Malaysia Gelar Pemilu 9 Mei

Rabu, 11 April 2018 - 11:44 WIB
Malaysia Gelar Pemilu...
Malaysia Gelar Pemilu 9 Mei
A A A
KUALA LUMPUR - Malaysia akan menggelar pemilu pada 9 Mei. Pemilu itu akan menjadi pesta demokrasi terberat bagi koalisi Barisan Nasional yang telah berkuasa 61 tahun.

Komisi Pemilu mengumumkan tanggal pesta demokrasi itu kemarin setelah menggelar rapat. “Komisi Pemilu telah rapat dan menetapkan pemilu harus digelar dalam 60 hari sejak tanggal pembubaran parlemen. Tanggalnya 9 Mei,” ungkap Kepala Komisi Pemilu Mohd Hashim Abdullah, kemarin.

Para kandidat harus mendaftar hingga 28 April. Itu artinya masa kampanye berlangsung selama 11 hari.

Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak mengakhiri beberapa bulan spekulasi saat dia mengumumkan pembubaran parlemen pada Jumat (6/4). Langkah itu membuka jalan untuk pemilu.

Najib akan menghadapi lawan terberatnya yakni mentor lamanya dan mantan PM Mahathir Mohamad. Najib diperkirakan tetap berkuasa tapi kehilangan banyak kursi sehingga dia akan mendapat tantangan dari dalam partainya sendiri, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO).

Beberapa pengamat mengungkapkan sejumlah alasan mengapa Najib dan Barisan Nasional akan tetap menang dalam pemilu tersebut. Koalisi Najib memang gagal meraih suara populer pada pemilu 2013 dengan mendapat 47,3% suara tapi sistem parlementer “yang pertama meraih kursi” dan batas elektoral membuat Barisan Nasional meraih kursi mayoritas di parlemen.

Pada akhir Maret lalu, parlemen menyepakati perubahan batas elektoral di negara bagian yang akan menguntungkan UMNO di wilayah pedesaan. Sebanyak 30% populasi Malaysia tinggal di wilayah pedesaan yang menyumbang lebih dari setengah kursi di parlemen. Saat ini Barisan Nasional menargetkan perolehan suara dari wilayah pedesaan dengan berbagai program pemerintah yang menguntungkan warga desa.

Saat ini oposisi kesulitan menyatukan langkah. Mahathir, 92, telah menciptakan persatuan di kelompok oposisi Pakatan Haran sebagai ketua, tapi ada banyak pihak di oposisi yang mencurigainya karena dia pernah menyerang berbagai lembaga independen saat berkuasa pada 1981 dan 2003.

Saat ini tokoh oposisi Anwar Ibrahim sedang menjalani hukuman penjara lima tahun atas tuduhan sodomi. Anwar merupakan pemimpin oposisi yang disegani pada pemilu 2008 dan 2013. Anwar mengajak Mahathir membentuk koalisi oposisi baru tapi karena Anwar dipenjara maka dia tidak dapat turut berkampanye menggalang pendukung. Anwar diperkirakan dibebaskan dari penjara setelah pemilu.

Adapun Partai Pan-Islam Malaysia (PAS) yang sebelumnya bagian dari koalisi oposisi, kini memilih memisahkan diri dan akan bertarung meraih lebih banyak kursi dalam pemilu ini. Itu artinya suara oposisi akan terpecah sehingga Najib memiliki peluang lebih baik untuk menang.

Pekan lalu, pemerintahan Najib mengesahkan Undang-undang (UU) berita palsu yang dapat digunakan untuk menyerang oposisi selama kampanye pemilu. UU itu mendefinisikan berita palsu secara luas yakni semua berita, informasi, data dan laporan yang sepenuhnya atau sebagian palsu, baik dalam bentuk tulisan, tayangan atau rekaman suara serta bentuk lain yang berisi kata atau ide.

Maksimal hukuman untuk pelanggar UU tersebut sebesar 500.000 ringgit atau penjara enam tahun. Saat ini koalisi berkuasa telah mengontrol semua media lokal dengan sejumlah UU, termasuk UU Hasutan.

Ekonomi Malaysia juga telah tumbuh pesat. Dalam laporan tahunan terbaru bank sentral, Bank Negara Malaysia memperkirakan ekonomi tumbuh 5,5 hingga 6% pada 2018, naik dari 5 hingga 5,5% proyeksi pemerintah pada Oktober tahun lalu.

Malaysia menikmati peningkatan ekspor dan belanja publik untuk infrastruktur mendorong produk domestik bruto (PDB) naik menjadi 5,9% pada 2017. Ini merupakan yang terbaik dalam tiga tahun terakhir.

UMNO juga telah menerapkan kebijakan untuk mayoritas etnik Melayu dengan memberi mereka sejumlah kontrak pemerintah, perumahan murah, jaminan masuk universitas dan bagian saham atas dukungan mereka. Pekan lalu, Najib juga menjanjikan kenaikan gaji untuk pegawai negeri sipil Malaysia yang menjadi basis pendukung utamanya.

Barisan Nasional juga telah membuat sejumlah janji untuk para pendukungnya, termasuk menaikkan upah minimal, menambah tunjangan uang tunai bagi etnik Melayu di pedesaan. Najib juga berjanji menghapus utang para petani Melayu pada perusahaan perkebunan negara serta menciptakan 3 juta lapangan kerja baru. Berbagai alasan itu membuat Najib dan Barisan Nasional diperkirakan tetap menang dalam pemilu mendatang. (Syarifudin)
(nfl)
Berita Terkait
Berlakukan Lockdown,...
Berlakukan Lockdown, Begini Kondisi Terkini Malaysia
Perayaan HUT Malaysia...
Perayaan HUT Malaysia ke-65
Penampakan Banjir Parah...
Penampakan Banjir Parah yang Merendam Apartemen dan Rumah di Selangor Malaysia
Anwar Ibrahim, Dilantik...
Anwar Ibrahim, Dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia
Polri Cek Akun Penghina...
Polri Cek Akun Penghina Raja Malaysia
Malaysia Umumkan Pembubaran...
Malaysia Umumkan Pembubaran Parlemen, Gelar Pemilu Lebih Cepat
Berita Terkini
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Pangkalan AS di Kuwait Hancur usai Serangan Iran
1 jam yang lalu
Dicecar Apakah Israel...
Dicecar Apakah Israel Memiliki Senjata Nuklir? Ini Jawaban Menlu AS Marco Rubio
1 jam yang lalu
Selain Memaki, Trump...
Selain Memaki, Trump Juga Disebut Ancam Netanyahu via Istrinya atas Rencana Israel di Lebanon
2 jam yang lalu
AS Bohong, Kapal Induk...
AS Bohong, Kapal Induk Gerald R Ford Ternyata Rusak Parah saat Perang Lawan Iran, Ini Buktinya!
2 jam yang lalu
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
3 jam yang lalu
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
4 jam yang lalu
Infografis
9 Negara yang Pernah...
9 Negara yang Pernah Bangkrut karena Utang Menggila
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved