Malaysia Dinilai Akan Lebih Agresif terhadap China

Jum'at, 11 Mei 2018 - 00:29 WIB
Malaysia Dinilai Akan...
Malaysia Dinilai Akan Lebih Agresif terhadap China
A A A
JAKARTA - Pengamat hubungan internasional Dinna Wisnu mengatakan ada sejumlah faktor di balik kemenangan kubu Mahathir Mohamad dalam pemilu Malaysia. Menurut dia, Koalisi Harapan memang sudah memenangkan popularitas. Hal ini terlihat dari pemilu tahun 2013 tetapi saat itu mereka tidak dapat menguasai kursi di negara bagian.

"Munculnya Mahathir bukan karena hanya dia figur yang populer tetapi juga harus dilihat sebagai pecahan dari Barisan Nasional," kata Dinna Wisnu dalam rilis yang diterima Sindonews, Jakarta, Kamis (11/5/2018).

Mahathir membawa sebagian gerbong pendukung Barisan Nasional dan terlibat di partai yang baru dibentuknya, Partai Pribumi bersatu.

"Kemungkinan dia memborong suara dari voter yang sudah tua atau di atas 40 tahun," papar Wakil Indonesia untuk AICHR (ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights) ini.

Diungkapkan Dinna, pada awal pemerintahan, Malaysia kelihatannya akan banyak fokus ke dalam negeri. Yang pertama urusan tudingan korupsi pada Najib Razak. Kemudian Malaysia juga perlu meredam suasana dari dampak pemilu ini.

"Malaysia juga akan melakukan konsolidasi koalisi termasuk juga menjembatani hubungan dengan keluarga kerajaan apalagi Mahathir sudah lanjut usia," paparnya.

Kemungkinan ada kecenderungan arah kebijakan lebih proteksionis di bidang ekonomi. "Dia berkali-kali bilang bahwa Malaysia untuk orang Malaysia," tuturnya.

Terkait arah politik luar negeri, Malaysia berpotensi lebih agresif terhadap China walaupun tidak akrab juga dengan negara-negara Barat. Dalam semangat secepat-cepatnya mengubah posisi Malaysia agar tidak ditekan China, Mahathir berpotensi sangat percaya diri melontarkan pernyataan-pernyataan tajam yang belum tentu cocok juga dengan arah politik luar negeri Indonesia yang sedang menata dinamika power antarbangsa lewat Indo-Pacific.

Di sisi lain potensi kerja sama Indonesia-Malaysia bisa ditingkatkan sejalan dengan prinsip pendalaman demokrasi di Malaysia, agar lebih menerima civil society, perbedaan pendapat, dan HAM.

"Dorongan ke sana perlu terus-menerus dilakukan, secara bilateral atau lewat ASEAN, agar tetangga kita itu bisa lebih menghargai pula proses pertumbuhan ekonomi yang tidak berbasis politik sektarian berbasis ras (yang masih menonjol di Malaysia)," tandas Dinna.
(ian)
Berita Terkait
Berlakukan Lockdown,...
Berlakukan Lockdown, Begini Kondisi Terkini Malaysia
Perayaan HUT Malaysia...
Perayaan HUT Malaysia ke-65
Penampakan Banjir Parah...
Penampakan Banjir Parah yang Merendam Apartemen dan Rumah di Selangor Malaysia
Anwar Ibrahim, Dilantik...
Anwar Ibrahim, Dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia
Polri Cek Akun Penghina...
Polri Cek Akun Penghina Raja Malaysia
Malaysia Umumkan Pembubaran...
Malaysia Umumkan Pembubaran Parlemen, Gelar Pemilu Lebih Cepat
Berita Terkini
Juni Jadi Bulan Paling...
Juni Jadi Bulan Paling Mematikan bagi Ukraina sejak 2022, Apa Pemicunya?
1 jam yang lalu
Mantan Pasukan Khusus...
Mantan Pasukan Khusus AS Bawa Paspor China Ini Ditangkap di Perbatasan Nepal dan India, Siapa Jordan Brown?
1 jam yang lalu
Inggris Akan Larang...
Inggris Akan Larang Penggunaan Media Sosial saat Malam Hari
2 jam yang lalu
Ilmuwan AS Ini Pelajari...
Ilmuwan AS Ini Pelajari Uji Coba Nuklir Korut, tapi Ditangkap China karena Melakukan Spionase
4 jam yang lalu
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
5 jam yang lalu
Enggan Kirim Pasukan...
Enggan Kirim Pasukan AS untuk Invasi Darat ke Iran, Trump: Orang Lain yang Akan Melakukannya
6 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved