Korban Tewas Serangan Bersenjata di Kabul Meningkat Jadi 43
Selasa, 25 Desember 2018 - 13:49 WIB
Korban Tewas Serangan Bersenjata di Kabul Meningkat Jadi 43
A
A
A
Otoritas Afghanistan berhasil mengevakuasi 43 mayat dari kompleks gedung pemerintah di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, yang menjadi sasaran bom bunuh diri dan serangan bersenjata para ekstrimis.
Serangan itu dimulai ketika pembom bunuh diri meledakkan mobilnya yang sarat bahan peledak di depan sebuah gedung pemerintahan yang menjadi tempat Departemen Kesejahteraan Masyarakat di wilayah Kabul timur.
Beberapa menit kemudian, orang-orang bersenjata mengamuk masuk ke gedung Kementerian Syuhada dan Penyandang Cacat mengambil para pekerja menjadi sandera. Sebagai lain dari pelaku penyerangan terlibat baku tembak yang berkepanjangan dengan pasukan keamanan setempat.
Juru bicara kementerian kesehatan Wahid Majroh mengatakan sejauh ini 43 mayat dan 10 korban luka-luka telah diangkut oleh ambulans dari lokasi serangan. Satu polisi terbunuh dan tiga militan ditembak mati selama tujuh jam pertempuran di dalam kompleks pemerintah seperti disitat dari Reuters, Selasa (25/12/2018).
Pasukan Afghanistan mengevakuasi lebih dari 350 warga sipil dari gedung sebelum membatalkan operasi pada Senin malam. Tidak ada kelompok militan yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan kompleks yang identik dengan serangan sebelumnya oleh gerilyawan Taliban di kantor-kantor pemerintah, bangunan asing, dan pangkalan militer.
Serangan terbaru terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia mempertimbangkan untuk menarik setidaknya 5.000 dari 14.000 tentara AS yang saat ini dikerahkan di Afghanistan.
Baca: Trump Ingin Tarik Lebih dari 5.000 Tentara AS dari Afghanistan
Kemungkinan ribuan pasukan AS pergi telah memicu kebingungan dan kepanikan di pemerintahan Kabul dan misi asing yang khawatir bahwa penarikan mendadak akan menyebabkan rezim Taliban yang berjuang untuk mengusir pasukan asing, menggulingkan pemerintah yang didukung Barat dan mengembalikan hukum Islam garis keras di Afghanistan versi mereka.
Tetapi Jenderal Marinir Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan yang berada di Afghanistan pada malam Natal dikutip oleh saluran berita lokal mengatakan bahwa misi pasukan di Afghanistan berlanjut tanpa perubahan.
"Ada beragam jenis desas-desus berputar-putar," kata Dunford menurut saluran berita lokal saat berbicara kepada ratusan tentara AS yang berkumpul di sebuah pangkalan di Afghanistan.
“Misi yang kamu miliki hari ini sama dengan misi yang kamu miliki kemarin,” tegasnya.
Serangan itu dimulai ketika pembom bunuh diri meledakkan mobilnya yang sarat bahan peledak di depan sebuah gedung pemerintahan yang menjadi tempat Departemen Kesejahteraan Masyarakat di wilayah Kabul timur.
Beberapa menit kemudian, orang-orang bersenjata mengamuk masuk ke gedung Kementerian Syuhada dan Penyandang Cacat mengambil para pekerja menjadi sandera. Sebagai lain dari pelaku penyerangan terlibat baku tembak yang berkepanjangan dengan pasukan keamanan setempat.
Juru bicara kementerian kesehatan Wahid Majroh mengatakan sejauh ini 43 mayat dan 10 korban luka-luka telah diangkut oleh ambulans dari lokasi serangan. Satu polisi terbunuh dan tiga militan ditembak mati selama tujuh jam pertempuran di dalam kompleks pemerintah seperti disitat dari Reuters, Selasa (25/12/2018).
Pasukan Afghanistan mengevakuasi lebih dari 350 warga sipil dari gedung sebelum membatalkan operasi pada Senin malam. Tidak ada kelompok militan yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan kompleks yang identik dengan serangan sebelumnya oleh gerilyawan Taliban di kantor-kantor pemerintah, bangunan asing, dan pangkalan militer.
Serangan terbaru terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia mempertimbangkan untuk menarik setidaknya 5.000 dari 14.000 tentara AS yang saat ini dikerahkan di Afghanistan.
Baca: Trump Ingin Tarik Lebih dari 5.000 Tentara AS dari Afghanistan
Kemungkinan ribuan pasukan AS pergi telah memicu kebingungan dan kepanikan di pemerintahan Kabul dan misi asing yang khawatir bahwa penarikan mendadak akan menyebabkan rezim Taliban yang berjuang untuk mengusir pasukan asing, menggulingkan pemerintah yang didukung Barat dan mengembalikan hukum Islam garis keras di Afghanistan versi mereka.
Tetapi Jenderal Marinir Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan yang berada di Afghanistan pada malam Natal dikutip oleh saluran berita lokal mengatakan bahwa misi pasukan di Afghanistan berlanjut tanpa perubahan.
"Ada beragam jenis desas-desus berputar-putar," kata Dunford menurut saluran berita lokal saat berbicara kepada ratusan tentara AS yang berkumpul di sebuah pangkalan di Afghanistan.
“Misi yang kamu miliki hari ini sama dengan misi yang kamu miliki kemarin,” tegasnya.
(ian)