China Dituding Retas dan Curi Data Angkatan Laut AS

Sabtu, 09 Juni 2018 - 05:28 WIB
China Dituding Retas...
China Dituding Retas dan Curi Data Angkatan Laut AS
A A A
WASHINGTON - Hacker pemerintah Cina dilaporkan telah berhasil meretas komputer dari kontraktor Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan mencuri sejumlah data sensitif. Data yang berhasil dicuri antara lain tentang peperangan bawah laut, termasuk rencana untuk rudal anti kapal supersonik kapal selam AS.

Surat kabar Washington Post menjadi yang pertama melaporkan hal ini mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

"Aksi ini terjadi pada bulan Januari dan Februari lalu," pejabat tersebut mengatakan kepada Washington Post. Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonimitas tentang investigasi yang sedang berlangsung yang dipimpin oleh Angkatan Laut dan dibantu oleh Biro Investigasi Federal (FBI).

FBI tidak segera menanggapi permintaan Reuters untuk memberikan komentar.

“Berdasarkan peraturan federal, ada langkah-langkah di tempat yang mengharuskan perusahaan untuk memberi tahu pemerintah ketika 'insiden siber' telah terjadi yang memiliki efek merugikan aktual atau potensial pada jaringan mereka yang berisi informasi tidak terkontrol yang dikendalikan. Tidaklah tepat untuk membahas perincian lebih lanjut saat ini,” kata Angkatan Laut AS seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/6/2018).

Pejabat tersebut mengatakan peretas menargetkan seorang kontraktor yang bekerja untuk Naval Undersea Warfare Center, sebuah entitas militer yang berbasis di Newport, Rhode Island. Namun ia tidak mengidentifikasi kontraktor tersebut.

"Materi yang diretas terdiri dari 614 gigabyte yang berkaitan dengan proyek yang dikenal sebagai Sea Dragon, serta data sinyal dan sensor, informasi ruang radio bawah laut yang berkaitan dengan sistem kriptografi dan perpustakaan perang elektronik kapal selam Angkatan Laut kapal induk," Washington Post melaporkan, mengutip para pejabat.

Surat kabar itu mengatakan telah sepakat untuk menahan beberapa rincian tentang proyek rudal yang dikompromikan setelah Angkatan Laut mengatakan perilisan mereka dapat membahayakan keamanan nasional.

"Data yang dicuri itu bersifat sangat sensitif meski disimpan di jaringan tidak terklasifikasi milik kontraktor," tulis Washington Post, mengutip para pejabat.
(ian)
Berita Terkait
Presiden Taiwan Terbang...
Presiden Taiwan Terbang ke Amerika Serikat, China Murka
Khawatir Agresivitas...
Khawatir Agresivitas China, Amerika Serikat Dekati Indonesia
Inilah Perbandingan...
Inilah Perbandingan Kekuatan Militer China vs Amerika Serikat
Dijegal Amerika Serikat,...
Dijegal Amerika Serikat, Mobil Listrik China Semakin Banting Harga
China Tuding Amerika...
China Tuding Amerika Serikat Kacaukan Semenanjung Korea
Media China Sindir Kerusuhan...
Media China Sindir Kerusuhan di Amerika Serikat
Berita Terkini
Rusia Intensifkan Serangan,...
Rusia Intensifkan Serangan, Sekjen NATO Justru Berkunjung ke Ukraina
42 menit yang lalu
Jadi Target Rudal dan...
Jadi Target Rudal dan Drone Iran, Bahrain dan Kuwait Siaga Penuh
2 jam yang lalu
Kunjungi Indonesia,...
Kunjungi Indonesia, Menlu Malaysia Fokus Kerja Sama Atasi Guncangan Eksternal
3 jam yang lalu
Drone dan Rudal Merusak...
Drone dan Rudal Merusak Bandara Kuwait, Beberapa Orang Terluka, Penerbangan Terganggu
3 jam yang lalu
5 Alasan Perseteruan...
5 Alasan Perseteruan AS dan Israel, Netanyahu Tak Bisa Dikendalikan
3 jam yang lalu
AS Ketar-ketir saat...
AS Ketar-ketir saat Mojtaba Makin Tunjukkan Kekuasaannya di Iran, Ini 4 Faktanya
4 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved