Warga AS Tewas Dibunuh Suku Terpencil, Polisi India Gelar Penyelidikan
Sabtu, 24 November 2018 - 01:16 WIB
Warga AS Tewas Dibunuh Suku Terpencil, Polisi India Gelar Penyelidikan
A
A
A
PORT BLAIR - Pihak kepolisian India menggelar penyelidikan pembunuhan terhadap seorang misionaris asal Amerika Serikat (AS) yang diyakini telah dibunuh oleh suku terpencil di pulau terpencil. Pihak kepolisian melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa yang membantu korban melakukan perjalanan ilegalnya.
John Chau (26) diduga dibunuh pada 17 November oleh orang-orang dari suku Sentinelese yang mendiami Pulau Sentinel Utara di rantai pulau Andaman dan Nicobar. Keluarga Chau mengatakan di sebuah postingan media sosial ia adalah seorang misionaris Kristen dan pendaki gunung.
Adalah ilegal bagi orang untuk mengunjungi pulau itu dan tujuh orang yang dicurigai membantu Chau mencapai pulau itu, termasuk nelayan, telah ditangkap.
Para nelayan mengatakan kepada polisi bahwa mereka melihat tubuh Chau yang diseret di pantai dan terkubur di pasir.
"Polisi kini sedang menyelidiki apakah Chau mendapat bantuan dari orang lain untuk melakukan perjalanan ke Sentinel Utara," kata Vijay Singh, pengawas senior polisi di pulau Andaman dan Nikobar, dalam sebuah pernyataan.
"Polisi berencana untuk menyelidiki urutan kejadian, rute laut yang diikuti, dan hal-hal lain," imbuh Singh seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (24/11/2018).
Dalam postingan di media sosial, keluarga Chau meminta pihak berwenang untuk membebaskan teman-temannya di Kepulauan Andaman mengatakan mereka tidak menyalahkan siapa pun atas kematiannya.
Direktur Jenderal Kepolisian di kepulauan Andaman dan Nikobar, Dependra Pathak mengatakan kepada Reuters bahwa polisi harus mengikuti hukum.
"Saya memahami kepedulian emosional keluarga," katanya. "Tapi kami akan menangani seluruh masalah dengan berdasarkan hukum," imbuhnya.
Ia mengatakan pihak berwenang sedang mencari tahu apakah mereka bisa mengambil kembali jasad Chau.
"Kami harus menghormati kepekaan yang paling dalam dalam kasus ini," katanya, menambahkan itu adalah kewajiban moral untuk melindungi dan menghormati suku yang telah hidup dalam isolasi selama ribuan tahun.
Suku Sentinelese, suku pemburu bersenjata tombak primitif dan busur serta anak panah, dianggap sebagai suku pra-Neolitik terakhir di dunia dan kelompok yang paling terisolasi.
Suku itu, yang diperkirakan hanya beberapa lusin jumlahnya, telah selama beberapa dekade secara agresif menolak kontak dengan dunia luar.
Antropolog secara singkat berhubungan dengan suku di awal 1990-an, tetapi upaya mereka ditinggalkan karena kekhawatiran bahwa kontak dengan dunia luar dapat mengekspos suku ke patogen dan menyebabkan kepunahan mereka.
Sentinel Utara, 50 km sebelah barat Port Blair - Ibu Kota gugus pulau - dilindungi oleh undang-undang yang bahkan melarang memancing dalam jarak 5 mil laut dari pulau itu.
Undang-undang itu juga melarang pariwisata atau fotografi orang-orang Sentinel dan beberapa suku lain di kepulauan Andaman. Mereka yang dinyatakan bersalah melanggar hukum diancam penjara hingga tiga tahun.
John Chau (26) diduga dibunuh pada 17 November oleh orang-orang dari suku Sentinelese yang mendiami Pulau Sentinel Utara di rantai pulau Andaman dan Nicobar. Keluarga Chau mengatakan di sebuah postingan media sosial ia adalah seorang misionaris Kristen dan pendaki gunung.
Adalah ilegal bagi orang untuk mengunjungi pulau itu dan tujuh orang yang dicurigai membantu Chau mencapai pulau itu, termasuk nelayan, telah ditangkap.
Para nelayan mengatakan kepada polisi bahwa mereka melihat tubuh Chau yang diseret di pantai dan terkubur di pasir.
"Polisi kini sedang menyelidiki apakah Chau mendapat bantuan dari orang lain untuk melakukan perjalanan ke Sentinel Utara," kata Vijay Singh, pengawas senior polisi di pulau Andaman dan Nikobar, dalam sebuah pernyataan.
"Polisi berencana untuk menyelidiki urutan kejadian, rute laut yang diikuti, dan hal-hal lain," imbuh Singh seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (24/11/2018).
Dalam postingan di media sosial, keluarga Chau meminta pihak berwenang untuk membebaskan teman-temannya di Kepulauan Andaman mengatakan mereka tidak menyalahkan siapa pun atas kematiannya.
Direktur Jenderal Kepolisian di kepulauan Andaman dan Nikobar, Dependra Pathak mengatakan kepada Reuters bahwa polisi harus mengikuti hukum.
"Saya memahami kepedulian emosional keluarga," katanya. "Tapi kami akan menangani seluruh masalah dengan berdasarkan hukum," imbuhnya.
Ia mengatakan pihak berwenang sedang mencari tahu apakah mereka bisa mengambil kembali jasad Chau.
"Kami harus menghormati kepekaan yang paling dalam dalam kasus ini," katanya, menambahkan itu adalah kewajiban moral untuk melindungi dan menghormati suku yang telah hidup dalam isolasi selama ribuan tahun.
Suku Sentinelese, suku pemburu bersenjata tombak primitif dan busur serta anak panah, dianggap sebagai suku pra-Neolitik terakhir di dunia dan kelompok yang paling terisolasi.
Suku itu, yang diperkirakan hanya beberapa lusin jumlahnya, telah selama beberapa dekade secara agresif menolak kontak dengan dunia luar.
Antropolog secara singkat berhubungan dengan suku di awal 1990-an, tetapi upaya mereka ditinggalkan karena kekhawatiran bahwa kontak dengan dunia luar dapat mengekspos suku ke patogen dan menyebabkan kepunahan mereka.
Sentinel Utara, 50 km sebelah barat Port Blair - Ibu Kota gugus pulau - dilindungi oleh undang-undang yang bahkan melarang memancing dalam jarak 5 mil laut dari pulau itu.
Undang-undang itu juga melarang pariwisata atau fotografi orang-orang Sentinel dan beberapa suku lain di kepulauan Andaman. Mereka yang dinyatakan bersalah melanggar hukum diancam penjara hingga tiga tahun.
(ian)