Rusia-Turki Sepakat Soal Idlib, Pemberontak Suriah Semringah
Selasa, 18 September 2018 - 15:35 WIB
Rusia-Turki Sepakat Soal Idlib, Pemberontak Suriah Semringah
A
A
A
DAMASKUS - Seorang pejabat pemberontak Suriah mengatakan kesepakatan antara Rusia dan Turki untuk membuat zona penyangga di Idlib telah mengakhiri harapan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, untuk mendapatkan kembali kendali penuh negaranya.
“Kesepakatan Idlib menjaga kehidupan warga sipil dan penargetan langsung mereka oleh rezim. Itu mengubur mimpi-mimpi Assad untuk memaksakan kontrol penuhnya atas Suriah,” ujar Mustafa Sejari, seorang pejabat Tentara Suriah Merdeka (FSA), seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/9/2018).
Sejari mengatakan kesepakatan yang dicapai di Sochi pada hari Senin antara Presiden Turki Tayyib Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin menyebabkan kontrol de facto oposisi atas wilayah geografis yang akan menjadi batu loncatan untuk transisi politik yang mengakhiri kekuasaan "otoriter" Assad.
"Daerah ini akan tetap berada di tangan Tentara Suriah Merdeka dan akan memaksa rezim dan pendukungnya untuk memulai proses politik yang serius yang mengarah ke transisi nyata yang mengakhiri kekuasaan Assad," ujar Sejari.
Rusia, pendukung terbesar Assad dalam perjuangannya melawan pemberontak, telah mempersiapkan serangan di kota Idlib, yang dikendalikan oleh pemberontak dan rumah bagi sekitar 3 juta orang.
Namun setelah pembicaraan Putin dengan Erdogan, yang menentang operasi militer terhadap para pemberontak di Idlib, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan kepada wartawan bahwa tidak akan ada serangan.
Erdogan, yang mengkhawatirkan eksodus lintas-perbatasan pengungsi Suriah untuk bergabung dengan 3,5 juta lainnya di Turki, mengatakan kesepakatan itu akan memungkinkan pendukung oposisi untuk tetap di tempat mereka dan menghindari krisis kemanusiaan.
“Kesepakatan Idlib menjaga kehidupan warga sipil dan penargetan langsung mereka oleh rezim. Itu mengubur mimpi-mimpi Assad untuk memaksakan kontrol penuhnya atas Suriah,” ujar Mustafa Sejari, seorang pejabat Tentara Suriah Merdeka (FSA), seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/9/2018).
Sejari mengatakan kesepakatan yang dicapai di Sochi pada hari Senin antara Presiden Turki Tayyib Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin menyebabkan kontrol de facto oposisi atas wilayah geografis yang akan menjadi batu loncatan untuk transisi politik yang mengakhiri kekuasaan "otoriter" Assad.
"Daerah ini akan tetap berada di tangan Tentara Suriah Merdeka dan akan memaksa rezim dan pendukungnya untuk memulai proses politik yang serius yang mengarah ke transisi nyata yang mengakhiri kekuasaan Assad," ujar Sejari.
Rusia, pendukung terbesar Assad dalam perjuangannya melawan pemberontak, telah mempersiapkan serangan di kota Idlib, yang dikendalikan oleh pemberontak dan rumah bagi sekitar 3 juta orang.
Namun setelah pembicaraan Putin dengan Erdogan, yang menentang operasi militer terhadap para pemberontak di Idlib, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan kepada wartawan bahwa tidak akan ada serangan.
Erdogan, yang mengkhawatirkan eksodus lintas-perbatasan pengungsi Suriah untuk bergabung dengan 3,5 juta lainnya di Turki, mengatakan kesepakatan itu akan memungkinkan pendukung oposisi untuk tetap di tempat mereka dan menghindari krisis kemanusiaan.
(ian)