Anak SMA Pendukung Trump Bantah Mengejek Penduduk Asli Amerika

Senin, 21 Januari 2019 - 15:50 WIB
Anak SMA Pendukung Trump...
Anak SMA Pendukung Trump Bantah Mengejek Penduduk Asli Amerika
A A A
WASHINGTON - Seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) berkulit putih yang terlihat bersama teman-teman sekelasnya berhadapan dengan seorang penduduk asli Amerika di dekat Lincoln Memorial membantah bahwa dia membuat ejekan dalam pertemuan itu. Siswa itu mengenakan topi khas pendukung Presiden Donald Trump yang bertuliskan "Make America Great Again".

Menurutnya, video yang viral telah memberikan kesan keliru yang seolah-olah dia dan para temannya sebagai penghasut.

Nick Sandmann, seorang siswa dari Covington Catholic High School (Sekolah Menengah Katolik Covington) yang semuanya beranggotakan pria di Kentucky utara, terlihat dalam video berdiri berhadapan muka dengan aktivis Indian, Nathan Phillips. Dia menatap Philips sambil tersenyum, sedangkan Phillips bernyanyi dan memainkan drum.

Dalam kejadian hari Jumat, Philips yang merupakan veteran Perang Vietnam menghadiri pawai adat bernama Indigenous Peoples March. Kelompoknya bertemu dengan para pelajar kulit putih yang menggelar aksi March for Life.

Dalam video yang dibagikan kelompok yang menghadiri Indigenous Peoples March menunjukkan sekelompok pelajar Covington berada di sekitar Phillips dan terlihat membuat ejekan terhadap penduduk asli Amerika itu.

Phillips menceritakan dalam video terpisah bahwa dia mendengar para siswa meneriakkan "bangun tembok itu" selama pertemuan tersebut.

Rekaman itu memicu kemarahan di media sosial dan membuat pihak sekolah mengeluarkan pernyataan mengecam tindakan para siswa dan menjanjikan penyelidikan.

Tetapi Sandmann, yang pernyataannya di Twitter di-retweet oleh penyiar CNN; Jake Tapper, pada hari Minggu malam, bersikeras bahwa video itu disalahtafsirkan."Yang mengarah pada kebohongan besar yang tersebar tentang keluarga saya dan saya," tulis Sandman.

Dia membantah bertindak dengan tidak hormat kepada Phillips.

Menurut Sandmann, kelompoknya sedang menunggu bus di tangga Lincoln Memorial untuk kembali ke Kentucky. Pada saat itulah empat pengunjukrasa Afrika-Amerika di dekatnya mulai meneriakinya dengan hinaan rasial.

Dengan izin dari guru pendamping mereka, para siswa merespons dengan meneriakkan yel-yel "semangat sekolah" untuk meredam komentar-komentar kebencian yang diarahkan pada mereka.

Di tengah-tengah interaksi itu, kata Sandmann, dia memerhatikan seorang pengunjuk rasa penduduk asli Amerika yang diidentifikasi sebagai Phillips."Dia mulai memainkan drumnya ketika dia menyeberang ke kerumunan, yang terpisah darinya," kata Sandmann.

"Dia mengunci mata dengan saya dan mendekati saya, masuk beberapa inci dari wajah saya. Dia memainkan drumnya sepanjang waktu di wajah saya," kenang Sandmann.

"Saya tidak pernah berinteraksi dengan pengunjuk rasa ini. Saya tidak berbicara dengannya. Saya tidak membuat gerakan tangan atau gerakan agresif lainnya," lanjut Sandmann, yang dilansir Reuters, Senin (21/1/2019). Dia mengaku kaget dan bingung mengapa Phillips mendekatinya.

Sandmann mengatakan dia beralasan bahwa dengan tetap tidak bergerak dan tenang, dia berharap bisa meredakan situasi.

Pengakuannya diperkuat, setidaknya sebagian, oleh sebuah laporan New York Times pada hari Minggu yang mengutip Phillips, 64. Penduduk asli Amerika itu mengakui bahwa dia telah mendekati kerumunan siswa dalam upaya untuk meredakan ketegangan rasial yang telah berkobar antara remaja kulit putih dan pengunjuk rasa Amerika-Afrika.

"Saya melangkah di antara untuk berdoa," kata Phillips, seorang penatua suku Omaha Nebraska. Philips merupakan aktivis terkenal memimpin protes "Standing Rock" pada 2016-2017 terhadap pembangunan pipa minyak di North Dakota.

Phillips sendiri tidak dapat dihubungi oleh Reuters untuk memberikan komentar terkait masalah tersebut.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan The Associated Press, Phillips mengatakan kejadian itu adalah akhir yang sulit untuk hari yang hebat, di mana kelompoknya berusaha untuk menyoroti ketidakadilan terhadap penduduk asli di seluruh dunia melalui aksi dan doa.

Dia mengatakan interaksi pertamanya dengan para siswa datang ketika mereka memasuki area yang diizinkan untuk Indigenous Peoples March.

"Mereka saling memberi komentar ... (seperti) 'Di negara saya orang-orang Indian itu tidak lain hanyalah sekelompok pemabuk'. Bagaimana saya melaporkannya?," kata Philips.

"Orang-orang muda ini hanya melakukan perjalanan kasar melalui ruang kita, seperti apa yang telah terjadi selama 500 tahun di sini, hanya berjalan melalui wilayah kita, merasa seperti 'ini milik kita'," paparnya.
(mas)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Tak Jadi Ditahan, Usai...
Tak Jadi Ditahan, Usai Diperiksa Donal Trump Kembali ke Florida
Berita Terkini
Teror Israel di Tepi...
Teror Israel di Tepi Barat Makin Mencekam, Mesir dan Spanyol Marah Besar!
54 menit yang lalu
Meski Wilayahnya Dicaplok...
Meski Wilayahnya Dicaplok Zionis, Presiden Suriah Tidak Tertarik Perang Melawan Israel
1 jam yang lalu
Drone Kamikaze Rusia...
Drone Kamikaze Rusia Hujani Kapal dan Pelabuhan Ukraina
2 jam yang lalu
70% Warga Negara di...
70% Warga Negara di Eropa Ini Tidak Percaya Militernya Mampu Melindungi Wilayahnya
3 jam yang lalu
Pemukim Israel Bakar...
Pemukim Israel Bakar 2 Masjid Bersejarah di Tepi Barat, Hamas: Lanjutkan Jalan Perlawanan
5 jam yang lalu
Setelah 13 Hari Menyerang...
Setelah 13 Hari Menyerang Iran, Trump Tunda Invasi Udara, Ini 5 Pertimbangannya
6 jam yang lalu
Infografis
Donald Trump Minta 50%...
Donald Trump Minta 50% Saham TikTok untuk Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved