Curhat ke Menlu Rusia, Kim Jong-un Keluhkan Hegemoni AS
Jum'at, 01 Juni 2018 - 05:22 WIB
Curhat ke Menlu Rusia, Kim Jong-un Keluhkan Hegemoni AS
A
A
A
PYONGYANG - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un mengeluhkan hegemoni Amerika Serikat saat menyampaikan curahan hati (curhat)-nya kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov. Menlu Lavrov menemui pemimpin muda itu saat berkunjung ke Pyongyang hari Kamis.
Keluhan Kim Jong-un itu berpotensi menyulitkan upaya memperbaiki hubungan Korut dengan AS, di mana dia akan bertemu dengan Presiden Donald Trump di Singapura 12 Juni 2018.
Kim mengatakan kepada Lavrov bahwa dia berharap untuk meningkatkan kerja sama dengan Rusia. "Ketika kita bergerak untuk menyesuaikan diri dengan situasi politik dalam menghadapi hegemoni AS, saya bersedia untuk bertukar pendapat rinci dengan kepemimpinan Anda dan berharap untuk melakukannya untuk bergerak maju," kata Kim Jong-un, yang dikutip CBS, Jumat (1/6/2018).
Pemimpin rezim Pyongyang itu membuat komentar keluhan tentang perilaku negatif AS saat salah satu letnannya, Kim Yong-chol, berada di New York untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Michael Pompeo. Mereka membahas rencana pertemuan Kim Jong-un dan Trump.
Kim yang pernah beberapa kali mengancam akan meluncurkan serangan nuklir ke AS mulai meredam retorikanya sejak Januari lalu. Dia telah mengindikasikan bersedia untuk melucuti senjata nuklirnya dengan imbalan jaminan keamanan dari AS.
Kunjungan Lavrov ke Pyongyang mengindikasikan bahwa Rusia ingin terlibat dan memastikan Korea Utara memberitahukannya tentang niatnya dalam denuklirisasi. Lavrov menyatakan dukungan Moskow untuk kesepakatan yang dicapai Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada bulan lalu.
"Kami menyambut baik kontak yang telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir antara Korea Utara dan Korea Selatan, antara Korea Utara dan Amerika Serikat," kata Lavrov kepada wartawan.
"Kami menyambut pertemuan puncak yang sudah berlangsung antara Pyongyang dan Seoul serta pertemuan yang direncanakan antara pemimpin Korea Utara dan AS."
Keluhan Kim Jong-un itu berpotensi menyulitkan upaya memperbaiki hubungan Korut dengan AS, di mana dia akan bertemu dengan Presiden Donald Trump di Singapura 12 Juni 2018.
Kim mengatakan kepada Lavrov bahwa dia berharap untuk meningkatkan kerja sama dengan Rusia. "Ketika kita bergerak untuk menyesuaikan diri dengan situasi politik dalam menghadapi hegemoni AS, saya bersedia untuk bertukar pendapat rinci dengan kepemimpinan Anda dan berharap untuk melakukannya untuk bergerak maju," kata Kim Jong-un, yang dikutip CBS, Jumat (1/6/2018).
Pemimpin rezim Pyongyang itu membuat komentar keluhan tentang perilaku negatif AS saat salah satu letnannya, Kim Yong-chol, berada di New York untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Michael Pompeo. Mereka membahas rencana pertemuan Kim Jong-un dan Trump.
Kim yang pernah beberapa kali mengancam akan meluncurkan serangan nuklir ke AS mulai meredam retorikanya sejak Januari lalu. Dia telah mengindikasikan bersedia untuk melucuti senjata nuklirnya dengan imbalan jaminan keamanan dari AS.
Kunjungan Lavrov ke Pyongyang mengindikasikan bahwa Rusia ingin terlibat dan memastikan Korea Utara memberitahukannya tentang niatnya dalam denuklirisasi. Lavrov menyatakan dukungan Moskow untuk kesepakatan yang dicapai Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada bulan lalu.
"Kami menyambut baik kontak yang telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir antara Korea Utara dan Korea Selatan, antara Korea Utara dan Amerika Serikat," kata Lavrov kepada wartawan.
"Kami menyambut pertemuan puncak yang sudah berlangsung antara Pyongyang dan Seoul serta pertemuan yang direncanakan antara pemimpin Korea Utara dan AS."
(mas)