'Kekhalifahan' ISIS Jatuh, Trump Semringah

Minggu, 24 Maret 2019 - 10:36 WIB
Kekhalifahan ISIS Jatuh,...
'Kekhalifahan' ISIS Jatuh, Trump Semringah
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut baik jatuhnya "kekhalifahan" kelompok Negara Islam (ISIS). Namun ia juga memperingatkan bahwa kelompok teror itu tetap menjadi ancaman. Ia mengatakan AS akan tetap waspada sampai IS akhirnya dikalahkan

Pernyataan Trump muncul setelah Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi mengangkat bendera kemenangan di kota Baghouz, Suriah, markas terakhir ISIS.

"AS akan terus bekerja dengan mitra dan sekutu kami untuk melawan ISIS sampai akhirnya dikalahkan," kata Trump alam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih.

"Amerika Serikat akan membela kepentingan Amerika kapanpun dan dimanapun diperlukan," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari BBC, Minggu (24/3/2019).

Trump menggambarkan hilangnya wilayah ISIS sebagai bukti narasi palsu. "Mereka telah kehilangan semua prestise dan kekuasaan," imbuhnya.

Para pemimpin Barat juga memuji keberhasilan itu tetapi menekankan bahwa ISIS masih berbahaya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan ancaman tetap ada dan perang melawan kelompok-kelompok teroris harus berlanjut.

Sedangkan Perdana Menteri Inggris Theresa May menyambut "tonggak bersejarah" itu tetapi mengatakan pemerintahnya tetap berkomitmen untuk memberantas ideologi beracun.

ISIS di masa jayanya sempat menguasai 88 ribu km persegi wilayah di Suriah dan Irak. Namun, setelah lima tahun pertempuran sengit, pasukan lokal Suriah yang didukung oleh kekuatan dunia berhasil merebut wilayah yang dikuasai ISIS kecuali beberapa ratus meter persegi di dekat perbatasan Suriah dengan Irak.

Pada hari Sabtu, pengumuman yang telah lama ditunggu-tunggu datang dari SDF bahwa mereka telah merebut wilayah ISIS terakhir.

Baca juga: Pasukan Kurdi: Kekhalifahan ISIS Hancur Total

Aliansi SDF memulai serangan terakhirnya terhadap ISIS pada awal Maret, dengan militan yang tersisa bersembunyi di desa Baghouz di Suriah timur.

Aliansi itu terpaksa memperlambat ofensifnya setelah diketahui bahwa sejumlah besar warga sipil juga ada di sana, berlindung di gedung, tenda, dan terowongan.

Ribuan wanita dan anak-anak, warga negara asing di antara mereka, melarikan diri dari pertempuran dan kekurangan parah untuk menuju kamp-kamp yang dikelola SDF untuk para pengungsi.

Banyak pejuang ISIS juga meninggalkan Baghouz, tetapi mereka yang tetap melakukan perlawanan sengit, mengerahkan pembom bunuh diri dan bom mobil.
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Mampukah Serangan Balas...
Mampukah Serangan Balas Dendam Trump Melemahkan ISIS di Suriah?
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Berita Terkini
Mayoritas Penduduk di...
Mayoritas Penduduk di 36 Negara Anggap Israel Tidak Baik
45 menit yang lalu
Iran Berupaya Pungut...
Iran Berupaya Pungut Biaya Layanan, Bukan Tol untuk Lintasi Selat Hormuz
1 jam yang lalu
Menlu Iran dan Pemimpin...
Menlu Iran dan Pemimpin Hamas di Gaza Bahas Perkembangan Terkini Palestina
2 jam yang lalu
Presiden China Xi Jinping...
Presiden China Xi Jinping akan Kunjungi Korea Utara Pekan Depan
3 jam yang lalu
Australia Sita 100.000...
Australia Sita 100.000 Kecoak Selundupan, Harganya Rp2,5 Miliar
4 jam yang lalu
Sultan Brunei Reshuffle...
Sultan Brunei Reshuffle Kabinet Besar-besaran, Pangeran 'Instagrammer' Jadi Menlu
4 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved