Sebanyak 12 Mata-mata Rusia Dituduh Meretas Pemilu AS

Sabtu, 14 Juli 2018 - 07:34 WIB
Sebanyak 12 Mata-mata...
Sebanyak 12 Mata-mata Rusia Dituduh Meretas Pemilu AS
A A A
WASHINGTON - Sebanyak 12 perwira intelijen Rusia dituduh melakukan peretasan jaringan komputer Partai Demokrat dalam Pemilu Amerika Serikat (AS) tahun 2015. Tuduhan terhadap belasan mata-mata Moskow itu muncul dalam sidang di pengadilan federal AS.

Selama ini badan-badan intelijen Washington menyimpulkan bahwa Rusia ikut campur pemilu presiden AS 2015 yang membuat Donald Trump dari Partai Republik keluar sebagai pemenang.

Tuduhan peretasan tersebut disampaikan pihak Kejaksaan Agung AS dalam materi dakwaan, yang dibacakan hari Jumat waktu setempat. Mereka yang dikenai dakwaan adalah para perwira GRU, yakni badan intelijen militer Rusia.

Tuduhan itu berpotensi memengaruhi rencana pertemuan Presiden Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan berlangsung beberapa hari lagi di Hesinki.

Menurut dokumen dakwaan, jaringan komputer yang diretas secara diam-diam adalah jaringan komputer tim kampanye calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton dan Komite Partai Demokrat. Para peretas mencuri sejumlah besar data.

"Selain merilis dokumen langsung ke publik, para terdakwa mentransfer dokumen yang dicuri ke organisasi lain, tak disebutkan dalam dakwaan, dan membahas waktu perilisan dokumen dalam upaya untuk meningkatkan dampak pada pemilihan (presiden)," kata Wakil Jaksa Agung AS, Rod Rosenstein, dalam konferensi pers, yang dilansir Reuters, Sabtu (14/7/2018).

Dokumen dakwaan itu merupakan hasil penyelidikan yang dipimpin Penasihat Khusus Robert Mueller. Tim itu dibentuk khusus untuk melakukan penyelidikan atas dugaan keterlibatan Rusia dalam intervensi pemili AS.

Dokumen itu sekaligus menandakan bahwa untuk pertama kalinya Mueller secara langsung menuduh pemerintah Rusia ikut campur pemilu AS. Kremlin sudah berkali-kali membantah tuduhan tersebut.

Rosenstein mengatakan bahwa dia memberi penjelasan kepada Trump awal minggu ini tentang dakwaan tersebut. Tidak ada tuduhan bahwa warga AS ikut terlibat dalam kejahatan itu.

Beberapa jam sebelum dakwaan diumumkan, Trump menggambarkan penyelidikan Mueller sebagai "perburuan curang" yang melukai hubungan AS dengan Rusia.
(mas)
Berita Terkait
Dibela Vladimir Putin,...
Dibela Vladimir Putin, Begini Reaksi Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Trump Klaim Rusia Danai...
Trump Klaim Rusia Danai Biden, Putin: No Comment
Ancaman Nuklir Vladimir...
Ancaman Nuklir Vladimir Putin Membuat Amerika Serikat Gelisah
7 Orang Terdekat Vladimir...
7 Orang Terdekat Vladimir Putin yang Diblokir Amerika Serikat
10 Alasan Amerika Serikat...
10 Alasan Amerika Serikat Tawarkan Perjanjian Gencatan Senjata ke Rusia dan Ukraina
Berita Terkini
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
42 menit yang lalu
Pilot Air Canada Ini...
Pilot Air Canada Ini Dituduh Terbang selama 17 Tahun Tanpa Lisensi yang Sah
1 jam yang lalu
Imigran Sudan Tikam...
Imigran Sudan Tikam Warga Lokal, Kerusuhan Pecah di Irlandia Utara
2 jam yang lalu
4 Fakta Serangan Iran...
4 Fakta Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania
4 jam yang lalu
Israel Serang Kota di...
Israel Serang Kota di Lebanon yang Namanya Disebut dalam Alkitab
4 jam yang lalu
Rudal Iran Serang Hanggar...
Rudal Iran Serang Hanggar F-35 di Pangkalan Udara AS di Yordania, Kuwait dan Bahrain Waspada
5 jam yang lalu
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved