, tewas dan puluhan pengunjuk rasa terluka, seorang pejabat kesehatan Palestina dan Daily Beast melaporkan. Mereka mengatakan seorang pria lain ditembak mati oleh pasukan Israel semalam di dekat pagar perbatasan seperti dikutip dari Fox News, Minggu (31/3/2019).
Dari Maret hingga Desember tahun lalu, 189 warga Palestina dan satu orang Israel telah tewas selama aksi protes, termasuk 35 anak-anak, tiga paramedis dan dua wartawan, menurut Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Selama periode itu, 6.106 warga Palestina terluka.
“Komisi memiliki alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa selama Great March of Return, tentara Israel melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter. Beberapa dari pelanggaran itu bisa merupakan kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan, dan harus segera diselidiki oleh Israel,” kata Santiago Canton, ketua Komisi Penyelidikan Dewan Hak Asasi Manusia.
Investigasi PBB menemukan bahwa penembak jitu Israel telah menembak anak-anak, petugas medis, dan jurnalis selama aksi protes.
“Tidak ada pembenaran untuk membunuh dan melukai jurnalis, petugas medis, dan orang-orang yang tidak memiliki ancaman kematian yang dekat atau cedera serius bagi orang-orang di sekitar mereka. Yang paling mengkhawatirkan adalah penargetan anak-anak dan orang-orang cacat,” kata anggota Komisi Sara Hossain.
“Banyak kehidupan anak muda telah berubah selamanya. 122 orang telah diamputasi anggota tubuhnya sejak 30 Maret tahun lalu. Dua puluh diamputasi adalah anak-anak,” imbuhnya.
Namun Israel telah membantah tuduhan itu.
Protes terjadi setelah seminggu di mana roket diluncurkan dari Palestina ke Israel dan militer Israel membalas dengan pemboman Gaza.
Hamas, kelompok Islamis terkemuka di Jalur Gaza, mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya akan berusaha untuk menjaga aksi protes hari Sabtu berjalan damai dan jarak yang aman dari pagar, ketika para mediator Mesir dan PBB berusaha mencegah eskalasi.
Hampir 40.000 warga Palestina berbaris ke perbatasan Jalur Gaza-Israel dalam hujan deras untuk menandai satu tahun aksi demonstrasi yang dimulai pada tahun 2018 itu. Para pengunjuk rasa ingin mengakhiri blokade Gaza selama bertahun-tahun dan bagi para pengungsi di Gaza diizinkan kembali ke rumah leluhur di Israel.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menempatkan jumlah pengunjuk rasa sekitar 40.000 dan mengatakan alat peledak, batu dan ban terbakar dilemparkan ke tembok ke arah Militer Israel.
IDF mengatakan mereka merespons dengan "cara pembubaran kerusuhan" termasuk amunisi langsung.
Kedua remaja itu, keduanya berusia 17 tahun, tewas dan puluhan pengunjuk rasa terluka, seorang pejabat kesehatan Palestina dan Daily Beast melaporkan. Mereka mengatakan seorang pria lain ditembak mati oleh pasukan Israel semalam di dekat pagar perbatasan seperti dikutip dari Fox News, Minggu (31/3/2019).
Dari Maret hingga Desember tahun lalu, 189 warga Palestina dan satu orang Israel telah tewas selama aksi protes, termasuk 35 anak-anak, tiga paramedis dan dua wartawan, menurut Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Selama periode itu, 6.106 warga Palestina terluka.
“Komisi memiliki alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa selama Great March of Return, tentara Israel melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter. Beberapa dari pelanggaran itu bisa merupakan kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan, dan harus segera diselidiki oleh Israel,” kata Santiago Canton, ketua Komisi Penyelidikan Dewan Hak Asasi Manusia.
Investigasi PBB menemukan bahwa penembak jitu Israel telah menembak anak-anak, petugas medis, dan jurnalis selama aksi protes.
“Tidak ada pembenaran untuk membunuh dan melukai jurnalis, petugas medis, dan orang-orang yang tidak memiliki ancaman kematian yang dekat atau cedera serius bagi orang-orang di sekitar mereka. Yang paling mengkhawatirkan adalah penargetan anak-anak dan orang-orang cacat,” kata anggota Komisi Sara Hossain.
“Banyak kehidupan anak muda telah berubah selamanya. 122 orang telah diamputasi anggota tubuhnya sejak 30 Maret tahun lalu. Dua puluh diamputasi adalah anak-anak,” imbuhnya.
Namun Israel telah membantah tuduhan itu.
Protes terjadi setelah seminggu di mana roket diluncurkan dari Palestina ke Israel dan militer Israel membalas dengan pemboman Gaza.
Hamas, kelompok Islamis terkemuka di Jalur Gaza, mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya akan berusaha untuk menjaga aksi protes hari Sabtu berjalan damai dan jarak yang aman dari pagar, ketika para mediator Mesir dan PBB berusaha mencegah eskalasi.
(ian)