Eskalasi Meningkat, Ukraina Kirim Pasukan ke Perbatasan Rusia
Selasa, 04 Desember 2018 - 19:14 WIB
Eskalasi Meningkat, Ukraina Kirim Pasukan ke Perbatasan Rusia
A
A
A
KIEV - Ukraina telah mulai memanggil pasukan cadangan dan mengirim pasukan ke perbatasannya dengan Rusia karena eskalasi terus meningkat di antara kedua negara.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang pekan lalu mengumumkan darurat militer di 10 wilayah, mengumumkan langkah militer itu sebagai tanggapan atas peningkatan tajam pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dan di semenanjung Crimea seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (4/12/2018).
Militer Ukraina mengatakan bahwa pihaknya telah mulai memanggil lini pertama cadangan aktif, yang mencakup laki-laki hingga usia 40 tahun yang sebelumnya telah menjalani pelatihan pasukan bersenjata, serta taruna.
Mereka berjanji akan tiba di rumah tepat pada waktunya untuk liburan yang dimulai pada 25 Desember, tak lama sebelum darurat militer berakhir.
Pasukan di wilayah Chernihiv dekat perbatasan Rusia dan Belarusia melancarkan pertandingan perang, setelah itu mereka mendengarkan pidato Poroshenko yang berpakaian militer, serta komandan tentara Kanada dan tentara AS di Eropa.
Angkatan bersenjata Ukraina juga merencanakan latihan militer di dua wilayah dekat Crimea.
Rusia sendiri telah memindahkan rudal anti-kapal menuju Selat Kerch minggu ini. Moskow juga telah menyebarkan baterai tambahan rudal permukaan ke udara S-400 ke Crimea, meskipun persiapan untuk instalasi ini dimulai sebelum krisis Kerch, menurut citra satelit.
Poroshenko telah menyerukan pembicaraan antara Empat Normandia — Prancis, Jerman, Rusia, dan Ukraina — untuk mengurangi situasi.
Ia mengatakan dia tidak bisa menghubungi Putin melalui telepon setelah kapal-kapal itu disita. Namun, Kremlin mengatakan tidak ada pembicaraan yang direncanakan antara kedua pemimpin.
Sebelumnya, Poroshenko mengklaim bahwa Rusia berusaha untuk merebut pelabuhan utama Mariupol untuk membuat koridor darat ke Crimea.
Baca: Kiev Sebut Rusia Ingin Caplok Ukraina, Kremlin: Itu Tuduhan Absurd
Juru bicara Vladimir Putin menyebut pernyataan tersebut benar-benar tidak masuk akal dan menuduh pemimpin Ukraina itu "memprovokasi ketegangan" sebelum pemilihan presiden di sana pada bulan Maret.
Eskalasi berasal ketika pasukan Rusia menembaki dan menyita tiga kapal angkatan laut Ukraina yang berusaha untuk melewati Selat Kerch pada 25 November. Kapal-kapal itu menuju pelabuhan Ukraina di Laut Azov, di mana Kiev telah mengumumkan rencana untuk pangkalan angkatan laut.
Dua puluh empat pelaut Ukraina yang ditangkap dalam insiden itu telah dipindahkan ke Moskow dan menghadapi ancaman enam tahun penjara dengan tuduhan melanggar perbatasan Rusia.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang pekan lalu mengumumkan darurat militer di 10 wilayah, mengumumkan langkah militer itu sebagai tanggapan atas peningkatan tajam pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dan di semenanjung Crimea seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (4/12/2018).
Militer Ukraina mengatakan bahwa pihaknya telah mulai memanggil lini pertama cadangan aktif, yang mencakup laki-laki hingga usia 40 tahun yang sebelumnya telah menjalani pelatihan pasukan bersenjata, serta taruna.
Mereka berjanji akan tiba di rumah tepat pada waktunya untuk liburan yang dimulai pada 25 Desember, tak lama sebelum darurat militer berakhir.
Pasukan di wilayah Chernihiv dekat perbatasan Rusia dan Belarusia melancarkan pertandingan perang, setelah itu mereka mendengarkan pidato Poroshenko yang berpakaian militer, serta komandan tentara Kanada dan tentara AS di Eropa.
Angkatan bersenjata Ukraina juga merencanakan latihan militer di dua wilayah dekat Crimea.
Rusia sendiri telah memindahkan rudal anti-kapal menuju Selat Kerch minggu ini. Moskow juga telah menyebarkan baterai tambahan rudal permukaan ke udara S-400 ke Crimea, meskipun persiapan untuk instalasi ini dimulai sebelum krisis Kerch, menurut citra satelit.
Poroshenko telah menyerukan pembicaraan antara Empat Normandia — Prancis, Jerman, Rusia, dan Ukraina — untuk mengurangi situasi.
Ia mengatakan dia tidak bisa menghubungi Putin melalui telepon setelah kapal-kapal itu disita. Namun, Kremlin mengatakan tidak ada pembicaraan yang direncanakan antara kedua pemimpin.
Sebelumnya, Poroshenko mengklaim bahwa Rusia berusaha untuk merebut pelabuhan utama Mariupol untuk membuat koridor darat ke Crimea.
Baca: Kiev Sebut Rusia Ingin Caplok Ukraina, Kremlin: Itu Tuduhan Absurd
Juru bicara Vladimir Putin menyebut pernyataan tersebut benar-benar tidak masuk akal dan menuduh pemimpin Ukraina itu "memprovokasi ketegangan" sebelum pemilihan presiden di sana pada bulan Maret.
Eskalasi berasal ketika pasukan Rusia menembaki dan menyita tiga kapal angkatan laut Ukraina yang berusaha untuk melewati Selat Kerch pada 25 November. Kapal-kapal itu menuju pelabuhan Ukraina di Laut Azov, di mana Kiev telah mengumumkan rencana untuk pangkalan angkatan laut.
Dua puluh empat pelaut Ukraina yang ditangkap dalam insiden itu telah dipindahkan ke Moskow dan menghadapi ancaman enam tahun penjara dengan tuduhan melanggar perbatasan Rusia.
(ian)